TANGERANG SELATAN – Bisakah Indonesia menjadi negara yang menciptakan teknologi sendiri, bukan sekadar menggunakannya? Pertanyaan ini menjadi salah satu tantangan besar dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Jawabannya tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kekuatan riset, keberanian berinovasi, dan kemampuan perguruan tinggi mengubah pengetahuan menjadi solusi. Semangat itulah yang hadir dalam The 6th International Seminar of Science and Technology (ISST) 2026 yang diselenggarakan Universitas Terbuka (UT) bersama SEMIRATA BKS-PTN Barat pada 12–13 Oktober 2026 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) MIPAnet sekaligus pembicara utama, Dr. Berry Juliandi, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa penguasaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) merupakan landasan penting bagi kemandirian bangsa. Investasi pada sains, menurutnya, bukan sekadar pengeluaran anggaran, melainkan upaya memperkuat kedaulatan teknologi, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Penguatan kapasitas sains dan teknologi ini juga menjadi bagian penting dari upaya mendorong inovasi serta membangun infrastruktur pengetahuan yang mendukung pembangunan berkelanjutan, sebagaimana tercermin dalam SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Gagasan tersebut menjadi relevan ketika riset dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, mulai dari keberlanjutan lingkungan hingga pengelolaan sumber daya alam. Mengusung tema “Advancing Science and Technology for Sustainable Environment and Resource Management”, ISST 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa untuk menjajaki pendekatan ilmiah yang dapat menjawab persoalan tersebut melalui empat subtema.
Keempatnya mencakup pengembangan sains terapan untuk pembangunan berkelanjutan dan tantangan lingkungan; pemanfaatan teknologi cerdas untuk pemantauan lingkungan dan sistem berkelanjutan; pertanian berkelanjutan serta inovasi pengolahan industri pangan; dan perencanaan tata ruang serta pengelolaan lingkungan untuk membangun masyarakat yang tangguh. Cakupan ini mempertemukan berbagai disiplin ilmu, membuka peluang bagi peneliti untuk bertukar pendekatan dan mengembangkan solusi secara lintas bidang.
Sejalan dengan semangat kolaborasi tersebut, Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam sambutannya melalui video, menyampaikan bahwa penyelenggaraan ISST 2026 menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-42 UT. Momentum ini sekaligus memperkuat komitmen UT dalam membuka ruang pertukaran pengetahuan dan memperluas jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional.
Semangat kolaborasi itu juga berkaitan erat dengan peran perguruan tinggi dalam memastikan ilmu pengetahuan tidak terpisah dari kebutuhan masyarakat. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT, Prof. Dr. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., menegaskan bahwa kampus tidak boleh menjadi menara gading. Penelitian perlu diarahkan agar menghasilkan manfaat, bukan berhenti pada pencapaian akademik semata.
“Riset itu bukan untuk promosi, riset itu harus berdampak,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan Wakil Ketua BKS-PTN Barat Bidang MIPA, Dr. Eng. Heri Satria, S.Si., M.Si., mengenai pentingnya kerja sama yang menghasilkan tindak lanjut konkret. Perguruan tinggi, menurutnya, perlu menghubungkan kekuatan masing-masing, berbagi sumber daya, dan mengembangkan hasil penelitian agar dapat diterapkan. Kolaborasi i menjadi salah satu wujud SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, mengingat persoalan pembangunan berkelanjutan membutuhkan pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan keahlian dari berbagai pihak.
Luasnya ruang pertukaran tersebut tercermin dari keterlibatan peserta lintas negara yakni Indonesia, Malaysia, Pakistan, Aljazair, dan Singapura yang terdiri dari 117 presenter dan 186 peserta nonpresenter. Empat pembicara internasional juga turut hadir, berasal dari Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Thailand. Keberadaan mereka dalam mengisi sesi pleno semakin memperkaya perspektif yang dibawa ke dalam forum.
Keterlibatan mahasiswa pun menjadi bagian penting dari rangkaian ilmiah ini. Sebanyak 31 poster penelitian terpilih sebagai finalis Student Research Poster Competition dalam empat subtema. Karya mereka dipamerkan selama kegiatan berlangsung, berdampingan dengan agenda presentasi penelitian para akademisi. Keterlibatan tersebut turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam memperkuat pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan budaya akademik yang mendorong mahasiswa berpartisipasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, SEMIRATA BKS-PTN Barat Bidang MIPA mempertemukan 113 peserta dari 20 perguruan tinggi untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama antarkampus, termasuk dalam pembahasan hilirisasi hasil penelitian dan penjaminan mutu akademik.
Melalui ISST dan SEMIRATA 2026, UT mendorong terbangunnya ekosistem riset yang terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Upaya ini mempertemukan penguatan pendidikan, pengembangan inovasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemitraan lintas institusi dalam satu rangkaian kegiatan ilmiah. Pada akhirnya, kemajuan sains Indonesia tidak hanya ditentukan oleh penemuan baru, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan pengetahuan, mempertemukan keahlian, dan mengubah gagasan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.


