Di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, belajar tidak selalu dimulai dari papan tulis, meja kelas, atau buku pelajaran. Kadang, ia dimulai dari tanah lapang, suara anak-anak yang berlarian, permainan tradisional yang kembali dimainkan, dan rasa penasaran yang tumbuh ketika anak-anak bersentuhan langsung dengan alam.
Semangat itulah yang dihidupkan Universitas Terbuka (UT) Surabaya melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Revitalisasi Fasilitas Belajar di Alam Terbuka dan Permainan Tradisional: Program Wisata Edukasi dan Pendampingan Kreatif. Program ini digelar di kawasan Eduwisata Kampung Lali Gadget (KLG), Desa Pagerngumbuk, dengan melibatkan Yayasan Eduwisata KLG, pemerintah desa, pengelola komunitas, karang taruna, tokoh masyarakat, pendamping kreatif, serta warga setempat.
Di tengah kehidupan anak-anak yang semakin akrab dengan layar gawai, kehadiran ruang belajar berbasis alam menjadi penting. Bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan: bahwa anak-anak juga membutuhkan ruang untuk bergerak, berimajinasi, bekerja sama, mengenal lingkungan, dan merasakan pengalaman belajar secara langsung.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UT Surabaya, Prof. Dr. Tri Dyah Prastiti, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan tidak semestinya dibatasi oleh dinding ruang kelas. Lingkungan sekitar, taman desa, area bermain, hingga ruang terbuka dapat menjadi media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
“Kami percaya bahwa pendidikan dapat tumbuh di mana saja. Alam terbuka memiliki potensi besar sebagai sumber belajar yang mampu menghadirkan pengalaman nyata bagi anak-anak,” ujarnya saat sambutan.
Melalui program ini, UT Surabaya tidak hanya memperbaiki fasilitas secara fisik. Lebih dari itu, revitalisasi diarahkan untuk menghidupkan kembali fungsi ruang publik sebagai tempat belajar yang ramah anak, edukatif, dan berkelanjutan. Area yang sebelumnya menjadi ruang berkumpul warga dikembangkan agar mampu mendukung penguatan literasi, numerasi, pendidikan karakter, kreativitas, serta keterampilan sosial anak.
Di Kampung Lali Gadget, anak-anak dapat belajar dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Mereka bisa mengenal lingkungan, mengikuti permainan tradisional, melakukan eksperimen sains sederhana, berkegiatan seni, berkemah, hingga mengikuti aktivitas kelompok yang melatih komunikasi dan kerja sama.
Pendampingan kreatif juga menjadi bagian penting dalam program ini. UT Surabaya memberikan penguatan kepada pengelola, relawan, dan masyarakat agar kegiatan belajar anak tidak berhenti setelah fasilitas tersedia. Ruang belajar tersebut diharapkan terus hidup melalui aktivitas yang rutin, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak desa.
Prof. Tri Dyah menilai, kreativitas tidak selalu lahir dari fasilitas mahal. Dalam banyak hal, kreativitas justru tumbuh dari hal-hal sederhana di sekitar anak, selama mereka diberi ruang untuk bertanya, mencoba, berimajinasi, dan menemukan pengalaman baru.
Pendekatan ini sejalan dengan karakter Kampung Lali Gadget yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata edukasi berbasis permainan tradisional dan aktivitas luar ruang. Kehadiran UT Surabaya semakin memperkuat kawasan tersebut sebagai alternatif pembelajaran anak di tengah derasnya arus digital.
Program ini juga menjadi bukti bahwa tridarma perguruan tinggi tidak berhenti di kampus. Melalui pengabdian kepada masyarakat, UT Surabaya hadir bersama warga untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. Semangat ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, terutama pendidikan berkualitas, komunitas berkelanjutan, dan kemitraan lintas pihak.
Kepala Desa Pagerngumbuk Abdul Malik bersama jajaran pengelola Kampung Lali Gadget, karang taruna, tokoh masyarakat, dan pendamping kreatif turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Dukungan warga menjadi modal penting agar ruang belajar ini tidak hanya indah saat diresmikan, tetapi benar-benar digunakan dan dirawat bersama.
Bagi anak-anak Pagerngumbuk, ruang ini bukan sekadar tempat bermain. Ia adalah halaman baru untuk tumbuh: tempat mereka belajar tanpa merasa digurui, mengenal alam tanpa harus membuka layar, dan menemukan kembali kegembiraan masa kecil yang sederhana, hangat, dan penuh makna.



