Tangerang Selatan — Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus yang selalu terdepan dalam menghadirkan pendidikan berkualitas. Melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Laboratorium Penerjemahan Digital” yang digelar di kantor UT Pusat, Pondok Cabe. Kegiatan ini turut menghadirkan akademisi dan praktisi penerjemahan untuk bersama-sama merumuskan rancangan laboratorium inovatif yang akan memperkuat Prodi Sastra Inggris.
Langkah ini tidak hanya sebatas pengembangan fasilitas akademik, tetapi juga menjadi strategi UT dalam mempersiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa diharapkan mampu menguasai teori sekaligus keterampilan praktis menggunakan perangkat digital yang kini menjadi standar global di bidang penerjemahan.
FGD tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua Umum Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Dr. Indra Listyo, Dosen Universitas Indonesia Dr. Doni Jaya, dan praktisi sekaligus pemilik biro penerjemahan, Uki Ukanto. Ketiganya memberikan masukan berharga terkait peran laboratorium digital sebagai ruang kolaboratif yang menghubungkan teori, praktik, dan teknologi.
Dalam paparannya, Dr. Indra Listyo mengingatkan bahwa penerjemah profesional membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bahasa. “Kompetensi penerjemah sukses tidak hanya bergantung pada kemampuan linguistik saja, tetapi juga kemampuan ekstralinguistik,” ujarnya. Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi seperti CAT tools dan kecerdasan buatan (AI) menjadi sangat penting, namun tetap harus diimbangi dengan etika profesional serta manajemen proyek.
Sementara itu, Dr. Doni Jaya menilai laboratorium digital bisa dirancang tidak hanya untuk melatih aspek kognitif, tetapi juga keterampilan sosial yang krusial dalam dunia kerja. “Kemampuan mencari klien, negosiasi harga, hingga manajemen proyek bisa dipelajari melalui simulasi di laboratorium,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Uki Ukanto menegaskan bahwa meski teknologi penerjemahan terus berkembang, peran manusia tetap vital sebagai pengendali kualitas. Menurutnya, penerjemah masa kini wajib menguasai machine translation dan CAT tools, sekaligus memiliki keterampilan interpersonal serta kemampuan mengelola bisnis.
Diskusi yang melibatkan dosen-dosen UT pun berlangsung dinamis. Berbagai usulan mengemuka, mulai dari pengembangan modul berbasis cloud, pembuatan glosarium interaktif, hingga integrasi laboratorium dalam kurikulum daring. Bahkan, muncul gagasan agar mahasiswa bisa mengerjakan proyek terjemahan nyata melalui kerja sama dengan industri. Semua peserta sepakat, laboratorium penerjemahan digital harus menjadi ruang inovasi yang adaptif terhadap kebutuhan masa depan.
FGD ini kemudian ditutup dengan komitmen untuk menyusun rancangan kurikulum, modul pembelajaran, hingga prototipe laboratorium. Targetnya, uji coba laboratorium dapat dilakukan mulai tahun ajaran mendatang.
Inisiatif ini semakin mempertegas peran UT sebagai pelopor pendidikan jarak jauh di Indonesia yang senantiasa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kehadiran laboratorium penerjemahan digital bukan hanya investasi bagi Prodi Sastra Inggris, tetapi juga kontribusi nyata UT terhadap pembangunan berkelanjutan.
Sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), program ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memastikan akses pendidikan yang inklusif dan relevan, serta SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur) melalui pengembangan fasilitas digital yang berkelanjutan. Dengan begitu, UT tak hanya mencetak penerjemah handal, tetapi juga mendorong terciptanya sumber daya manusia yang mampu bersaing di level global.


