Tangerang Selatan – Sebuah kapal tidak dibuat untuk selamanya bersandar di dermaga. Ia harus berlayar, menembus ombak, menghadapi perubahan arah angin, lalu menemukan tujuan baru.
Begitu pula Universitas Terbuka (UT) ketika memasuki usia ke-42. Bagi perguruan tinggi yang sejak awal dibangun untuk membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya, bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti. Justru menjadi momentum untuk kembali melihat sejauh mana pendidikan dapat menjangkau lebih banyak orang dan memberi dampak yang lebih luas.

Semangat itulah yang terasa dalam puncak Dies Natalis ke-42 UT dengan tema “Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri”. Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. menegaskan, UT tidak boleh terlena dengan capaian yang telah diraih. Di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat yang bergerak cepat, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan masa depan ke masa kini.
Perubahan itu kini terlihat dari wajah UT yang semakin digital. Mahasiswa dapat mengakses proses akademik dari admisi, pembelajaran hingga ujian melalui ekosistem digital yang terus diperkuat. Bahkan ketika jumlah mahasiswa terus bertambah, layanan tutorial dan ujian tetap dikembangkan agar mampu menampung kebutuhan belajar dalam skala besar.
Di balik transformasi tersebut, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kualitas.
UT terus membenahi kurikulum, memperbarui bahan ajar, memperkuat sistem pembelajaran, sekaligus mendorong dosen dan peneliti menghasilkan lebih banyak karya ilmiah. Upaya itu menjadi bagian dari perjalanan UT untuk memastikan bahwa pendidikan yang dapat diakses dari mana saja tetap memiliki standar akademik yang kuat.
Kepercayaan masyarakat pun tercermin dari jumlah mahasiswa UT yang kini mencapai 856.444 orang. Angka tersebut sekaligus membawa UT semakin dekat dengan target besar yang dicanangkan Rektor, yakni melayani 1 juta mahasiswa.
Namun, satu juta bukan sekadar angka. Di dalamnya ada satu juta perjalanan, cita-cita, dan alasan berbeda mengapa seseorang memilih tetap belajar. Ada mereka yang bekerja sambil kuliah, tinggal jauh dari pusat pendidikan, maupun membutuhkan ruang belajar yang lebih fleksibel. Di sinilah misi awal UT kembali menemukan relevansinya: menghadirkan pendidikan tinggi bagi mereka yang membutuhkan akses.
Semangat membuka akses tersebut juga berjalan seiring dengan komitmen UT terhadap pembangunan berkelanjutan. Dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026, UT berada di peringkat 801–1000 dunia dan telah berkontribusi pada seluruh 17 Sustainable Development Goals (SDGs).
Artinya, pendidikan bagi UT tidak berhenti pada kegiatan belajar-mengajar. Pendidikan menjadi pintu untuk memperluas kesempatan, mengurangi kesenjangan, mendorong inovasi, membuka peluang kerja, dan membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan. Nilai tersebut sejalan terutama dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, sekaligus bersinggungan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan.
Langkah berikutnya pun mulai disiapkan. UT akan mengembangkan Sekolah Vokasi yang dirancang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Kemitraan dengan dunia industri dan berbagai lembaga menjadi bagian penting agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik dan magang yang relevan.
Bagi Ali, perjalanan sebesar itu tidak mungkin dilakukan sendirian. Ia menyebut keluarga besar UT sebagai sebuah superteam. “Tidak ada superman di UT, yang ada adalah superteam. Kita semua adalah superteam!”
Pesan tersebut menjadi penutup yang sederhana, tetapi penting. Sebab, setelah 42 tahun, perjalanan UT sesungguhnya belum selesai.
Dari Tangerang Selatan, kapal besar itu kembali bersiap berlayar. Tujuannya bukan sekadar menjadi perguruan tinggi dengan mahasiswa terbanyak, teknologi yang semakin canggih, atau peringkat yang semakin tinggi. Lebih dari itu, UT ingin memastikan semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengubah masa depannya.

Karena pada akhirnya, mendunia bukan tentang seberapa jauh UT melangkah, tetapi seberapa luas manfaat yang bisa dibawa pulang untuk negeri.


