Sehari sebelum wisuda, ratusan calon lulusan Universitas Terbuka Samarinda tidak hanya bersiap mengenakan toga. Mereka juga dihadapkan pada satu realitas yang tak kalah penting bahwa gelar mungkin sudah di depan mata, tetapi dunia setelahnya menuntut lebih dari sekadar ijazah. Di titik ini, perjalanan panjang yang penuh perjuangan seolah berkelindan dengan pertanyaan baru tentang arah masa depan, tentang bagaimana ilmu yang dimiliki akan menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata.
Suasana reflektif itu terasa kuat dalam seminar bertajuk “Belajar Tanpa Batas, Berkarya Tanpa Henti” yang digelar di Convention Hall Samarinda, Sabtu 11 April 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian wisuda yang akan berlangsung sehari setelahnya, tetapi juga menjadi ruang perenungan kolektif bagi para calon wisudawan. Di dalamnya, harapan dan kegelisahan bertemu, membentuk kesadaran baru bahwa kelulusan bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Di tengah perhatian peserta yang terpusat, Guru Besar FKIP UT, Maximus Gorky Sembiring, menyampaikan pesan yang sederhana namun menggugah. Ia menekankan bahwa proses belajar tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus berlanjut menjadi karya nyata yang memberikan dampak. Baginya, ilmu hanya akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan yang konkret dan bermanfaat.
“Kalau anda hanya belajar harus ada karyanya. Jadi ide dasarnya setelah teman-teman belajar ini, nantinya langsung siap berkarya,” ujarnya.
Bagi banyak peserta, pesan tersebut terasa sangat dekat dengan realitas yang mereka jalani selama ini. Perjalanan kuliah di UT bukanlah cerita yang mudah dan sering kali dipenuhi kompromi antara studi, pekerjaan, serta tanggung jawab keluarga. Ada yang harus belajar di sela waktu kerja, ada yang tetap bertahan di tengah keterbatasan, dan ada pula yang berjuang menjaga konsistensi di tengah berbagai tekanan. Di balik proses tersebut, tersimpan daya juang yang kini menemukan momentumnya menjelang wisuda.
Prof. Gorky kemudian membawa peserta melihat lanskap yang lebih luas, yaitu dunia yang terus bergerak cepat dengan perubahan yang tidak terelakkan. Dalam situasi seperti ini, lulusan tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan akademik, tetapi juga dituntut memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat. Fleksibilitas dan kesiapan menghadapi perubahan menjadi kunci penting untuk tetap relevan di tengah dinamika global.
“It’s not about the strongest, tetapi siapa yang paling adaptable dan siapa yang paling bisa mengadopsi perubahan yang ada dengan ilmu yang dimiliki,” pungkasnya.
Pesan tersebut terasa semakin kontekstual di tengah arus digitalisasi dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, yang secara nyata mengubah lanskap dunia kerja dan kehidupan sosial. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak lagi berhenti pada capaian akademik semata, tetapi menjadi fondasi untuk terus belajar sepanjang hayat. Hal ini juga selaras dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas serta terciptanya peluang kerja yang inklusif dan berkelanjutan bagi semua.
Seminar dibuka secara resmi oleh Direktur UT Samarinda, Rusna Ristasa, yang dalam sambutannya menghadirkan perspektif lokal yang kuat. Ia mengaitkan tema kegiatan dengan karakter masyarakat Kalimantan Timur yang dikenal tangguh, bekerja dalam diam, dan memegang teguh komitmen dalam setiap langkahnya. Nilai nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam memaknai pendidikan sebagai sarana untuk membangun masa depan.
“Tema ‘Belajar Tanpa Batas, Berkarya Tanpa Henti’ sejatinya lahir dari jiwa orang orang Kaltim yang bekerja tanpa banyak kata, yang menjaga komitmen dengan hati, yang memaknai pendidikan sebagai jalan membangun keluarga dan daerah,” ujarnya.
Suasana semakin hidup ketika sesi diskusi dimulai dan dipandu oleh Laura Iliani Tania, yang mampu menghidupkan interaksi di dalam ruangan. Para peserta secara aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan mereka, mulai dari pemanfaatan teknologi digital hingga tantangan yang akan dihadapi setelah lulus. Diskusi tersebut berkembang menjadi ruang dialog yang jujur dan reflektif, di mana para calon lulusan tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga berbagi kegelisahan serta harapan tentang masa depan mereka.
Di balik jalannya kegiatan, tersimpan cerita cerita personal yang jarang terlihat di permukaan dan tidak selalu tercatat dalam laporan akademik. Tentang waktu yang dikorbankan, pilihan yang tidak mudah, hingga keyakinan yang terus dijaga sampai akhirnya tiba di titik ini. Seminar ini menjadi ruang untuk meneguhkan kembali alasan mereka memulai perjalanan pendidikan, sekaligus memperkuat langkah untuk melanjutkan perjalanan yang lebih panjang setelah wisuda.
Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian wisuda, tetapi juga menjadi pengingat yang kuat bahwa ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu harus hidup dalam karya dan kontribusi nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Di tengah dunia yang terus berubah, harapan akan selalu menemukan jalannya pada mereka yang bersedia belajar tanpa batas dan berkarya tanpa henti, serta berani mengambil peran sebagai bagian dari solusi bagi masa depan yang lebih baik.



