TANGERANG SELATAN – Belajar dari jarak jauh tidak selalu berarti jauh dari dunia kerja. Tantangan itulah yang tengah dijawab Universitas Terbuka (UT) melalui Sekolah Vokasi yang genap berusia satu tahun pada 15 September 2026. Pendidikan vokasi selama ini identik dengan keterampilan dan praktik, sementara kekuatan UT selama lebih dari empat dekade berada pada sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh (PJJ). Karena itu, UT berupaya mempertemukan dua hal tersebut dalam satu model pembelajaran yang fleksibel, tetapi tetap dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Sekolah Vokasi Universitas Terbuka 2026 bertema “Learn, Link, Lead: Empowering Vocational Talent through Academia–Industry Collaboration”, Selasa (15/9/2026). Seminar ini menjadi bagian dari momentum satu tahun berdirinya Sekolah Vokasi UT sekaligus ruang untuk merefleksikan arah pengembangan pendidikan vokasi di lingkungan UT. Forum tersebut mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, serta berbagai mitra untuk membahas kebutuhan kompetensi yang terus berubah. Dari forum inilah, UT ingin memperkuat keterhubungan pendidikan vokasi dengan dunia kerja dan perkembangan kebutuhan kompetensi.
Kebutuhan tersebut semakin terasa ketika melihat kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Direktur Sekolah Vokasi UT Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A., memaparkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 288 juta penduduk dengan jumlah lulusan SLTA mencapai sekitar 3,3 juta orang per tahun. Pada saat yang sama, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi tercatat 32,00 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 32,89 persen pada 2025. Untuk lulusan SMK, proporsi yang melanjutkan studi tercatat 13,37 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 18,26 persen pada 2025.
“Ini menunjukkan betapa besarnya anak-anak kita lulusan SLTA yang belum meraih pendidikan tinggi,” ujar Yunus. Menurutnya, angka tersebut menggambarkan masih luasnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan tinggi yang dapat disesuaikan dengan kondisi kehidupan mereka. Bagi sebagian anak muda, melanjutkan kuliah berarti harus berhadapan dengan pilihan antara tetap bekerja atau meninggalkan daerah tempat tinggalnya. Ada pula kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi sehingga tidak mudah mengikuti pendidikan vokasi dengan pola konvensional.

Di titik itulah pengalaman UT dalam menyelenggarakan PJJ menjadi penting. Sistem tersebut memungkinkan masyarakat belajar dengan lebih fleksibel tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau daerah tempat tinggalnya. Namun, fleksibilitas tidak berarti mengurangi karakter utama pendidikan vokasi yang menuntut pengalaman langsung. Karena itu, Sekolah Vokasi UT merancang muatan praktik dan praktikum sekitar 60–70 persen, dilengkapi pembelajaran berbasis proyek, kolaboratif, problem solving, bimbingan konseptual dan praktikal, pemanfaatan teknologi informasi, serta pengalaman magang atau bekerja di dunia industri.
“Vokasi dengan praktikalitas, tingkat praktiknya sampai 60–70 persen pasti tidak mudah bagi UT, tapi seru dan menarik,” kata Yunus. Menurutnya, tantangan tersebut justru menjadi ruang untuk membangun fondasi pendidikan vokasi yang berbeda dari pola pembelajaran yang selama ini dijalankan UT. Sekolah Vokasi tidak ingin sekadar memindahkan pembelajaran vokasi ke platform jarak jauh, tetapi merancang sistem yang mampu mempertahankan pengalaman praktik mahasiswa. Karena itu, pengembangan dilakukan secara bertahap agar fondasi model vokasi yang dibangun semakin kokoh.
Tantangan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa kolaborasi menjadi bagian penting dalam pendidikan vokasi UT. Ketua Senat Akademik UT Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si., mengatakan pendidikan vokasi memiliki karakter yang berbeda karena lebih menekankan keterampilan dibandingkan aspek kognitif semata. Penerapan vokasi melalui PJJ, menurut dia, membutuhkan dukungan mitra yang dapat menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk berpraktik secara nyata. “Kalau vokasi itu lebih ke skill, keterampilan, bukan kognisi. Tantangannya, bagaimana keterampilan itu dibangun melalui PJJ?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan keyakinan bahwa kolaborasi dapat menjadi jembatan antara pembelajaran jarak jauh dan pengalaman praktik. “Kita buktikan bahwa ternyata vokasi dengan PJJ bisa,” kata Chanif. Bagi UT, kemitraan dengan dunia industri bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem pembelajaran yang membuat kompetensi mahasiswa relevan dengan kebutuhan pekerjaan. Karena itu, dalam seminar tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman, nota kesepakatan, serta perjanjian kerja sama dengan berbagai mitra.
Membuktikan bahwa vokasi PJJ dapat berjalan, bagaimanapun, bukan tujuan akhirnya. Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi, Layanan Jarak Jauh dan Alumni UT Prof. Dr. Paken Pandiangan, S.Si., M.Si., yang mewakili Rektor UT, mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan kompetensi yang dibangun mahasiswa benar-benar sesuai dengan perubahan dunia kerja. Perkembangan kecerdasan artifisial, otomasi, digitalisasi, ekonomi kreatif, kendaraan listrik, perdagangan elektronik, hingga transformasi logistik telah mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor. Karena itu, pendidikan vokasi perlu terus bergerak mengikuti perubahan tersebut.


“Sekolah Vokasi mempunyai makna strategis bagi Universitas Terbuka: menjembatani perluasan akses dengan menghasilkan kompetensi yang benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Paken. Menurutnya, hubungan antara kampus dan industri tidak cukup berhenti pada penandatanganan MoU dan MoA. Keterlibatan industri perlu masuk lebih jauh melalui penyusunan kurikulum, keterlibatan praktisi, proyek bersama, pengalaman mahasiswa, hingga penguatan kesiapan lulusan. Dengan cara tersebut, kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di kampus dan kebutuhan dunia kerja dapat terus ditekan.
Kebutuhan kompetensi yang semakin dinamis juga bertemu dengan peluang besar di sektor ekonomi kreatif. Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif R. Adi Mukhtar Rivai yang mewakili Menteri Ekonomi Kreatif menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual. Menurutnya, sebuah gagasan tidak cukup berhenti sebagai kreativitas, tetapi perlu dikembangkan melalui rantai nilai mulai dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, hingga konservasi. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki talenta dapat berkembang menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam pengembangan sumber daya manusia melalui Creative Leadership, Creative Talent, dan Creative Preneur. Pendidikan vokasi diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan keterampilan teknis dengan kebutuhan nyata ekonomi kreatif. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan untuk bekerja, tetapi juga mampu membangun usaha, berinovasi, dan mengembangkan karya menjadi kekuatan ekonomi. Perspektif inilah yang membuat kolaborasi antara pendidikan, pemerintah, dan dunia industri menjadi semakin penting.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan Sekolah Vokasi UT melalui pengembangan program studi secara bertahap. Saat ini, Sekolah Vokasi UT menjalankan D3 Perpajakan dan D4 Kearsipan sebagai program studi pemicu. Mulai 2027, UT menyiapkan pembukaan program studi D3 Teknologi Informasi, D4 Akuntansi Bisnis Digital, dan D4 Logistik Niaga Internasional, yang kemudian dilanjutkan dengan D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta D4 Teknologi Rekayasa Otomotif dengan fokus mobil listrik dan mobil konvensional. Setelah itu, UT juga menyiapkan pengembangan bidang Pengelolaan Perhotelan, Komunikasi Digital atau Content Creator, Tata Boga, Akuntansi Perpajakan, Keamanan Sistem Informasi, dan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Menurut Yunus, pengembangan tersebut tidak dilakukan dengan mengejar jumlah program studi semata. Sekolah Vokasi justru ingin memperkuat fondasi terlebih dahulu agar model pendidikan vokasi yang dibangun dapat berjalan semakin kokoh. Setiap mahasiswa juga diarahkan memperoleh dua sertifikasi profesional atau kompetensi, satu dari lima pilihan bahasa asing, mata kuliah internasional, serta satu hingga dua sertifikat pelatihan teknologi informasi. Penguatan tersebut diharapkan membuat lulusan tidak hanya menguasai teori dan keterampilan, tetapi juga memiliki bukti kompetensi yang relevan dengan kebutuhan profesinya.
Pada akhirnya, yang sedang diuji UT bukan sekadar apakah pendidikan vokasi bisa dilakukan dari jarak jauh. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah jarak masih harus menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh keterampilan, pengalaman, dan kesempatan membangun masa depan. Bagi masyarakat yang harus tetap bekerja, tinggal jauh dari pusat pendidikan, atau tidak dapat meninggalkan daerahnya, model pendidikan yang fleksibel dapat membuka ruang untuk tetap belajar tanpa harus melepaskan kehidupan yang sedang dijalani. Di situlah pendidikan berkualitas menjadi lebih dari sekadar akses menuju bangku kuliah, tetapi juga jalan untuk memperluas kesempatan dan meningkatkan kapasitas manusia.
Karena itu, Learn, Link, Lead bukan sekadar tema seminar bagi Sekolah Vokasi UT. Learn berarti membangun kompetensi sekaligus pengalaman nyata, Link berarti menghubungkan kampus dengan industri, pemerintah, asosiasi profesi, dan mitra lainnya, sedangkan Lead berarti menyiapkan lulusan agar mampu berinisiatif, berinovasi, menjadi wirausahawan, dan memimpin di bidangnya. Ketika akses belajar dapat bertemu dengan keterampilan yang relevan dan kesempatan untuk berkembang, pendidikan ikut membuka peluang meningkatkan kompetensi dan memperluas kesempatan di dunia kerja.


