Di Tengah Gelombang AI Global, UT Bawa Misi Pendidikan Terbuka ke Forum Dunia

Kecerdasan buatan tidak lagi berdiri sebagai isu masa depan. Ia sudah masuk ke ruang kelas, mengubah cara industri bekerja, dan memaksa perguruan tinggi menata ulang cara menyiapkan lulusan. Di tengah perubahan itu, Universitas Terbuka (UT) hadir dalam Future Higher Education Summit di Shenzhen, Tiongkok, untuk membawa perspektif pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh dalam percakapan global tentang talenta masa depan.

Rektor UT sekaligus Ketua Indonesia Cyber Education (ICE) Institute, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, memimpin delegasi resmi UT dalam forum internasional yang berlangsung pada 4–6 Juni 2026 tersebut. Kehadiran UT dalam agenda ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memperkuat transformasi tata kelola dan ekosistem pendidikan tinggi, terutama dalam menjawab tantangan akses, mutu, perkembangan AI, serta kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri.

Future Higher Education Summit tahun ini mengusung tema “A New Ecosystem for AI-Driven Industry-Academia Collaborative Talent Development”. Tema tersebut semakin relevan karena dunia pendidikan dan industri kini bergerak dalam ritme perubahan yang sama cepatnya. Perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan, tetapi juga perlu memastikan bahwa kompetensi yang dibangun benar-benar bertemu dengan kebutuhan zaman.

Forum internasional berskala besar ini diselenggarakan atas kerja sama berbagai entitas global, termasuk UNESCO Regional Office for East Asia, UNESCO IITE, Southern University of Science and Technology (SUSTech), dan UNESCO-ICHEI. Melalui forum ini, para pemangku kepentingan dari sektor pendidikan tinggi, teknologi, dan industri bertemu untuk membahas arah baru pengembangan talenta di era kecerdasan buatan.

Dalam misi akademik dan kemitraan strategis tersebut, Prof. Dr. Ali Muktiyanto didampingi oleh delegasi UT yang terdiri atas Prof. Dr. Paulina Pannen selaku Senior Expert ICE Institute, Rahayu Dwi Riyanti, M.A. selaku Ketua UPPDJI, serta Fauzy Rahman Kosasih, M.Pd. selaku Staf Ahli Bidang Kebijakan pada Kantor Rektor.

Bagi UT, keikutsertaan dalam forum ini bukan sekadar menghadiri agenda internasional. Lebih jauh, kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan institusi dalam merancang kebijakan pendidikan dan memperkuat integrasi teknologi mutakhir ke dalam pendidikan tinggi jarak jauh. Generative AI dan realitas imersif menjadi dua di antara teknologi yang semakin penting untuk dibaca, dipahami, dan diintegrasikan agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik dan dunia kerja.

Arah tersebut sejalan dengan karakter UT sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh yang sejak awal hadir untuk memperluas akses pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi global, akses saja tidak lagi cukup. Pendidikan juga harus bermutu, adaptif, dan mampu membekali mahasiswa dengan literasi teknologi serta kompetensi interdisipliner. Dari titik inilah UT terus memperkuat perannya sebagai institusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus terhubung dengan percakapan global tentang masa depan pendidikan tinggi.

Rangkaian agenda delegasi UT dimulai pada Kamis, 4 Juni 2026, setelah tiba di Shenzhen. Pada hari yang sama, Prof. Dr. Ali Muktiyanto memenuhi undangan wawancara eksklusif bersama Phoenix TV di kantor UNESCO-ICHEI. Dalam wawancara tersebut, ia membahas visi masa depan pendidikan, khususnya bagaimana pendidikan tinggi dapat menjembatani kesenjangan akses, meningkatkan mutu pembelajaran, merespons perkembangan AI, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri.

Pembahasan itu menjadi penting karena tantangan pendidikan tinggi hari ini tidak lagi berdiri dalam satu ruang. Akses, kualitas, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja saling berkaitan. Ketika industri bergerak cepat, perguruan tinggi juga perlu memiliki kemampuan untuk membaca perubahan, membangun ekosistem pembelajaran yang lebih fleksibel, serta menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi.

Agenda berlanjut pada Jumat, 5 Juni 2026, melalui kunjungan industri dan sesi uji coba langsung terhadap berbagai inovasi teknologi. Delegasi UT mengunjungi perusahaan teknologi KMAX yang berfokus pada pengembangan teknologi AR/VR terkini. Teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk diimplementasikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, imersif, dan dekat dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.

Selain itu, delegasi UT juga melakukan kunjungan dan uji coba ke Baidu Autonomous Vehicle Technology. Perusahaan ini mengembangkan kendaraan listrik tanpa pengemudi yang memiliki tingkat presisi dan keamanan tinggi. Kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai bagaimana kecerdasan buatan telah bergerak jauh melampaui ruang diskusi dan menjadi bagian nyata dari inovasi industri.

Dari kunjungan tersebut, terlihat bahwa dunia pendidikan tidak bisa berdiri terpisah dari perkembangan teknologi. Apa yang terjadi di sektor industri hari ini akan memengaruhi kebutuhan kompetensi di masa depan. Karena itu, keterhubungan antara perguruan tinggi dan industri menjadi semakin penting, termasuk bagi pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh yang memiliki jangkauan luas dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Southern University of Science and Technology (SUSTech) Convention Center. Acara dibuka dengan paparan dari para pimpinan penyelenggara yang menyoroti pentingnya ekosistem baru pendidikan tinggi dalam menghadapi perkembangan AI dan kebutuhan talenta global.

Pada sesi siang, Prof. Dr. Ali Muktiyanto tampil sebagai salah satu pembicara dalam panel bertajuk “How to Achieve Matching between Industrial Demand and Talent Supply?”. Dalam panel tersebut, ia berbagi ruang diskusi bersama empat pembicara lain, yaitu Prof. Jia Wei selaku Presiden Shanghai Open University, Mr. Sun Xiang selaku Ketua Cross-Border E-Commerce Professional Committee China Customs Society, Mr. Cui Kailong selaku Wakil Presiden Jiangxi KMAX Industrial Co. Ltd., serta Mr. Liu Qiang selaku Kepala Electronic World Trade Platform (eWTP) Training Team Alibaba Group.

Panel ini mengeksplorasi secara mendalam strategi penyelarasan kompetensi lulusan pendidikan tinggi dengan dinamika kebutuhan industri yang berubah cepat di era kecerdasan buatan. Isu tersebut menjadi salah satu tantangan utama pendidikan tinggi saat ini. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kesiapan untuk masuk ke ekosistem kerja yang semakin terdigitalisasi, kolaboratif, dan berbasis teknologi.

Dalam konteks ini, UT memiliki posisi yang strategis. Sebagai institusi pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, UT memiliki pengalaman panjang dalam menghadirkan layanan pendidikan yang fleksibel dan menjangkau masyarakat luas. Ketika pendekatan tersebut diperkuat dengan teknologi, pendidikan tidak hanya menjadi lebih mudah diakses, tetapi juga dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan kompetensi dan membuka peluang baru.

Rangkaian kunjungan strategis delegasi UT ditutup pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan mengunjungi dua perusahaan teknologi terkemuka, Huawei dan BYD. Kunjungan ke dua perusahaan ini relevan dengan karakteristik UT dan ICE Institute yang pertumbuhannya sangat erat dengan perkembangan teknologi. Dari agenda tersebut, delegasi memperoleh berbagai perspektif mengenai inovasi, ekosistem digital, serta peluang penguatan pendidikan berbasis teknologi.

Melalui keikutsertaan dalam Future Higher Education Summit, UT membawa pulang wawasan, kerangka kerja inovatif, serta jejaring kemitraan baru untuk memperkuat layanan akademik dan ekosistem pendidikan terbuka dan jarak jauh yang lebih relevan dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi global.

Dari Shenzhen, UT menegaskan bahwa pendidikan tinggi masa depan bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi membuka akses, meningkatkan mutu, dan mendekatkan kesempatan belajar kepada lebih banyak orang. Di tengah perubahan dunia yang bergerak cepat, UT terus hadir sebagai jembatan antara masyarakat, pendidikan, dan kebutuhan talenta masa depan.