Di Tengah Disrupsi Dunia, UT Ingatkan Pentingnya Pancasila sebagai Kompas Bangsa

Di Universitas Terbuka, jarak bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan ribuan kisah belajar dari seluruh penjuru negeri. Dari mahasiswa di kota besar, guru di pulau terluar, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri, semuanya hadir dalam satu ruang akademik yang sama ruang tanpa batas yang merepresentasikan wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, namun tetap satu.

Di tengah dunia yang masih diliputi polarisasi, disrupsi digital, dan ketegangan global yang terus menguji kohesi sosial, semangat itu kembali diteguhkan dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di lingkungan Universitas Terbuka (UT), yang digelar di Halaman Gedung Puslata UT Pusat, Selasa (2/6/2026). Momentum ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tetap tegak karena memiliki Pancasila sebagai fondasi persatuan.

Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, upacara berlangsung khidmat dengan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., bertindak sebagai pembina upacara. Pimpinan dan pegawai UT berdiri dalam barisan yang tertib, mengikuti rangkaian upacara dengan suasana reflektif, seolah menegaskan kembali komitmen kebangsaan di tengah dinamika zaman yang kian kompleks.

Namun pagi itu, yang hadir bukan sekadar seremoni kenegaraan. Ada suasana kontemplatif yang terasa kuat: tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan, di tengah dunia yang berubah begitu cepat.

Dalam amanat yang dibacakannya, Rektor menyampaikan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia yang menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya warisan sejarah, melainkan kompas moral bangsa. Ia menjadi “bintang penuntun” sekaligus “jangkar moral” yang menjaga arah perjalanan Indonesia di tengah tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, konflik geopolitik, hingga menguatnya fragmentasi sosial.

Indonesia, dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan suku bangsa, disebut tetap kokoh karena nilai-nilai Pancasila yang menyatukan perbedaan menjadi kekuatan.

Pesan tersebut menemukan relevansinya secara nyata dalam ekosistem Universitas Terbuka.

Sebagai perguruan tinggi negeri dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT telah lama menjadi ruang inklusif bagi seluruh anak bangsa tanpa batas geografis maupun sosial. Di dalamnya, mahasiswa dari berbagai latar belakang pekerja, aparatur desa, ibu rumah tangga, hingga diaspora Indonesia belajar bersama dalam satu sistem yang setara.

Di sinilah Pancasila tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir dalam praktik keseharian.

Ketika akses pendidikan dibuka seluas-luasnya bagi mereka yang sebelumnya terpinggirkan oleh jarak dan keterbatasan ekonomi, nilai keadilan sosial bekerja secara nyata. Ketika keberagaman mahasiswa dipertemukan dalam satu sistem pembelajaran, nilai persatuan tidak lagi menjadi slogan, melainkan pengalaman hidup.

Karena itu, semangat Hari Lahir Pancasila memiliki makna yang sangat dekat dengan identitas Universitas Terbuka: membuka kesempatan, merawat kesetaraan, dan memperkuat persatuan melalui pendidikan.

Dalam pidato BPIP juga ditegaskan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut mewujudkan perdamaian dunia melalui keadilan dan kemanusiaan. Peran tersebut tidak hanya lahir dari diplomasi politik, tetapi juga dari pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, toleran, dan berwawasan global.

Di titik ini, peran UT menjadi semakin strategis. Melalui transformasi digital dan inovasi pembelajaran, UT memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat di berbagai wilayah, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).

Lebih jauh, pidato BPIP menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai living ideology nilai yang hidup dalam tindakan nyata, bukan sekadar hafalan atau simbol formalitas.

Pesan itu menjadi pengingat penting bagi dunia pendidikan: bahwa kecerdasan tanpa karakter hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh. Pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan mampu menjaga harmoni sosial.

Peringatan Hari Lahir Pancasila di Universitas Terbuka tahun ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar upacara. Ia menjadi refleksi bahwa menjaga Indonesia tidak selalu dilakukan di ruang-ruang besar kekuasaan, melainkan juga dari ruang-ruang belajar yang sederhana namun berdampak luas.

Dari kampus tanpa batas ini, semangat Pancasila terus bergerak melintasi jarak, menyatukan keberagaman, dan menguatkan harapan bahwa pendidikan adalah jalan sunyi namun pasti menuju Indonesia yang lebih adil, bersatu, dan berkontribusi bagi perdamaian dunia.