Mataram— Sebuah ulang tahun biasanya menjadi alasan untuk merayakan usia. Namun, bagi Universitas Terbuka (UT), 42 tahun bukan sekadar angka. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus menengok arah pendidikan di masa depan.
Suasana itu terasa dalam Tasyakuran Dies Natalis ke-42 UT yang digelar di UT Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (14/9/2026). Mengusung tema “Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri”, peringatan tersebut menjadi ruang untuk berbicara tentang inovasi, pendidikan, dan manusia yang berada di balik keduanya.
Selama 42 tahun, UT terus memperluas akses pendidikan tinggi ke berbagai wilayah Indonesia hingga menjangkau mahasiswa di lebih dari 58 negara. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa jarak bukan lagi batas untuk memperoleh pendidikan. Namun, semakin luas pendidikan menjangkau masyarakat, semakin penting pula memastikan ilmu yang diberikan mampu membawa manfaat.


Di hadapan peserta tasyakuran, Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., mengingatkan bahwa inovasi tidak cukup hanya bertumpu pada kecerdasan. Inovasi membutuhkan arah agar kemajuan yang dihasilkan tetap berpijak pada nilai.
“Inovasi tanpa landasan akhlak dan superioritas yang tinggi ibarat kapal tanpa kompas,” ujar Ali.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi bukan sekadar menghadirkan sesuatu yang baru. Di dalamnya ada tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan dan kecerdasan digunakan untuk memberikan manfaat.
Pesan mengenai pentingnya nilai tersebut juga mengemuka dalam tausiyah Prof. Syaikh H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D. Ia menempatkan pendidikan sebagai salah satu kunci kemajuan dan martabat bangsa. Menurutnya, perubahan zaman justru menuntut manusia untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan.
Abdul Somad tidak hanya menyampaikan gagasan itu sebagai teori. Ia menceritakan perjalanan pendidikannya sendiri. Dahulu, ia ingin bekerja dan menjalani kehidupan sederhana. Namun, dorongan sang ibu untuk terus bersekolah membawanya menempuh pendidikan lebih jauh hingga melanjutkan studi ke Mesir.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana keputusan untuk terus menempuh pendidikan dapat membuka kesempatan baru dalam perjalanan hidup seseorang.
Bagi Abdul Somad, pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademik. Pendidikan juga membentuk manusia agar mampu menghadapi kesulitan, terus berjuang, dan berdiri secara mandiri.
Di titik inilah tema “Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri” menemukan maknanya. Mendunia bukan hanya tentang seberapa jauh UT mampu menjangkau dunia. Inovasi pun bukan sekadar tentang sesuatu yang baru. Keduanya membutuhkan manusia yang terus belajar, memiliki nilai, dan mampu mengubah ilmu menjadi manfaat.
Dari Mataram, HUT ke-42 UT menjadi pengingat bahwa semakin jauh pendidikan melangkah, semakin penting pula arah yang dituju. Inovasi harus terus dikembangkan, akses pendidikan perlu diperluas, tetapi ilmu dan akhlak tetap menjadi fondasinya.
Sebab, pendidikan yang berarti bukan hanya membuka pintu bagi seseorang untuk mencapai masa depan, tetapi juga membuka jalan agar ilmu yang dimilikinya dapat memberi dampak bagi negeri.



