Pagi Kuliah, Malam Tampil di Panggung, Begini Cara Enno Weinhold Menjaga Mimpi Tetap Hidup

Tangerang Selatan, 6 Juli 2026 – Bagi banyak pekerja di dunia hiburan, pendidikan tinggi sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika karier mulai menanjak. Jadwal yang padat, mobilitas tinggi, hingga tuntutan profesional membuat tidak sedikit yang memilih menunda bahkan menghentikan kuliah. Namun, Enno Weinhold memilih jalan yang berbeda.

Perempuan asal Kabupaten Ngawi ini justru membuktikan bahwa karier dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Di tengah kesibukannya sebagai model, talent promosi, konten kreator, sekaligus ibu dari tiga anak, Enno tetap melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa semester III Program Studi S-1 Hukum Universitas Terbuka (UT) Semarang.

Bagi Enno, fleksibilitas sistem pembelajaran yang diterapkan Universitas Terbuka menjadi alasan utama dirinya dapat terus mengembangkan kompetensi tanpa harus meninggalkan karier yang telah dibangun lebih dari 15 tahun di industri entertainment.

“Karena suka belajar dan selagi bisa mencari ilmu kenapa tidak,” katanya, Jumat (3/7).

Semangat belajar itulah yang kini menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Setiap pagi hingga siang, Enno memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan tugas kuliah, berolahraga, sekaligus mempersiapkan pekerjaan. Ketika sore menjelang, ia berganti peran. Lampu panggung, sesi pemotretan, produksi video komersial, hingga berbagai kegiatan sebagai model dan konten kreator menjadi aktivitas yang mengisi malam harinya.

Kemampuan mengatur waktu tersebut tidak hadir begitu saja. Jauh sebelum dikenal di dunia entertainment, Enno telah terbiasa aktif mengembangkan diri sejak bangku sekolah. Saat SMP, ia dipercaya menjadi Ketua OSIS. Memasuki SMA, ia aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan yang mengasah kemampuan komunikasi serta membangun rasa percaya diri untuk tampil di depan publik.

Bekal itu mengantarkannya mengikuti ajang Duta Wisata Ngawi yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Ngawi pada 2008. Dalam ajang tersebut, Enno berhasil meraih gelar Ajeng Persahabatan. Penghargaan itu menjadi langkah awal yang membawanya semakin serius menekuni dunia modeling.

Perjalanannya di industri hiburan terus berkembang. Berbagai kompetisi tingkat regional maupun nasional berhasil diikutinya. Empat tahun kemudian, Enno kembali memperoleh kesempatan emas setelah mendapatkan beasiswa pendidikan di GL Surabaya melalui ajang pemilihan model.

Kesempatan tersebut tidak datang tanpa perjuangan. Demi meningkatkan kemampuan, ia rela bolak-balik Ngawi-Surabaya setiap akhir pekan untuk mengikuti proses pembelajaran.

“Setelah menyelesaikan pendidikan, saya sempat mendirikan sekolah model pertama di Ngawi. Juga aktif mengikuti berbagai kompetisi dan pemilihan model,” ujarnya.

Kerja kerasnya pun membuahkan berbagai prestasi. Salah satu pencapaian terbaru diraih pada Semarang Net Fashion Show 2024 melalui ajang Pemilihan Model Batik Nasional. Dalam kompetisi tersebut, Enno berhasil meraih penghargaan Best Costume.

Kini, setelah menetap di Kota Semarang, aktivitasnya semakin beragam. Selain menjadi model, ia juga aktif sebagai talent promosi hotel, talent video komersial, mengisi sesi pemotretan, tampil di panggung catwalk, hingga menjadi konten kreator dan endorser berbagai produk.

Meski kariernya terus berkembang, Enno tidak ingin berhenti belajar. Sebelum menempuh pendidikan di Universitas Terbuka, ia telah menyelesaikan pendidikan Diploma III Kebidanan di Magetan. Baginya, pendidikan merupakan bekal penting untuk membuka peluang dan memperluas wawasan, apa pun profesi yang dijalani.

Kisah Enno menjadi gambaran bahwa akses terhadap pendidikan tinggi kini semakin terbuka bagi semua kalangan. Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, Universitas Terbuka memungkinkan siapa saja tetap melanjutkan studi tanpa harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, maupun aktivitas profesional. Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, Universitas Terbuka memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun tanggung jawab keluarga.

Semangat yang ditunjukkan Enno juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang mendorong pembelajaran sepanjang hayat, serta SDG 5 tentang Kesetaraan Gender yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk terus mengembangkan potensi diri di bidang pendidikan maupun karier. Di balik berbagai pencapaian yang telah diraihnya, Enno tetap menyimpan cita-cita yang sederhana.

“Cita-cita terbesar saya adalah masuk surga,” ungkapnya.