Perkembangan teknologi di era digital yang kian pesat telah melahirkan berbagai inovasi dan perubahan di masyarakat. Salah satunya adalah munculnya Metaverse. Metaverse dapat didefinisikan sebagai ruang virtual di mana seseorang dapat berinteraksi dengan pengguna lainnya tanpa harus berada di ruang fisik yang sama.
Universitas Terbuka sebagai institusi pendidikan yang menerapkan sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) selalu mengedepankan penggunaan teknologi dan turut menjadi bagian dari setiap tahap perkembangannya. Selaras dengan hal itu, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Terbuka (FHISIP-UT) kembali menggelar Open Society Conference yang keempat The 4th Open Society Conference. Konferensi Internasional tahunan ini diselenggarakan secara daring pada tanggal 7 Juli 2022 melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal UT TV dengan mengangkat tema Perspectives and Impacts of Metaverse on Sustainable Development Goals.
Acara terlebih dahulu dibuka oleh laporan dari ketua komite Megafury Apriandhini, S.H., M.H. dan dilanjutkan oleh sambutan dari Dekan FHISIP Dr. Sofjan Aripin, M.Si. Kata sambutan turut disampaikan oleh Rektor UT Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D.
Terselenggaranya konferensi ini diharapkan dapat memberikan kesadaran dan pengetahuan akan Multiverse kepada praktisi pendidikan dan masyarakat luas, memberikan informasi tentang dampak dari Multiverse, serta progres penelitian tentang Multiverse terutama hubungannya dengan realisasi SDG (Sustainable Development Goals).

Selanjutnya, Dedy Permadi, SIP, M.A., Ph.D. yang merupakan akademisi dan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia turut hadir sebagai pembicara kehormatan. Ia menyampaikan bahwa dewasa ini berbagai industri telah mulai bergeser untuk memanfaatkan Metaverse. Seperti industri fashion yang dapat menyelenggarakan fashion show dan transaksi penjualan di dalam Metaverse. Namun, kehadiran Metaverse ini juga mengakibatkan jejak karbon yang cukup besar. Maka dari itu, perkembangan teknologi ini harus disertai dengan penerapan ICT Ecosystem. Ekosistem yang mengedepankan low carbon and green development demi mewujudkan Indonesia yang terkoneksi dan berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan disambung dengan sesi diskusi panel pertama yang menghadirkan dua pembicara. Pembicara pertama, Dr. Liew Voon Kiong selaku Co-Founder & Chief Business Officer Centriverse Malaysia menyampaikan presentasi tentang definisi dan karakteristik dari Metaverse yaitu sinkronisasi dan langsung; tetap; pengguna yang tak terbatas; rasa keberadaan; ekonomi yang berfungsi; interoperabilitas data, asset digital, dan konten; dan konten buatan pengguna (user-generated content). Turut disampaikan bahwa kehadiran Metaverse ini tidak hanya memberikan keuntungan dan dampak positif namun juga dapat berdampak negatif terhadap psikis dari penggunanya. Maka dari itu, masyarakat diharapkan dapat menggunakannya dengan bijak.
Kegiatan dilanjutkan oleh pemaparan materi dari Dr. Indrawan Nugroho yang merupakan CEO & Co-Founder dari CIAS (Corporate Innovation Asia). Presentasi berfokus pada bagaimana metaverse berdampak pada pemelajaran dan perkembangan kooperatif. Kehadiran Metaverse melalui Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Mixed Reality (MR) mampu memberikan pengalaman belajar yang melebih dari proses pembelajaran tradisional. Hal ini tentunya membawa banyak keuntungan dan manfaat bagi pelajar. Dalam Metaverse, pelajar dapat mendapatkan panduan interaktif yang mendalam, mendapat pengalaman belajar yang adaptif, serta dapat dengan bebas bereksperimen dan berkarya. Menurut Indra, hal ini sangatlah penting karena ia percaya bahwa cara terbaik belajar adalah melalui pengalaman dibandingkan dengan hanya membaca dan memahami materi dari buku.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi paralel yang dibagi menjadi tujuh sub-tema: (1) Cyber Security Challenges in Law Perspective; (2) Digital Transformation and the Changing Social Lifestyle; (3) Human Capital Development through Metaverse; (4) Library and Information System in Metaverse Society; (5) Creative Digital Economy through the World of Metaverse; (6) Trends and Directions of Translation in Metaverse; (7) The Future of Governance in the Metaverse World.

Sesi diskusi panel kedua menghadirkan dua pembicara yang relevan dan berpengalaman dengan tema yang diangkat. Dr. Utz Johann Pape selaku Senior Economist, Poverty & Equity Global Practice dan Global Lead for Data for Operational Impact di World Bank menyampaikan presentasi mengenai Harnessing Digital Technologies for Inclusion in Indonesia. Dalam pemaparannya ia menyampaikan bahwa untuk dapat terhubung ke metaverse, harus ada kesamarataan dalam hal koneksi internet agar semua pihak dapat ikut serta dalam perkembangan teknologi ini. Kemampuan digital juga patut dikembangkan agar ekonomi digital di Indonesia dapat berjalan dengan semestinya. Masyarakat Indonesia disarankan untuk memiliki literasi digital yang mumpuni. Kesempatan digital ini dinilai dapat menjadi pendobrak ekonomi digital Indonesia.
Presentasi dilanjutkan oleh Prof. Dr. Daryono, S.H., M.A., Ph.D., Profesor pada FHISIP-UT dengan fokus kerangka hukum dan isu hukum pada Metaverse. Hukum menjadi suatu hal yang krusial pada metaverse karena terjadi transaksi antar pengguna di dalamnya. Avatar di dalam Metaverse akan menjadi pengganti pengguna aslinya ketika bertransaksi secara virtual. Ia juga menyampaikan bahwa kedepannya landasan hukum untuk virtual estate harus dibentuk karena dinilai kegiatan jual beli virtual estate akan semakin meningkat.
The 4th Open Society Conference ditutup oleh Dekan FHISIP-UT disertai dengan pengumuman pemenang Best Paper yang diraih oleh Andre Iman Syafroni & Vica Ananta Kusuma dan Bani Pamungkas serta Best Presenter yang diraih oleh Arif Darmawan dan Dewi Nilam Tyas.



