Tangerang Selatan, 20 Agustus 2025—Universitas Terbuka (UT) melalui Direktorat Humas dan Pemasaran (DPKS) terus memperkuat tata kelola kehumasan dan komunikasi publik dengan menggandeng Direktorat Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek), Kemendiktisaintek. Workshop Strategi Kehumasan Adaptif di Era Digital untuk Mewujudkan Universitas Terbuka sebagai Kampus Berdampak” ini digelar di Ruang Rasamala, Wisma II, Kantor Pusat UT, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Workshop ini dihadiri narasumber dari Diktisaintek, yakni Doddy Zukkifli Indra Atmaja, S.I.Kom., M.Si., Kepala Bagian Humas dan Protokol, Biro Umum, Humas, dan Pengadaan Barang dan Jasa Kemdiktisaintek. Selain itu acara ini dihadiri oleh para Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran, dan Kerja Sama, Staf Ahli Wakil Rektor Bidang Akademik (Kantor WR 1), Bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan (Kantor WR 3), Bidang Staf Ahli Bidang Pemasaran, Kerja Sama, dan Kehumasan (Kantor WR4), seluruh staf humas UT Pusat.


Direktur Pemasaran dan Kerja Sama (DPKS) UT, Ali Tarigan, S.E. menegaskan bahwa humas memiliki posisi strategis dalam menentukan citra dan reputasi lembaga. “Kegiatan penguatan kapasitas kehumasan menjadi penting karena posisi humas di perguruan tinggi tidak hanya sebatas penyampai informasi, tetapi juga penentu citra, penjaga reputasi, dan motor penggerak branding institusi. .Universitas Terbuka sebagai Kampus Digital, Terbuka, dan Berkelanjutan perlu mengoptimalkan strategi komunikasi publik agar semakin dikenal, dipercaya, dan diakui kontribusinya oleh masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” jelasnya.
Direktur DPKS dalam membuka acara menyampaikan bahwa tugas humas semakin kompleks seiring hadirnya misi baru pemerintah tentang kampus berdampak. Menurutnya, humas UT memiliki peran penting dalam mengisi website dan kanal resmi media sosial UT dengan konten yang berkualitas agar mampu menghadapi tantangan komunikasi publik yang dinamis.
“DPKS berupaya mengolah dan mengeksplorasi publikasi agar lebih terjamin kualitasnya, terutama konten sains dan inovasi yang berdampak. Namun, ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh lini humas di fakultas dan UT Daerah. Semoga niat bersama ini dapat meningkatkan kualitas publikasi dan menciptakan citra positif di masyarakat,” ujarnya.
Sebagai narasumber utama, Doddy Zulkifli Indra Atmaja, S.I.Kom., M.Si., Kepala Bagian Humas dan Protokol, Biro Umum, Humas, dan Pengadaan Barang dan Jasa Kemendiktisaintek, menekankan bahwa komunikasi publik adalah instrumen vital dalam membangun hubungan sehat antara institusi dan masyarakat. Dalam paparannya, ia menguraikan formula komunikasi efektif dengan pendekatan Lasswell’s Formula (Who Says What to Whom, Through Which Channel, With What Effect) serta menekankan pentingnya strategi komunikasi yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti.
Doddy menjelaskan bahwa humas memiliki peran strategis dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, membangun citra dan reputasi, memberdayakan masyarakat, serta menangkal hoaks. Ia juga menekankan peran mahasiswa sebagai agen komunikasi publik melalui berbagai kanal media sosial, podcast, dan laman resmi, yang dapat memperkuat citra perguruan tinggi. “Komunikasi publik yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat,” tegasnya.
Pada sesi diskusi, Doddy Zulkifli, Kom., M.Si. membawakan materi terkait komunikasi publik di era Diktisaintek Berdampak. Beliau menekankan pentingnya strategi komunikasi publik suatu lembaga yang menonjolkan keunggulan serta membedakannya dari institusi lain.
“Penting bagi humas untuk memahami kebutuhan audiens, menentukan konten yang tepat, serta menghindari noise dalam komunikasi. Informasi yang tidak hanya tersampaikan tetapi juga mampu memengaruhi sikap dan perilaku, menunjukkan bahwa strategi komunikasi berhasil,” terangnya.
Beliau pun menyoroti peran humas tidak harus selalu terstruktur secara formal, melainkan siapa pun yang mendukung pelayanan informasi dapat berperan sebagai humas.
“Peran humas adalah membentuk, memelihara, dan meningkatkan reputasi positif institusi. Selain itu, humas harus siap memberi solusi, mendukung pimpinan, serta menjaga keterbukaan informasi publik,” tegasnya.
Ia juga memperkenalkan Anugerah Humas Diktisaintek (AHD) 2025 dengan tema “Diktisaintek Berdampak” sebagai momentum peningkatan kualitas publikasi, pengelolaan media sosial, dan penguatan unit kehumasan di PTN, PTS, maupun LLDikti. Kompetisi ini diharapkan memacu humas perguruan tinggi, termasuk UT, untuk menghadirkan konten publikasi yang kreatif, kredibel, dan berdaya saing nasional maupun internasional.
Melalui kegiatan ini, UT menegaskan kontribusinya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (pendidikan berkualitas) dengan menghadirkan akses informasi akademik yang terbuka dan transparan, SDG 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) dengan penguatan kapasitas humas dan digitalisasi layanan, SDG 11 (kota dan komunitas berkelanjutan) melalui literasi digital dan komunikasi publik yang sehat, serta SDG 17 (kemitraan untuk tujuan) melalui kolaborasi erat dengan Diktisaintek dan mitra strategis lainnya.
Workshop ini menjadi tonggak penting penguatan kapasitas kehumasan UT yang adaptif di era digital, dengan semangat Kampus Berdampak yang tidak hanya mendidik tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia menuju Indonesia Emas 2045.



