Kuliah Fleksibel Tanpa Tinggal Pondok, UT Buka Jalan Santri Raih Gelar Sarjana

Di sebuah pondok pesantren di Banyumas, rutinitas santri berjalan seperti biasa—mengaji, belajar, dan menjalani aktivitas harian. Namun kini ada kebiasaan baru yang perlahan jadi bagian dari keseharian. Di sela waktu luang, beberapa santri membuka laptop atau ponsel, membaca modul, lalu berdiskusi lewat kelas online. Dari dalam pondok, mereka diam-diam sedang menapaki jalan menuju gelar sarjana.

Kesempatan itu hadir berkat peran Universitas Terbuka (UT). Melalui UT Purwokerto, akses kuliah kini terbuka luas bagi santri di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, Kota Tegal, Kebumen, hingga Brebes. UT memungkinkan santri tetap mondok tanpa harus menunda keinginan melanjutkan pendidikan tinggi.

Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, santri bisa mengatur sendiri waktu belajarnya. Pagi hingga sore mereka fokus pada kegiatan pesantren, sementara malam atau waktu senggang digunakan untuk kuliah. Materi pembelajaran disediakan dalam bentuk modul digital dan cetak, dilengkapi tutorial online yang membantu mereka tetap memahami materi. Semua dirancang agar tetap terarah meski tanpa tatap muka langsung.

Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., menyebutkan bahwa konsep ini memang menjadi kekuatan UT dalam menjangkau berbagai kalangan. “UT mendukung santri untuk berkembang. Santri tidak perlu meninggalkan pondok. Pendidikan ilmu agama dan ilmu umum bisa berjalan bersama. Inilah kolaborasi pendidikan,” ujarnya.

Cerita para santri ini juga menunjukkan bagaimana teknologi berperan besar dalam proses belajar. Lewat aplikasi Dashboard dan SILAYAR, mereka bisa mengakses layanan akademik dari pondok, mulai dari jadwal kuliah hingga administrasi. Tidak perlu datang ke kampus—semua bisa dilakukan secara daring.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT Purwokerto, Indah Setia Utami, S.E., M.Si., melihat bahwa santri justru punya keunggulan dalam sistem ini. “Mereka terbiasa mengatur waktu. Proses belajar menjadi lebih tertata. Santri bisa menjadi mahasiswa tangguh. Nilai religius dan akademik diharapkan menyatu,” katanya.

Kesempatan ini terbuka bagi siapa saja, tanpa batas usia maupun tahun ijazah. UT juga memberikan fleksibilitas waktu pendaftaran yang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu Mei–Agustus dan November–Februari. Ini memberi ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mulai kuliah kapan saja sesuai kesiapan.

Lebih dari sekadar membuka akses, langkah UT ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas (SDG 4) dan pengurangan kesenjangan (SDG 10). Pendidikan tidak lagi terbatas oleh lokasi atau kondisi, tetapi benar-benar bisa menjangkau semua kalangan.

Kini, di tengah kesederhanaan pondok, para santri menjalani dua peran sekaligus—sebagai pencari ilmu agama dan mahasiswa. Bersama UT, mereka tidak perlu memilih salah satu. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Dan dari sanalah cerita baru pendidikan lahir—pelan, sederhana, tapi pasti. UT hadir bukan hanya sebagai kampus, melainkan sebagai jalan yang membuka lebih banyak kemungkinan bagi siapa saja yang ingin terus belajar, tanpa batas.