TANGERANG SELATAN – Bagi sebagian orang, 856.444 mungkin hanya sebuah angka. Bagi Universitas Terbuka (UT), angka itu merepresentasikan ratusan ribu orang yang memilih menempuh pendidikan tinggi di tengah pekerjaan, keluarga, jarak, dan kehidupan yang terus berjalan.
Di dalamnya, terdapat 180.125 mahasiswa baru yang pada 2026 memulai perjalanan akademiknya bersama UT. Angka tersebut bukan sekadar capaian pertumbuhan, tetapi juga menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Semakin banyak masyarakat yang memilih UT, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijawab. Pertumbuhan mahasiswa perlu berjalan bersama peningkatan kualitas, agar akses pendidikan yang semakin luas benar-benar menghadirkan manfaat bagi mereka yang menjalaninya.
Semangat tersebut menjadi salah satu benang merah Rapat Koordinasi Terbatas dan Tasyakuran Tahun 2026 bertajuk “UT Berkualitas dan Berdampak” yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Senin (24/8/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum satu tahun kepemimpinan Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., untuk melihat capaian yang telah dilalui dan menyiapkan langkah berikutnya.
“Spesial karena 1 tahun kepemimpinan. Penanda keberhasilan yang sudah kita lakukan sampai dengan hari ini,” ujar Prof. Ali.
856.444 Mahasiswa, Tantangan UT Makin Besar
Pertumbuhan mahasiswa menjadi salah satu gambaran paling nyata dari perjalanan UT. Jumlah mahasiswa bayar meningkat dari 412.697 pada 2022 menjadi 525.419 pada 2023, 671.967 pada 2024, 768.248 pada 2025, hingga mencapai 856.444 mahasiswa pada 2026. Sementara itu, jumlah mahasiswa baru pada tahun ini mencapai 180.125 orang.
Namun, angka sebesar itu sekaligus melahirkan tantangan baru: bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut diikuti kualitas yang mampu menjawab kebutuhan ratusan ribu mahasiswa?


Bagi Prof. Ali, jawabannya harus dimulai dari inti perguruan tinggi itu sendiri, yakni akademik. Karena itu, kehadiran para kepala program studi dalam Rakortas menjadi penting untuk menata dan memastikan kembali bahwa akademik menjadi pusat dari seluruh gerak UT.
“Menata ulang dan memastikan kembali, bahwa akademik adalah produk inti kita,” kata Prof. Ali.
Dari kebutuhan tersebut, berbagai agenda continuous improvement dikembangkan untuk mengikuti skala layanan yang semakin besar. Pada proses registrasi, UT memperkuat sistem layanan terintegrasi, standar waktu pelayanan melalui Service Level Agreement (SLA), hingga Admissions Nurturing System melalui pengingat WhatsApp dan pendampingan registrasi mata kuliah. Mekanisme pembatalan, revisi registrasi, dan rekonsiliasi data juga terus dibenahi dengan memperkuat peran program studi dan UT Daerah.
Setelah mahasiswa terhubung dengan layanan akademik, perhatian berlanjut pada pengalaman belajar. Tutorial Online (Tuton) mencatat pertumbuhan jumlah kelas sebesar 7,6 persen dan registrasi mata kuliah sebesar 4,2 persen, sementara jumlah tutor meningkat 22,7 persen sehingga rasio tutor terhadap kelas Tuton membaik dari sekitar 1:3 menjadi 1:2,7.
Penguatan kemudian bergerak ke kualitas pembelajaran melalui learning analytics, integrasi LMS dengan sistem ujian dan LENTERA, pembukaan LMS sepanjang masa, serta pengembangan tutor dan mahasiswa berbasis AI. Pada penyelenggaraan ujian, UT juga mengembangkan automated online proctoring yang lebih ramah pengguna, mobile proctoring, peningkatan kualitas butir soal, sistem ujian berbasis moduler, serta integrasi ujian reguler dan remedial.
Pertumbuhan layanan juga menuntut pengelolaan sumber daya yang semakin efisien. Dalam distribusi bahan ajar, model pengadaan terintegrasi yang dipaparkan dalam Rakortas mencatat biaya rata-rata sekitar Rp52.336 per eksemplar, dibandingkan sekitar Rp105.509 pada model sebelumnya jika seluruh komponen biaya diperhitungkan, atau sekitar 50,4 persen lebih efisien.
Dari Pendidikan Jarak Jauh, Dampak Diperluas
Namun, sistem yang semakin baik tetap membutuhkan manusia yang mampu menggerakkannya. Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari perjalanan UT, mulai dari peningkatan kompetensi hingga pengembangan kapasitas dan kesejahteraan.
Sepanjang 25 Agustus 2025 hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 517 dosen telah bersertifikasi dengan tingkat keberhasilan pengajuan sertifikasi mencapai 97,4 persen. Sebanyak 39 dosen mengikuti seminar atau konferensi internasional di 12 negara, 114 pegawai aktif menjalani studi lanjut, dan 79 kegiatan pelatihan dilaksanakan.
Penguatan tersebut juga menyentuh ekosistem kerja. Sebanyak 5.839 jiwa terlindungi jaminan kesehatan, 84 kenaikan pangkat diproses melalui SIASN, dan flexible working arrangement difasilitasi melalui SISMA. Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kualitas, daya saing global, sekaligus kesejahteraan SDM UT.
Di tingkat kelembagaan, UT juga memperkuat fondasi agar pertumbuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan sebagai PTNBH. Pengembangan layanan melalui Klinik UT, Training & Certification Institute, MICE Hospitality, dan IT Solution diarahkan antara lain untuk memperkuat pendapatan non-UKT dan ketahanan finansial universitas.
Bersamaan dengan itu, pengembangan UT Daerah, penataan SALUT, investasi teknologi informasi, pengembangan ICE, dan pemanfaatan dana abadi menjadi bagian dari agenda strategis ke depan. Seluruhnya disiapkan untuk memperkuat kapasitas UT dalam menjalankan mandat pendidikan tinggi dengan jangkauan yang semakin luas.
Namun, di tengah berbagai perubahan tersebut, ada satu hal yang tidak boleh bergeser: identitas UT sebagai perguruan tinggi negeri dengan kekhasan pendidikan jarak jauh (PJJ).
“Mengubah cara kerja, beroperasi, cara pandang, tapi tetap berlandaskan PJJ. Kita adalah PTN yang berbeda dan UT adalah pendidikan jarak jauh. Keunikan kekhasan UT modal dasar untuk bertumbuh dan berkembang.”” ujar Prof. Ali.
Kekhasan itu sekaligus membuat perjalanan UT belum selesai. Masih banyak wilayah Indonesia yang membutuhkan akses pendidikan tinggi, sehingga UT harus bergerak lebih cepat, lebih masif, dengan kualitas terbaik, efisien, dan terukur.
Di titik tersebut, pertumbuhan UT bertemu dengan makna dampak. Perluasan akses sekaligus penguatan kualitas pendidikan memperkuat kontribusi UT terhadap SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, terutama dalam membuka kesempatan belajar yang inklusif bagi masyarakat lintas wilayah.
Bagi Ali, capaian satu tahun kepemimpinan pun tidak boleh dipandang sebagai akhir dari sebuah periode.
“Keberhasilan bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan tapi menjadi sebuah progress keberlanjutan,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan lima bekal yang perlu dimiliki seorang pemimpin: kompetensi, akseptabilitas, integritas, loyalitas, dan kemampuan prioritas.
Pada akhirnya, 856.444 mahasiswa dan 180.125 mahasiswa baru bukan sekadar angka. Di baliknya ada orang yang bekerja sambil belajar, keluarga yang memperjuangkan pendidikan, dan masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia yang sedang mencari kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Karena itu, pekerjaan UT ke depan bukan hanya bagaimana menjadi lebih besar. Tantangannya adalah memastikan setiap pertumbuhan menghadirkan kualitas yang semakin baik dan kesempatan yang semakin berarti. Sebab, ketika jarak tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti belajar, ukuran keberhasilan UT bukan hanya seberapa banyak masyarakat yang berhasil dijangkau, tetapi seberapa besar pendidikan mampu membuka kesempatan bagi mereka untuk melangkah lebih jauh dari titik mereka memulai.


