Menanam Mangrove, Merawat Masa Depan: Kolaborasi UT Mempawah dan Akar Tanjung Lestari

MEMPAWAH — Menjaga pesisir tak cukup hanya dengan menyadari pentingnya lingkungan. Dibutuhkan aksi nyata dan kolaborasi agar alam tetap terjaga untuk generasi mendatang. Semangat inilah yang diwujudkan Universitas Terbuka (UT) melalui SALUT Mempawah bersama Akar Tanjung Lestari melalui kegiatan penanaman mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, Minggu (18/10/2026). Tak sekadar menanam pohon, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal lebih dekat pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat edukasi mengenai pelestarian mangrove. Melalui aksi langsung di lapangan, mahasiswa dan masyarakat saling bertukar pengetahuan. Mahasiswa berbagi pemahaman tentang peran mangrove dalam melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi, sementara masyarakat menyampaikan pengalaman mereka menghadapi persoalan lingkungan serta berbagai upaya pelestarian yang telah dilakukan di wilayah setempat.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pengetahuan akademis dan pengalaman masyarakat dapat saling melengkapi. Ketua Akar Tanjung Lestari, Muhammad Iqbal, menilai kegiatan ini sebagai langkah positif untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove di kawasan pesisir.

“Menurut saya, kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon mangrove, tetapi juga menjadi ruang untuk saling berbagi ilmu dan edukasi antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa hadir membawa pengetahuan akademis, sementara masyarakat memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan di wilayah pesisir,” ujar Muhammad Iqbal.

Dari Menanam Menuju Merawat Pesisir

Lebih dari sekadar aksi penanaman, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat nyata ketika diterapkan langsung di tengah masyarakat. Muhammad Iqbal menegaskan, kehadiran mahasiswa sebaiknya tidak berhenti pada pelaksanaan program akademik, tetapi dilanjutkan dengan edukasi, pendampingan, dan aksi yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Semangat tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di bangku perkuliahan, tetapi juga belajar menerapkannya untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dengan begitu, pengalaman lapangan menjadi bagian penting dari proses belajar sekaligus pengabdian.

Namun, upaya menjaga lingkungan pesisir tentu tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Menurut Muhammad Iqbal, persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen, mulai dari perguruan tinggi, organisasi masyarakat, generasi muda, hingga masyarakat setempat. Karena itu, kolaborasi yang berkelanjutan diperlukan agar pelestarian mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Kerja sama lintas pihak tersebut mencerminkan semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Di saat yang sama, upaya menjaga dan merawat mangrove turut mendukung SDGs 14 tentang Ekosistem Lautan, terutama dalam menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir. Artinya, keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh komitmen bersama untuk merawatnya.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada penanaman mangrove saja. Harus ada keberlanjutan, perawatan, dan kesadaran bersama untuk menjaga pohon yang telah ditanam,” tambahnya.

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa menanam mangrove hanyalah langkah awal dari upaya panjang menjaga lingkungan. Melalui kegiatan ini, SALUT Mempawah dan Akar Tanjung Lestari diharapkan terus memperkuat sinergi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, menumbuhkan kepedulian lingkungan, dan mendorong generasi muda terlibat aktif dalam pelestarian pesisir. Sebab, manfaat mangrove tidak berhenti pada hari penanaman, tetapi tumbuh bersama komitmen untuk merawatnya—demi melindungi pesisir, menjaga kehidupan, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.