YOGYAKARTA — Kembali duduk di kursi kuliah setelah bertahun-tahun lulus sarjana tentu terasa berat ketika pekerjaan dan keluarga sudah menyita banyak waktu. Namun, langkah itu tetap bisa dijalani ketika sistem belajarnya mampu menyesuaikan dengan kesibukan. Melalui pembelajaran jarak jauh dapat membuka jalan bagi Imam Toifur guru matematika asal Magelang yang kembali kuliah dan menuntaskan S2 di Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta.
Imam lulus dari Program Magister Pendidikan Matematika UT Yogyakarta dan diwisuda pada Wisuda Periode II Tahun 2026 di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Minggu (18/10/2026). Ia memulai studi sekitar empat tahun lalu, saat berusia 44 tahun, dengan tujuan memperdalam pengetahuan sekaligus meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik. Selama kuliah, ia tetap menjalankan tugas mengajar di SMA Negeri 1 Salaman, Magelang.
Imam memilih Universitas Terbuka (UT) karena sistem pembelajaran jarak jauh memungkinkan dirinya melanjutkan pendidikan tanpa meninggalkan pekerjaan. Menurutnya, kuliah reguler akan menyulitkan pembagian waktu karena jadwal perkuliahan berlangsung pada hari kerja, saat ia harus mengajar. Melalui sistem UT, ia dapat menyeimbangkan tanggung jawab sebagai guru, mahasiswa, dan kepala keluarga.
“Karena memang secara model pembelajarannya itu bisa jarak jauh, waktunya fleksibel, kemudian tidak terbatas waktu maupun tempat maupun usia,” tuturnya.
Sistem belajar yang tidak dibatasi waktu, tempat, dan usia ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Imam menyebut keberhasilannya juga tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama sang istri. Setelah lulus, ia berharap ilmunya bermanfaat bagi kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
“Harapannya, anak-anak itu bisa benar-benar menghargai ilmu, karena yang namanya ilmu memang menjadi kewajiban kita untuk mencari,” katanya.
Pada wisuda ini, UT Yogyakarta melepas 1.635 lulusan. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Universitas Terbuka, Kurnia Endah Riana, menegaskan komitmen UT untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa berkebutuhan khusus.
“Pada saat ini, di masa registrasi 2026 kemarin, Universitas Terbuka melayani lebih dari 650 mahasiswa berkebutuhan khusus,” ungkapnya.
Upaya Universitas Terbuka (UT) dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui sistem pembelajaran yang fleksibel memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang dan lokasi untuk melanjutkan pendidikan, sehingga turut mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Pada akhirnya, perjalanan Imam memperlihatkan bahwa kesempatan belajar tidak harus berhenti ketika seseorang sudah bekerja dan berkeluarga. Melalui pendidikan yang terbuka dan fleksibel, UT berupaya memastikan kesempatan itu tetap terjangkau oleh siapa saja, di tahap kehidupan manapun.



