Kuliah Masih Jadi Mimpi? UT Bongkar Alasan APK Pendidikan Tinggi Indonesia Baru 34 Persen

Kuliah Masih Jadi Mimpi? UT Bongkar Alasan APK Pendidikan Tinggi Indonesia Baru 34 Persen

Kuliah masih menjadi impian yang belum bisa diwujudkan banyak lulusan SMA di Indonesia. Hambatannya bukan hanya biaya kuliah, tetapi juga beban biaya hidup seperti tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 34 persen atau baru sekitar sepertiga lulusan SMA dan sederajat yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Hal tersebut disampaikan Direktur Universitas Terbuka (UT) Jakarta, Moh. Muzammil, saat kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) UT Jakarta di Tangerang Selatan.

Menurut Muzammil, capaian APK Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara, termasuk Korea Selatan yang telah mencapai sekitar 90 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi ekonomi.

“Biaya pendidikan tidak berhenti pada uang kuliah. Ada biaya kos, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari yang ikut menjadi pertimbangan masyarakat,” ujar Muzammil.

Ia menjelaskan, banyak lulusan sekolah menengah harus menghitung kembali berbagai pengeluaran tambahan ketika ingin melanjutkan kuliah di luar daerah. Tidak sedikit yang akhirnya menunda bahkan membatalkan rencana kuliah karena beban biaya tempat tinggal dan transportasi yang harus ditanggung.

Sebagai upaya mengurangi hambatan tersebut, Universitas Terbuka menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis daring. Melalui sistem ini, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari daerah masing-masing tanpa harus pindah atau menetap di kota tempat kampus berada.

“Mahasiswa dapat mengikuti kuliah dari daerah masing-masing sehingga pengeluaran untuk biaya hidup bisa ditekan,” katanya.

Model pembelajaran tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif. Upaya ini sejalan dengan komitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs poin 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, dengan membuka kesempatan belajar yang lebih merata bagi masyarakat dari berbagai wilayah.

Pada Tahun Akademik 2026, UT Jakarta menerima lebih dari 20 ribu mahasiswa baru. Sebagian besar memilih sistem pembelajaran daring karena dinilai lebih fleksibel, terutama bagi mereka yang telah bekerja atau tinggal jauh dari kampus.

Muzammil menambahkan, Program Studi Manajemen, Hukum, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) masih menjadi pilihan favorit mahasiswa baru. Meski menawarkan fleksibilitas, sistem pendidikan jarak jauh tetap membutuhkan komitmen dan disiplin yang tinggi dalam mengatur waktu belajar.

Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Terbuka, Adrian Sutawijaya, mengatakan kampus telah menyiapkan berbagai fasilitas pembelajaran untuk mendukung proses akademik mahasiswa. Namun, keberhasilan studi tetap bergantung pada konsistensi mahasiswa dalam memanfaatkan seluruh layanan yang tersedia.

“Luangkan waktu setiap hari untuk membaca modul. Minimal lima halaman setiap hari agar proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Adrian.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan belajar mandiri sejak awal perkuliahan agar mahasiswa mampu mengikuti setiap tahapan akademik sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Melalui OSMB, UT tidak hanya memperkenalkan sistem pembelajaran kepada mahasiswa baru, tetapi juga menanamkan pentingnya kemandirian belajar sebagai bekal utama untuk menyelesaikan studi di sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh.