Mahasiswa UT Siap Dampingi Sekolah Kekurangan Guru, Pengalaman Magang Bisa Jadi SKS

Ketika sebuah ruang kelas harus tetap berjalan meski kekurangan tenaga pendidik, solusi tidak selalu harus menunggu hadirnya guru baru. Di Bangka Selatan, mahasiswa Universitas Terbuka (UT) justru disiapkan untuk turun langsung ke sekolah sebagai pendamping guru sekaligus membawa pengalaman belajar dari bangku kuliah ke ruang kelas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dengan UT untuk membantu sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik. Melalui program magang, mahasiswa UT nantinya dapat ditempatkan di sekolah yang membutuhkan pendampingan, terutama yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

Bagi mahasiswa, kesempatan ini bukan sekadar pengalaman tambahan. Mereka dapat belajar menghadapi situasi pembelajaran secara langsung. Sementara bagi sekolah, kehadiran mahasiswa diharapkan dapat membantu mendukung proses belajar mengajar sembari pemerintah daerah menyiapkan solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan guru.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan, Anshori, menegaskan mahasiswa yang mengikuti program tersebut tidak ditempatkan untuk menggantikan posisi guru. Peran mereka adalah mendampingi guru dan berbagi pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UT.

“Supaya pengalaman juga dapat, kemudian bisa mendampingi sekolah yang kekurangan guru. Tapi ini bukan sebagai guru pengganti, hanya sebagai magang ataupun pendamping guru,” kata Anshori kepada Bangkapos.com, Sabtu (1/8/2026).

Dari kerja sama menjadi pengalaman nyata

Gagasan tersebut kini mulai menemukan bentuk yang lebih konkret. Setelah Pemkab Bangka Selatan menandatangani nota kesepahaman dengan UT, kerja sama dilanjutkan antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UT.

Dari pembahasan tersebut, UT memiliki Program Peluru yang memungkinkan mahasiswa terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Menariknya, bagi mahasiswa yang memenuhi persyaratan, pengalaman magang tersebut dapat dikonversikan menjadi mata kuliah.

Skema ini diperkirakan berlaku bagi mahasiswa semester lima atau enam sesuai ketentuan UT. Sementara mahasiswa pada semester lainnya tetap dapat mengikuti program magang, meski kegiatan tersebut tidak mendapatkan konversi mata kuliah.

Dengan demikian, pembelajaran mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan. Pengetahuan yang diperoleh selama kuliah dapat dibawa ke lingkungan sekolah, sekaligus menjadi pengalaman praktis yang memperkaya proses belajar mahasiswa.

Kesempatan yang tetap bersifat sukarela

Meski membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat, program tersebut tidak bersifat wajib. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan akan terlebih dahulu berkomunikasi dengan mahasiswa dan orangtua untuk memastikan kesediaan mereka mengikuti program.

“Nanti kami akan dikomunikasikan kepada mahasiswa dan juga orang tuanya, apakah berkenan untuk membantu kami yang saat ini sedang kekurangan tenaga pendidik,” jelas Anshori.

Dari hasil koordinasi dengan UT, sekitar 15 mahasiswa diperkirakan memenuhi syarat untuk mengikuti program magang yang disertai konversi mata kuliah. Mahasiswa lainnya tetap dapat mengikuti program magang sesuai ketentuan kampus, tetapi tanpa memperoleh konversi akademik.

Di titik ini, kolaborasi tersebut tidak hanya berbicara tentang kebutuhan sekolah. Program ini juga memperlihatkan bagaimana akses pendidikan tinggi yang fleksibel dapat membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Semangat tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi juga mencerminkan SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Magang hanya solusi sementara

Meski demikian, program magang mahasiswa bukanlah jawaban permanen atas kekurangan tenaga pendidik di Bangka Selatan. Pemerintah daerah tetap menyiapkan langkah jangka panjang melalui koordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) terkait rencana penerimaan CPNS.

Langkah tersebut penting karena kebutuhan guru terus berubah seiring bertambahnya tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun. Tahun ini saja, sekitar 50 guru di Bangka Selatan diperkirakan memasuki masa pensiun.

Pada saat yang sama, kebutuhan guru kelas, khususnya pada jenjang Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), masih cukup tinggi. Kekurangan guru kelas diperkirakan mencapai sekitar 30 orang.

“Sebenarnya kekurangan guru kelas kita lumayan banyak. Tahun ini juga yang pensiun sekitar 50-an, kemudian untuk guru kelas tingkat PGSD sendiri kekurangannya sekitar 30-an,” pungkas Anshori.

Karena itu, kolaborasi Pemkab Bangka Selatan dan UT diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menjaga proses pembelajaran tetap berjalan sembari pemenuhan guru dilakukan secara bertahap. Di sisi lain, mahasiswa mendapatkan kesempatan belajar dari dunia nyata.

Pada akhirnya, kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti di ruang kuliah. Ketika mahasiswa diberi kesempatan belajar langsung di sekolah, mereka tidak hanya memperoleh pengalaman profesional, tetapi juga ikut membantu menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar di tengah keterbatasan tenaga pendidik. Melalui model pembelajaran yang fleksibel, UT terus memperluas akses pendidikan sekaligus mendorong mahasiswa memberi dampak nyata bagi masyarakat.