SUBANG — Bagi calon pekerja migran Indonesia yang bersiap meniti karier di Jepang, pelatihan kerja menjadi salah satu bekal penting sebelum memasuki dunia kerja. Namun, kesempatan untuk mengembangkan diri tidak harus berhenti setelah keterampilan kerja dikuasai. Pengalaman belajar selama pelatihan juga berpotensi menjadi pintu menuju pendidikan tinggi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Universitas Terbuka (UT).
Peluang tersebut menjadi salah satu hal yang dijajaki UT melalui kunjungan strategis UT Layanan Luar Negeri (UT LLN) ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Hamaren di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026) Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau kesesuaian kurikulum pelatihan dengan implementasi RPL di UT, sekaligus menjajaki peluang agar kompetensi yang diperoleh calon pekerja migran dapat mendukung perjalanan mereka menuju pendidikan tinggi.
Bagi pendiri sekaligus pimpinan LPK Hamaren, Usman, pengakuan akademik atas pengalaman belajar di lembaganya dapat membuka peluang lebih luas bagi lulusan untuk bekerja di Jepang sambil melanjutkan kuliah melalui sistem pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka (UT). Ia berharap kompetensi yang telah diperoleh selama pelatihan dapat diakui melalui skema RPL sehingga mahasiswa tidak perlu mengulang pembelajaran yang kompetensinya telah dikuasai.
“Harapan kami, pengalaman belajar di LPK Hamaren dapat diakui oleh UT. Sehingga saat mereka bekerja di Jepang sekaligus kuliah, mereka tidak harus mengulang seluruh proses pembelajaran yang kompetensinya telah mereka kuasai,” ujar Usman.
Melalui RPL, pengalaman belajar dan kompetensi yang relevan dapat dinilai untuk memperoleh pengakuan akademik sesuai ketentuan yang berlaku. Mekanisme ini berpotensi membantu mahasiswa menempuh pendidikan tinggi secara lebih efisien, terutama bagi mereka yang perlu membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan perkuliahan.
Upaya memperluas kesempatan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong akses pendidikan yang lebih inklusif dan fleksibel. Melalui pengakuan atas pembelajaran yang telah ditempuh, calon pekerja migran berpeluang mengembangkan kualifikasi akademik tanpa harus mengabaikan pengalaman dan kompetensi yang sudah dimiliki.
Direktur UT Layanan Luar Negeri, Dr. Pardamean Daulay, mengatakan penjajakan dengan LPK Hamaren melanjutkan sinergi yang telah terbangun melalui pembukaan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Hamaren di Hamamatsu, Jepang, sejak 2024. Saat ini, SALUT Hamaren telah melayani sekitar 500 mahasiswa UT yang bekerja di berbagai sektor di Jepang.
Menurut Dr. Pardamean Daulay, keterhubungan antara pelatihan kerja dan pendidikan tinggi penting untuk mendukung pengembangan kapasitas pekerja migran. Mereka tidak hanya membutuhkan keterampilan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik sebagai bekal untuk masa depan.
“Program RPL mempermudah akses bagi calon PMI. Mereka tidak hanya butuh keterampilan kerja, tetapi juga kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik sebagai bekal masa depan,” ungkapnya.
Selain melalui pengakuan kompetensi, dukungan terhadap pendidikan pekerja migran juga dijajaki melalui rencana pemberian beasiswa. Direktur Eksekutif Perkumpulan Purnabakti Kepala Daerah Seluruh Indonesia (Perpukadesi), Dr. Himmatul Hasanah, M.P., yang turut hadir dalam kunjungan tersebut, menyampaikan rencana program beasiswa bagi PMI untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah asal mereka.
Dr. Himmatul Hasanah, M.P., menilai peningkatan kualitas SDM pekerja migran merupakan investasi jangka panjang. Pendidikan dan pengalaman internasional yang diperoleh selama bekerja di luar negeri diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke Indonesia, termasuk untuk merintis usaha mandiri dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kolaborasi UT, LPK Hamaren, dan Perpukadesi diharapkan dapat memperluas peluang calon pekerja migran untuk mengembangkan kompetensi sekaligus melanjutkan pendidikan tinggi. Dengan menghubungkan pelatihan kerja, pengakuan pembelajaran, dan dukungan pendidikan, pengalaman menuju dunia kerja internasional berpotensi menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun masa depan yang lebih baik.



