Tangerang Selatan — Bagaimana sebuah universitas merancang masa depannya? Di Universitas Terbuka (UT), jawabannya dimulai dari meja perencanaan. Melalui Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Anggaran Tahun Anggaran 2027, yang digelar secara hybrid pada Kamis (5/3/2026) di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), UT Pusat, serta diikuti peserta secara daring melalui Zoom Meeting, UT mulai menyusun arah program dan anggaran untuk memastikan pendidikan jarak jauh yang semakin berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.
Kegiatan ini mengangkat tema “Optimalisasi Perencanaan dan Anggaran Berorientasi Dampak bagi Penguatan Ekosistem Pembelajaran Digital.” Rakernas menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kebijakan, program, dan penganggaran agar seluruh sumber daya institusi mendukung target strategis universitas.
Sebanyak 68 unit kerja di lingkungan Universitas Terbuka, baik dari UT Pusat maupun UT Daerah di seluruh Indonesia, terlibat dalam kegiatan ini. Prosesnya tidak berhenti pada pembukaan saja, tetapi berlanjut pada penyusunan dokumen rencana anggaran, pra-reviu, finalisasi hasil reviu, hingga penutupan Rakernas yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.

Pembukaan Rakernas dihadiri secara langsung oleh pimpinan universitas, mulai dari Rektor, Prof. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., Ketua Senat Akademik Universitas, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si., Ketua Majelis Wali Amanat, Prof. Ainun Na’im, Ph.D., para Wakil Rektor, Sekretaris Universitas, para dekan, direktur sekolah, hingga pimpinan unit kerja lainnya. Sementara itu, peserta daring terdiri dari Direktur UT Daerah dan manajer bidang keuangan, sumber daya, dan umum dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam laporan pembukaannya, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum UT, Dr. Adrian Sutawijaya, menyampaikan bahwa universitas saat ini menghadapi dinamika pengelolaan anggaran yang semakin kompleks.
Di satu sisi, kebutuhan untuk meningkatkan mutu layanan akademik serta memperkuat ekosistem pembelajaran digital terus meningkat. Di sisi lain, universitas juga perlu semakin cermat dalam menyusun prioritas dan pengelolaan belanja.
Karena itu, menurut Adrian, perencanaan anggaran tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai kebutuhan masing-masing unit kerja.
“Anggaran harus kita lihat sebagai instrumen strategis untuk mencapai sasaran institusional yang menyeluruh, berkelanjutan, dan terukur,” ujarnya.
Ia menambahkan, Rakernas ini menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa setiap program yang diusulkan benar-benar selaras dengan sasaran strategis universitas, indikator kinerja utama, serta arah kebijakan yang telah ditetapkan dalam rencana strategis UT.
Untuk memperkuat pengelolaan tersebut, UT juga terus menerapkan prinsip 5E—efektif, efisien, ekonomis, etis, dan equity—sebagai pendekatan evaluatif dalam menilai apakah anggaran yang disusun benar-benar memberikan nilai tambah bagi institusi.
Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ali Muktiyanto, menegaskan bahwa seluruh program dan belanja universitas harus berkontribusi langsung terhadap visi UT sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh berkualitas dunia melalui penguatan Digital Learning Ecosystem.
“Anggaran universitas tidak boleh sekadar terserap, tetapi harus menghasilkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas layanan pembelajaran digital dan pencapaian target strategis universitas,” tegasnya.
Menurut Ali, UT saat ini tengah berada pada tahap penting untuk memperkuat fondasi organisasi sebelum memasuki fase akselerasi pertumbuhan dan strategi global. Beberapa fokus utama yang akan diperkuat melalui perencanaan anggaran ke depan antara lain peningkatan kapabilitas organisasi, penguatan teknologi dan kurikulum, pengembangan sumber daya manusia, serta internasionalisasi program studi.
UT juga terus mendorong pengembangan berbagai inovasi pembelajaran, termasuk program microcredential, peningkatan kolaborasi internasional, hingga pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan.

Langkah ini sejalan dengan komitmen UT dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 16 mengenai tata kelola institusi yang transparan dan akuntabel.
Lebih dari sekadar forum perencanaan anggaran, Rakernas ini menjadi ruang bagi seluruh unit di lingkungan UT untuk menyamakan langkah. Sebab di balik setiap angka yang disusun, tersimpan tujuan yang lebih besar: memastikan pendidikan tinggi yang terbuka, fleksibel, dan berkualitas dapat menjangkau masyarakat seluas-luasnya.
Bagi Universitas Terbuka, perencanaan anggaran pada akhirnya bukan hanya tentang menghitung kebutuhan hari ini—melainkan tentang merancang dampak pendidikan bagi masa depan.



