UT Wakili Indonesia dalam ASEAN Policy Forum di Korea Selatan, Bahas Teknologi untuk Pembangunan Daerah

SEONGNAM, KOREA SELATAN – Ketika berbagai negara berlomba memanfaatkan teknologi untuk menjawab tantangan pembangunan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah teknologi diperlukan, melainkan bagaimana teknologi dapat benar-benar mengubah kehidupan masyarakat dan memperkuat daya saing wilayah. Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam The 4th ASEAN Policy Forum di Seongnam, Korea Selatan, sebuah forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan perumus kebijakan dari berbagai negara untuk membahas masa depan pembangunan regional di era digital.

Di tengah percakapan tersebut, Indonesia turut membawa perspektifnya melalui partisipasi Universitas Terbuka (UT). Kehadiran UT dalam forum yang diselenggarakan oleh Seongnam Research Institute (SNRI) itu menjadi bagian dari upaya memperkaya dialog regional mengenai pemanfaatan teknologi tinggi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat tata kelola, dan menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Mengusung tema High Technology for Regional Development, forum ini tidak hanya membahas inovasi dalam pengertian teknis. Lebih jauh, diskusi berkembang pada bagaimana teknologi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi lokal, pengembangan kawasan perkotaan, hingga transformasi layanan publik.

Delegasi UT dipimpin oleh Rektor Universitas Terbuka Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., bersama Dr. Halim Dedy Perdana, S.E., M.SM selaku Kepala Laboratorium/Bengkel/Studio Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Krist Setyo Yulianto, S.E., M.Acc., dosen Program Studi Akuntansi Keuangan Publik Universitas Terbuka.

Dalam forum tersebut, Dr. Halim Dedy Perdana tampil sebagai pembicara utama dengan membawakan topik “High Technology for Regional Development: A Case Study in Indonesia”. Melalui presentasi tersebut, ia menyoroti bagaimana inovasi teknologi dapat menjadi salah satu pengungkit penting dalam meningkatkan daya saing daerah dan mendorong transformasi ekonomi lokal yang berbasis pengetahuan.

Perspektif Indonesia kemudian berjumpa dengan berbagai pengalaman dari negara lain. Diskusi panel yang melibatkan Prof. Ali Muktiyanto dan Krist Setyo Yulianto bersama akademisi internasional, termasuk Prof. Jin-kwang So dari Gachon University, menghadirkan pertukaran gagasan mengenai strategi pembangunan wilayah yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat.

Pertemuan lintas negara itu semakin menarik ketika forum menghadirkan pengalaman Korea Selatan dalam mengelola pembangunan perkotaan. Research Fellow SNRI Dr. Hee-ju Kim memaparkan strategi penguatan functional centrality melalui pendekatan transit-oriented development (TOD), yang menunjukkan bagaimana tata ruang, teknologi, dan kebijakan publik dapat dirancang secara terintegrasi untuk mendorong pertumbuhan kawasan yang lebih efektif.

Bagi delegasi UT, pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang presentasi. Pembahasan mengenai sistem e-government Kota Seongnam menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian khusus. Pengalaman kota tersebut menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat digunakan untuk memperkuat tata kelola sekaligus meningkatkan kualitas layanan publik. Ketertarikan UT terhadap praktik tersebut membuka peluang untuk melakukan benchmarking sebagai bagian dari penguatan sistem tata kelola institusi berbasis digital.

Direktur Seongnam City Policy Research Institute, Dr. Lim Jong-soon, yang memimpin lembaga tersebut sejak berdiri pada Juli 2023, turut hadir dalam forum dan memperkuat posisi pertemuan ini sebagai ruang kolaborasi yang menjembatani riset, inovasi, dan perumusan kebijakan di tingkat internasional.

Rektor Universitas Terbuka Prof. Dr. Ali Muktiyanto menegaskan bahwa partisipasi UT dalam forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kontribusi akademik Indonesia dalam isu-isu global yang berkaitan dengan teknologi dan pembangunan regional.

“Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga membuka peluang konkret untuk kolaborasi riset, pengembangan kebijakan, serta penguatan kapasitas institusi berbasis teknologi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan arah yang semakin penting dalam dunia pendidikan tinggi saat ini. Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks dan saling terhubung, kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Karena itu, forum ini juga membuka peluang kerja sama riset, publikasi bersama, serta pengembangan program akademik berbasis internasional antara UT dan berbagai institusi mitra di Korea Selatan, termasuk SNRI.

Dari Seongnam, yang dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem inovasi yang berkembang pesat di Korea Selatan, UT tidak hanya membawa pulang pengalaman dan jejaring baru. Forum ini juga memperlihatkan bagaimana pertukaran pengetahuan lintas negara dapat menjadi jembatan untuk melahirkan gagasan, kemitraan, dan solusi yang semakin relevan bagi pembangunan regional di masa depan. Di tengah arus transformasi teknologi yang terus bergerak cepat, percakapan semacam inilah yang menjadi fondasi bagi lahirnya kolaborasi yang mampu melampaui batas geografis sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam panggung global.