UT Purwokerto Dampingi Curug Jenggala, Dari Wisata Swadaya Menuju Ekowisata Berkelanjutan

Bertahun-tahun sebelum Curug Jenggala ramai didatangi wisatawan, warga Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, lebih dulu menanam tenaga dan harapan di jalur menuju air terjun itu. Sejak 2015, mereka membangun kawasan wisata tersebut secara swadaya, tanpa gaji, hanya dengan keyakinan bahwa alam di lereng selatan Gunung Slamet menyimpan masa depan bagi desa.

Harapan itu kini menemukan ruang tumbuh yang lebih besar melalui pendampingan Universitas Terbuka (UT) Purwokerto. Sejak 2023, UT Purwokerto hadir mendampingi masyarakat sekitar Curug Jenggala melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mulai dari penguatan infrastruktur, pelatihan sumber daya manusia, hingga pengembangan arah ekowisata yang lebih berkelanjutan.

Langkah tersebut kembali diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Hasil PKM yang digelar UT Purwokerto di Warung Putri Gunung Baturraden, Kabupaten Banyumas, Kamis (18/6/2026). FGD itu mengangkat tema “Roadmap Model Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan: Penguatan Manajemen Wisata, Optimalisasi UMKM, Potensi Budaya, dan Konservasi Lingkungan.”

Forum ini dihadiri akademisi Universitas Jenderal Soedirman, dinas terkait, Perum Perhutani, serta tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi penanda bahwa pengembangan Curug Jenggala tidak lagi hanya bertumpu pada semangat lokal, tetapi mulai diarahkan sebagai gerakan bersama yang melibatkan unsur pentahelix.

Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., mengatakan, pendampingan UT Purwokerto selama tiga tahun terakhir telah mencakup pembangunan jalan, infrastruktur pendukung, serta pelatihan bagi masyarakat. Salah satu dukungan yang diberikan ialah pembuatan akses jalan sepanjang 900 meter dengan lebar satu meter.

Ia memperkirakan, anggaran yang telah dikeluarkan selama pendampingan mencapai lebih dari Rp500 juta. Namun, menurut Prasetyarti, pengembangan Curug Jenggala belum selesai dan perlu dilanjutkan dengan arah yang lebih terukur.

“Ini belum selesai. Setelah ini kami akan melakukan roadmap untuk keberlanjutan lima tahun. Sehingga dibutuhkan kolaborasi pentahelix. Jadi tidak hanya mengembangkan sektor pariwisata, tetapi juga SDM, manajemen pengelola wisata, dan potensi budaya,” ujarnya.

Prasetyarti menyebut, pendampingan tersebut telah menunjukkan dampak positif. Kunjungan wisatawan disebut meningkat hingga 113 persen. Meski demikian, masih banyak ruang yang dapat dikembangkan, terutama pada sektor UMKM, penguatan manajemen pengelola wisata, pemanfaatan teknologi, serta promosi digital.

“Saat ini untuk memajukan sebuah desa kita tidak bisa hanya mengandalkan cara tradisional. Tapi harus memanfaatkan teknologi agar tersampaikan ke seluruh masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, bahkan internasional,” katanya.

Menurut Prasetyarti, FGD ini menjadi ruang untuk mengonfirmasi, memvalidasi, dan memetakan strategi pembangunan Curug Jenggala ke depan. Salah satu rencana yang disiapkan ialah perluasan area wisata hingga ke Situs Lemah Wangi, yang memiliki potensi budaya di kawasan lereng selatan Gunung Slamet.

“Karena itu kami perlu kolaborasi bersama dengan banyak pihak. Bersama-sama menggali potensi yang bisa dikembangkan,” ungkapnya.

Kepala Desa Ketenger, Wartam, menyampaikan terima kasih atas pendampingan UT Purwokerto. Ia mengingat, sejak 2015 masyarakat Dusun Kalipagu telah berjuang membangun Curug Jenggala dengan tenaga sendiri.

“Lalu ada pihak UT yang membantu kami, membuatkan jalan, gazebo dan pendampingan lainnya. Hampir Rp500 juta untuk sarpras jalan. Ini sangat berdampak bagi kami,” katanya.

Dampak itu kini terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan. Pada Sabtu dan Minggu, Curug Jenggala dapat dikunjungi hingga 2.000 orang per hari. Dalam satu bulan, jumlah pengunjung berkisar 15.000 hingga 20.000 orang. Bagi warga, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan peluang ekonomi baru yang tumbuh dari desa sendiri.

Pada 2026, Pemerintah Desa Ketenger bersama UT Purwokerto juga menyiapkan pengembangan kawasan hingga Situs Lemah Wangi.

“Karena di Lereng Gunung Slamet bagian selatan ini banyak situs budaya yang bisa dikembangkan dan digali potensinya,” ungkap Wartam.

Melalui penguatan ekowisata Curug Jenggala, UT Purwokerto tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mendorong pembangunan desa yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Dari jalan yang terbuka, gazebo yang berdiri, UMKM yang mulai bergerak, hingga warga yang belajar memasarkan potensi desanya secara digital, Curug Jenggala menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat terasa langsung di tanah tempat masyarakat berpijak. Di Kalipagu, ekowisata bukan sekadar pemandangan indah, melainkan jalan baru bagi desa untuk tumbuh lebih berdaya.