Dulu Dibuang, Kini Dilihat sebagai Peluang: UT Palu Ajak Pemuda Desa Pulu Olah Limbah Mebel

Di tangan yang tepat, sesuatu yang dianggap tidak berguna bisa berubah menjadi peluang. Potongan kayu sisa mebel yang sebelumnya berakhir sebagai limbah kini mulai dipandang berbeda oleh pemuda Desa Pulu, Kabupaten Sigi. Dari bahan yang nyaris tak bernilai itu, muncul gagasan untuk menciptakan cenderamata, membangun produk berbasis potensi lokal, sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.

Semangat tersebut didorong Universitas Terbuka (UT) Palu melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pemuda Karang Taruna Mekar Jaya Desa Pulu dalam Pemanfaatan Limbah Mebel Menjadi Cenderamata Bernilai Ekonomis dan Kreatif serta Strategi Pemasaran Produk”, Rabu (19/8/2026), di Desa Pulu, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.

Kegiatan ini menyasar pemuda Karang Taruna Mekar Jaya Desa Pulu dengan tujuan meningkatkan kapasitas mereka dalam mengolah limbah mebel menjadi produk kreatif yang memiliki nilai estetika dan nilai jual. Bukan hanya belajar membuat produk, para peserta juga dibekali pengetahuan untuk melihat limbah sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi ekonomi.

Kegiatan tersebut diketuai Yuyun Yunita Puspa, dosen Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka, dengan anggota tim PKM Steviani Batti’ Wijanarko dan Usy Nora Manurung.

Melalui kegiatan ini, pemuda diperkenalkan pada berbagai kemungkinan pemanfaatan sisa bahan kayu dari industri mebel. Material yang sebelumnya dianggap sebagai barang sisa dapat diolah kembali menjadi cenderamata dengan desain kreatif dan sentuhan identitas lokal.

Dampaknya tidak berhenti pada kemampuan mengolah bahan. UT Palu juga membekali peserta dengan strategi agar produk yang mereka hasilkan memiliki peluang untuk benar-benar masuk ke pasar. Materi mencakup penentuan target konsumen, pengembangan kemasan, pembangunan identitas produk, penetapan harga, hingga pemanfaatan media digital untuk promosi dan pemasaran.

Langkah tersebut penting karena keterampilan produksi tanpa kemampuan memasarkan akan sulit berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu, para pemuda tidak hanya didorong menjadi pembuat produk, tetapi juga calon pelaku usaha yang mampu mengenali pasar dan memperkenalkan produk mereka kepada konsumen.

Ketua tim PKM, Yuyun Yunita Puspa, menyampaikan bahwa pemanfaatan limbah mebel merupakan salah satu peluang yang dapat dikembangkan oleh pemuda desa. Dengan kreativitas dan keterampilan memadai, bahan yang sebelumnya menjadi limbah dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Bagi Karang Taruna Mekar Jaya, pendekatan tersebut membuka kemungkinan baru. Pemuda dapat mengembangkan kegiatan produktif dengan memanfaatkan sumber daya yang selama ini berada di sekitar mereka. Dalam jangka panjang, produk cenderamata berbasis limbah mebel berpeluang menjadi bagian dari ekonomi kreatif desa sekaligus menciptakan alternatif peluang usaha.

Dampaknya juga menyentuh aspek lingkungan. Pemanfaatan kembali bahan sisa membantu mengurangi limbah dan memperpanjang masa guna material. Dengan demikian, upaya meningkatkan nilai ekonomi berjalan beriringan dengan praktik konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Bagi UT Palu, PKM ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan ilmu pengetahuan dalam bentuk yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, pengabdian diarahkan tidak hanya pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada penguatan keterampilan, peluang ekonomi, dan kesadaran lingkungan yang dapat terus dikembangkan masyarakat.

Sebab, dampak sebuah pengabdian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia berawal dari sepotong kayu yang selama ini dibuang, kemudian bertemu dengan kreativitas anak muda. Dari sana, lahir sebuah produk, tumbuh sebuah peluang usaha, dan terbuka kemungkinan bagi Desa Pulu untuk mengubah apa yang tersisa menjadi sesuatu yang bernilai bagi masa depan.