Universitas Terbuka (UT) kian mantap melangkah menuju panggung pendidikan dunia. Dengan inovasi yang tak henti dilakukan, kampus pelopor pendidikan jarak jauh ini menjadikan teknologi sebagai pintu utama untuk menghadirkan masa depan ke masa kini. Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam wawancara eksklusif bersama Pos Kupang pada Senin (22/9/2025), menegaskan bahwa UT tidak hanya memberi kesempatan kuliah bagi masyarakat, tapi juga sedang menyiapkan ekosistem belajar digital yang inklusif dan mendunia.
Sejak berdiri pada 4 September 1984, UT telah menjadi jawaban atas keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri di Indonesia. Berawal dari sistem korespondensi dengan modul cetak sederhana, UT kini menjelma menjadi perguruan tinggi modern dengan layanan berbasis digital. Di usianya yang ke-41 tahun, UT mengelola lebih dari 50 program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus menyokong cita-cita Indonesia Emas 2045.
Perjalanan UT bukan sekadar tentang jumlah mahasiswa, tetapi tentang seberapa luas akses pendidikan bisa dijangkau. Saat ini, mahasiswa aktif UT lebih dari 760 ribu orang, sementara jumlah alumni menembus 2,5 juta orang. Skala ini menjadikan UT sebagai salah satu universitas dengan populasi terbesar di dunia.
UT juga telah memiliki sistem learning management yang mumpuni, mahasiswa bisa belajar dari mana saja dengan standar mutu yang sama. “Budaya mutu di UT sudah mendarah daging dan saya bisa pastikan kualitas mahasiswa kita di ujung Timur dengan Barat itu sama” ujar Prof Ali.
Selain itu, Tutorial UT kini tersedia baik secara luring maupun daring, ujian bisa dilakukan dengan sistem automatic online proctoring, sementara bahan ajar digital interaktif melengkapi pengalaman belajar jarak jauh yang lebih fleksibel.
Di tingkat global, UT tidak hanya diakui, tetapi juga dipercaya. Kampus ini secara rutin memperoleh sertifikasi dari International Council for Distance Education (ICDE) serta menjadi universitas jarak jauh pertama di Asia yang meraih akreditasi asosiasi perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh. Kini UT bahkan dipercaya memimpin asosiasi tersebut sebagai presidensi sekaligus sekretariat.
Jangkauan UT pun merambah lintas negara. Saat ini, mahasiswa UT tersebar di 56 negara, mayoritas merupakan diaspora Indonesia dan pekerja migran yang tetap haus akan ilmu. Bahkan, UT mulai membuka diri untuk mahasiswa asing, seperti di Timor Leste melalui UT Kupang yang sudah menerima sekitar 100 mahasiswa baru. Kerja sama internasional juga diperluas ke Asia, Eropa, hingga negara-negara ASEAN dengan fokus pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Langkah strategis ini turut menjadi salah satu komitmen UT mendukung tujuan pembangunan berkesinambungan khususnya Pendidikan Berkualitas (SDG 4) dan Pengurangan ketimpanngan (SDG 10) yakni dengan menghadirkan akses pendidikan tinggi yang inklusif dan fleksibel melalui teknologi digital, UT membuka peluang belajar bagi masyarakat yang selama ini terkendala jarak, waktu, maupun kondisi ekonomi.
Lebih jauh, UT sedang menyiapkan pembelajaran yang semakin personal. Bukan lagi mahasiswa yang datang ke kampus, melainkan kampus yang hadir ke kehidupan mahasiswa—bahkan, seperti diungkap Prof. Ali, “hingga ke relung hatinya.” Dengan semangat inovasi yang tak kenal henti, UT terus membuktikan diri sebagai universitas yang terbuka bagi semua, mendobrak batas ruang, waktu, dan jarak.



