Belajar Tanpa Harus Berhenti Bekerja, Jalan Bariah Menuju Gelar Sarjana

Tak semua orang sampai ke podium wisuda melalui jalur yang sama. Ada yang melangkah dari bangku sekolah unggulan, ada pula yang harus memulainya dari dapur rumah orang lain. Bariah ada di jalur kedua. Penyandang disabilitas daksa asal Palembang ini pernah merasakan hidup sebagai asisten rumah tangga, dihantui keraguan orang sekitar, bahkan sempat meragukan dirinya sendiri. Namun pada Minggu (1/2/2026), langkahnya berhenti di satu titik penting: ia resmi menyandang gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Terbuka.

Momen itu terasa personal. Bukan hanya soal ijazah, melainkan tentang pembuktian. “Pengalaman-pengalaman sebelumnya cukup membekas, dan hari ini menjadi pembuktian bagi saya bahwa saya mampu menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana, meskipun dengan berbagai keterbatasan yang ada,” ,” kata Bariah usai mengikuti Wisuda UT Periode I Tahun 2026 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan.

Sejak kecil, hidup tak memberi banyak pilihan bagi Bariah. Tanpa orang tua, ia mengandalkan beasiswa untuk menuntaskan pendidikan dasar di kampung halamannya. Prestasinya cukup baik, tetapi kondisi ekonomi nyaris memutus langkahnya saat akan masuk SMA. Dukungan wali murid menjadi penopang terakhir. Untuk bertahan, Bariah menjajakan gorengan milik tetangganya setiap jam istirahat, berkeliling dari kelas ke kelas demi uang saku.

“Itu alhamdulillah lancar sekolah, cuman saya dapat beasiswa juga, karena ga ada orang tua jadi kendala biaya,” tuturnya.

Selepas SMA, realitas kembali mengetuk keras. Bariah bekerja sebagai ART dengan gaji pertama Rp 600.000 per bulan. Jumlah yang sederhana, tetapi penuh makna. “Itu Rp 600.000 saya udah seneng banget. Itu gaji pertama saya cari duit. Karena saya berdoanya, apa ada ya orang yang bisa nerima saya kerja,” katanya. Doa itu, menurutnya, terjawab pada bulan Ramadan—sebuah fase yang hingga kini ia ingat sebagai titik awal keberanian.

Keinginan memperbaiki hidup membawanya merantau ke Depok. Gajinya meningkat, hingga akhirnya ia diterima bekerja di sebuah Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital (LSPTD). Di tempat kerja inilah Bariah menemukan lingkungan yang tidak hanya menerima, tetapi juga percaya. Dorongan untuk kuliah datang dari atasannya, bahkan disertai subsidi dan pelatihan komputer agar ia mampu mengikuti perkuliahan.

“Alhamdulillah tuh bos saya ngedukung saya… ikut pelatihan komputer, ikut pelatihan apa. Jadi saya ikut pelatihan, akhirnya bos saya yang fasilitasi semua,” ujarnya.

Pilihan Bariah jatuh pada Universitas Terbuka. Bukan tanpa alasan. Sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh memungkinkan ia tetap bekerja, tetap mandiri, tanpa harus terikat ruang kelas fisik dan biaya tinggi. “Kalau kampus lain kayaknya saya nggak sanggup. Biaya beda, terus harus datang ke kelas. UT itu fleksibel banget,” katanya.

Bagi Bariah, kuliah daring juga memberi rasa aman. Pengalaman dibully di masa lalu membuatnya lebih nyaman belajar tanpa tekanan sosial. “Aduh, kalau pembully-an sering ya. Cuma saya udah kebal sih,” ujarnya singkat, seolah menutup luka lama yang kini perlahan sembuh.

Pendidikan kemudian mengubah arah hidupnya secara nyata. Status pekerjaannya meningkat, pola pikirnya berubah, dan ke depan ia diproyeksikan naik jabatan sebagai asesor sertifikasi. “Pendidikan itu ngubah pola pikir saya. Dulu kalau ada masalah, emosi. Sekarang lebih tenang, bisa mikir solusi,” katanya.

Kisah Bariah menjadi potret bagaimana Universitas Terbuka membuka akses pendidikan berkualitas tanpa batas—bagi pekerja, penyandang disabilitas, hingga mereka yang berada di lapisan sosial paling bawah. Nilai ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, yang menekankan kesetaraan kesempatan bagi semua.

Di akhir perjalanannya, Bariah tidak menawarkan motivasi bombastis. Pesannya sederhana, jujur, dan lahir dari pengalaman hidup. “Nggak ada kata terlambat buat belajar. Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang,” tegasnya. Dari dapur ke ruang wisuda, dari ART ke sarjana—kisah Bariah adalah pengingat bahwa ketika pendidikan benar-benar terbuka, masa depan pun ikut terbuka.