Tangerang Selatan, 04 Agustus 2026 – Apa jadinya ketika seseorang yang telah berusia 62 tahun, pernah berkarier sebagai perawat dan akuntan, bahkan sudah menyandang gelar magister, memutuskan kembali menjadi mahasiswa? Bagi Josrin Glover Sihotang, jawabannya sederhana: belajar tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Alih-alih berhenti menambah ilmu di usia senja, Josrin justru mengambil tantangan baru. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Hukum Universitas Terbuka (UT) Bandar Lampung. Di tengah aktivitasnya sebagai freelance konsultan untuk rumah sakit, ia memilih kembali ke bangku kuliah karena menemukan berbagai persoalan hukum dalam pekerjaannya yang ingin ia pahami lebih dalam.
Dari pengalaman itulah, keputusan Josrin untuk kuliah kembali menemukan alasannya. Ia kerap berhadapan dengan persoalan yang berkaitan dengan hukum saat memberikan konsultasi di rumah sakit. Keinginan untuk memahami persoalan tersebut secara lebih komprehensif akhirnya membawanya memilih S1 Ilmu Hukum di UT.
Semangat Josrin kemudian menjadi salah satu kisah yang menarik perhatian dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), Klinik Ujian (KU), dan Workshop Tugas (WT) Tahap II yang digelar di Aula UT Bandar Lampung, Minggu (2/8/2026).
Bukan sekadar mengikuti kegiatan orientasi, kehadiran Josrin juga menjadi gambaran bahwa kesempatan mengenyam pendidikan tinggi memang tidak mengenal batas usia. Pesan itulah yang turut menguatkan komitmen UT dalam menyediakan layanan pendidikan berkualitas yang dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Mewakili Direktur UT Bandar Lampung, Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Alumni UT Bandar Lampung Dr. Welli Yuliatmoko, S.TP., M.Si., menegaskan bahwa OSMB menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT.
Untuk membekali mahasiswa menghadapi pola perkuliahan tersebut, UT Bandar Lampung pun tidak hanya memperkenalkan sistem belajar, tetapi juga berbagai layanan yang akan menunjang perjalanan akademik mahasiswa. Sebanyak 401 mahasiswa baru dari berbagai program studi, baik berbasis Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) maupun mahasiswa mandiri, mengikuti OSMB dan PKBJJ Tahap II.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru memperoleh informasi mengenai UT Bandar Lampung, sistem pembelajaran, layanan akademik, hingga tips sukses menjalani perkuliahan. Mereka juga diperkenalkan dengan berbagai platform dan aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran daring, seperti platform e-learning, aplikasi mobile UT, serta sumber belajar digital lainnya.
Namun, bagi Josrin, fleksibilitas kuliah saja tidak cukup. Kesempatan belajar harus dibarengi dengan kesungguhan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa baru agar belajar dengan sungguh-sungguh, memiliki keterampilan yang baik, serta berupaya mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,00.
Pesan tersebut lahir dari pengalamannya melihat proses rekrutmen di sejumlah perusahaan yang masih menjadikan IPK sebagai salah satu persyaratan mutlak dalam pendaftaran. Karena itu, menurut Josrin, mahasiswa perlu memanfaatkan kesempatan kuliah sebaik mungkin untuk membangun kompetensi sekaligus prestasi akademik.
Kisah Josrin membuktikan bahwa pendidikan tidak pernah mengenal batas usia. Selama masih ada rasa ingin tahu dan semangat untuk berkembang, selalu ada kesempatan untuk membuka lembaran baru. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel, Universitas Terbuka terus membuka ruang bagi siapa pun untuk belajar, berkarya, dan mewujudkan cita-cita, tanpa terhalang usia, waktu, maupun tempat.
Semangat tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yang mendorong pendidikan inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar sepanjang hayat. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel, UT terus membuka akses bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk meraih pendidikan tinggi tanpa terhalang usia, waktu, maupun tempat.
Sebab, di UT, usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Selama masih ada keinginan untuk berkembang, selalu ada ruang untuk kembali membuka buku dan memulai babak baru.



