Kuliah Tak Harus Tertunda karena Bekerja di Luar Negeri, UT Perkuat Edukasi bagi Calon Pekerja Migran

JAKARTA — Bekerja di luar negeri tidak harus membuat kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi tertunda. Universitas Terbuka melalui Kantor Layanan Luar Negeri (UT LLN) membuka kesempatan bagi para pekerja migran Indonesia (PMI) untuk menjalani perkuliahan sambil bekerja. Hingga 2026, sebanyak 7.881 mahasiswa tercatat mengikuti pendidikan melalui UT LLN dan 2.735 orang telah menyelesaikan studi. Capaian ini menjadi salah satu dasar bagi Universitas Terbuka (UT) untuk memperkuat sosialisasi pendidikan tinggi kepada calon pekerja migran sejak sebelum keberangkatan.

Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan Koordinasi dan Promosi UT LLN bagi pegawai Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) se-DKI Jakarta. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Whiz Poins Simatupang, Jakarta, pada 22–23 Oktober 2026 ini menjadi ruang koordinasi untuk memperluas penyampaian informasi mengenai kesempatan kuliah bagi calon PMI.

Direktur UT Layanan Luar Negeri, Pardamean Daulay, menjelaskan bahwa mahasiswa UT di luar negeri tersebar di sejumlah negara tujuan penempatan pekerja migran, antara lain Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi UT dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), khususnya BP3MI Jakarta, dalam menyosialisasikan akses pendidikan tinggi kepada calon PMI.

“Jumlah mahasiswa Universitas Terbuka di luar negeri sampai hari ini ada sekitar 7.881 orang. Kemudian, jumlah alumni atau lulusan saat ini mencapai 2.735 orang,” ujar Pardamean.

Salah satu jalur penting dalam penyebaran informasi tersebut adalah kegiatan orientasi sebelum keberangkatan. Berdasarkan penelusuran internal UT, sekitar 85 persen mahasiswa dan alumni UT LLN memperoleh informasi mengenai kesempatan kuliah ketika mengikuti orientasi tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa pembekalan sebelum bekerja di luar negeri dapat menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan pilihan pendidikan tinggi kepada calon PMI.

Namun, keterbatasan sumber daya manusia dan kebijakan efisiensi anggaran membuat UT tidak selalu dapat menghadiri seluruh kegiatan orientasi yang diselenggarakan BP3MI. Karena itu, UT berharap pegawai BP3MI dan perwakilan P3MI dapat turut menjadi penghubung informasi pendidikan bagi calon pekerja migran.

“Kami sangat berharap Bapak dan Ibu peserta yang hadir membantu kami memberikan sosialisasi dan edukasi kepada calon pekerja migran Indonesia,” ungkap Pardamean.

Pardamean menegaskan bahwa pendidikan dapat menjadi bekal penting bagi pekerja migran, bukan hanya selama bekerja di luar negeri, tetapi juga untuk membuka peluang pengembangan karier setelah kembali ke Indonesia. Melalui penyebaran informasi yang lebih luas, calon PMI diharapkan dapat mengetahui kesempatan melanjutkan pendidikan sejak awal merencanakan keberangkatan.

Upaya memperluas akses tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendukung kesempatan belajar yang inklusif dan berkelanjutan. Akses terhadap informasi pendidikan sejak sebelum keberangkatan dapat membantu calon pekerja migran mempertimbangkan pendidikan tinggi sebagai bagian dari pengembangan kompetensi dan rencana masa depan mereka.

Kepala BP3MI DKI Jakarta, Kombes Pol. Arman Muis, mengapresiasi inisiatif UT yang mempertemukan unsur pendidikan, pemerintah, dan perusahaan penempatan pekerja migran. Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang bekerja di luar negeri. Ia juga menilai keberhasilan UT LLN meluluskan 2.735 mahasiswa sebagai capaian yang perlu dikembangkan melalui kolaborasi yang lebih luas.

Arman menekankan pentingnya membangun keterhubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja internasional. Peningkatan kualifikasi akademik, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan penguasaan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja global.

“Kita harus mampu membangun jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja secara global,” ujar Arman.

Ia juga menyoroti tiga hal yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja global, penempatan pekerja migran secara aman dan legal, serta tersedianya kesempatan belajar sepanjang hayat. Menurut Arman, pekerja migran tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi juga perlu menguasai keterampilan teknis, bahasa asing, sertifikasi kompetensi, dan karakter profesional.

Bekal tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi pekerja migran untuk meningkatkan jenjang karier dan memperoleh pekerjaan dengan kualifikasi lebih tinggi. Arman mencontohkan, pekerja migran yang berangkat dengan latar belakang pendidikan setingkat sekolah menengah atas berpotensi mengembangkan karier menuju posisi yang membutuhkan kualifikasi lebih tinggi setelah meraih gelar sarjana.

Selain pendidikan, Arman melihat jaringan alumni UT LLN memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komunitas yang mendukung pemberdayaan pekerja migran, termasuk mereka yang telah kembali ke Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan perusahaan penempatan diharapkan tidak berhenti setelah pekerja migran menyelesaikan pendidikan, tetapi berlanjut hingga pendidikan tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan dan kesejahteraan mereka.

“Jadi, saya rasa bukan hanya kita berbicara tentang akademisi, tetapi kita berbicara tentang pemberdayaan,” ujarnya.

Arman juga berharap kerja sama tersebut dapat ditindaklanjuti melalui pembentukan Migran Center di UT. Gagasan ini diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi pekerja migran melalui sinergi antara pendidikan, layanan, dan pemberdayaan.

Melalui koordinasi dan promosi bersama BP3MI serta P3MI, UT mendorong agar informasi mengenai pendidikan tinggi dapat menjangkau lebih banyak calon pekerja migran sejak sebelum keberangkatan. Dengan demikian, kesempatan kuliah sambil bekerja di luar negeri dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas peluang karier, dan mempersiapkan masa depan setelah kembali ke Tanah Air.