Kediri-13 Juli 2024—Pemerintah bersama Universitas Terbuka (UT) kembali menghadirkan terobosan dalam pemerataan akses pendidikan tinggi berbasis digital. Salah satu langkah strategis diwujudkan lewat peresmian Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) berbasis pesantren di Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Al Falaq, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Prof. Dr. Pratikno, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan pendidikan tinggi yang dapat diakses tanpa harus meninggalkan lingkungan pesantren.

Dalam acara tersebut, Menko PMK RI menegaskan pentingnya menghadirkan sistem pendidikan tinggi berbasis teknologi yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas pesantren. Menurutnya, UT melalui model pembelajaran jarak jauh telah menghadirkan solusi konkret bagi santri untuk memperoleh pendidikan tinggi secara fleksibel, tanpa mengganggu aktivitas keagamaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di pesantren. “Santri yang sulit keluar dari rutinitas pesantren kini punya akses yang lebih mudah karena UT hadir, berkolaborasi, dan menawarkan solusi,” ujar Pratikno.
Beliau menyebut kolaborasi antara UT dan pesantren sebagai perjodohan besar dalam dunia pendidikan abad ini. “Pesantren punya basis pendidikan dan karakter kuat, sementara UT merupakan perguruan tinggi terbuka terbesar di Indonesia. Ini merupakan langkah perjodohan paling akbar abad ini dalam dunia pendidikan,” tambahnya.
Model pembelajaran fleksibel dan digital yang ditawarkan UT dinilai sangat relevan dengan kebutuhan zaman, terutama untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan sistem belajar yang bisa menyesuaikan dengan kondisi mereka. Para santri kini tidak perlu lagi memilih antara belajar agama atau menempuh pendidikan tinggi, karena UT memungkinkan keduanya berjalan beriringan dalam satu ekosistem.
Acara peresmian juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UT Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D. mewakili Rektor UT, serta pejabat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), para deputi bidang pendidikan, dan jajaran pimpinan dari UT Malang. Direktur UT Malang, Dr. Lilik Sulistyowati, M.Si., menyampaikan bahwa UT siap mendampingi dan memastikan ekosistem pembelajaran digital berjalan optimal di lingkungan pesantren. SALUT Al-Falah Ploso ini adalah bagian dari layanan UT Malang yang mencakup 13 kabupaten/kota di wilayah Jawa Timur, dan ke depan, akan diperkuat melalui dukungan teknologi serta pelatihan bagi pengelola lokal.
Selain meresmikan SALUT Ploso, UT juga meluncurkan enam titik SALUT baru yang tersebar di berbagai pesantren lainnya, yaitu SALUT Anak Bangsa di Nganjuk, SALUT Bina Insan Cendikia di Tulungagung, SALUT Nurul Haromain di Pujon Malang, serta tiga SALUT lainnya di Kediri, yakni Lumanjada Darussalam, HQ, dan Assakur. Ekspansi ini semakin menegaskan komitmen UT dalam memperluas daya jangkau layanan pendidikan tinggi hingga ke komunitas-komunitas keagamaan yang selama ini belum banyak tersentuh sistem pembelajaran daring formal.

“Kami bekerja sama dengan SALUT Al Huda, yang telah menjadi SALUT Kota Kediri dan sangat mumpuni dalam bersinergi dengan berbagai pesantren. Ini sangat membantu UT Malang dalam memperluas akses kuliah fleksibel bagi santri,” jelas Dr. Lilik. Ia juga menegaskan bahwa meski UT menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh, mutu pendidikannya tetap terjaga dan telah diakui secara nasional maupun internasional. “Kami ingin masyarakat tahu bahwa kuliah di UT bukan pilihan kedua, melainkan pilihan strategis di era digital,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini, turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara UT dan pimpinan pondok pesantren, menandai komitmen bersama dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis komunitas. UT juga memberikan bantuan pendidikan bagi santri penghafal 30 juz sebagai bentuk nyata dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia santri yang unggul secara moral maupun akademik.
Menutup acara, Menko PMK menyampaikan harapan besar agar program kolaboratif ini terus dikawal oleh para pengasuh pondok, tidak hanya sebagai fasilitator belajar, tetapi juga sebagai penjaga mutu dan karakter lulusan UT. Beliau meyakini, sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan tinggi, dan komunitas keagamaan akan menghasilkan generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, kuat secara spiritual, dan berdaya saing tinggi. “Ini adalah cara kita membangun bangsa dari semua penjuru, termasuk dari pesantren, “ pungkasnya.
Dengan diresmikannya SALUT berbasis pesantren ini, Universitas Terbuka menegaskan kembali perannya sebagai pelopor pendidikan tinggi jarak jauh yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. UT terus memperkuat inovasi dan inklusivitas untuk menjangkau mereka yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan tinggi formal. Bagi para santri, ini adalah peluang emas untuk menimba ilmu akademik dan keagamaan secara seimbang. Bagi Indonesia, ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk generasi unggul yang berdampak nyata.



