522 Bibit Kelapa Jadi Awal, UT Yogyakarta Dorong Pekarangan Warga Kulon Progo Lebih Produktif

Di Sidomulyo, Kulon Progo, sebuah pekarangan tidak lagi dipandang sekadar halaman rumah. Di balik lahan yang mungkin selama ini belum dimanfaatkan maksimal, ada peluang untuk menumbuhkan sesuatu yang lebih bernilai: aset yang bisa dirawat hari ini dan menghasilkan manfaat ekonomi pada tahun-tahun mendatang.

Peluang itulah yang coba dibangun Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta melalui pengembangan Kelapa Genjah Entok bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Mantep. Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Kelapa Genjah Entok”, UT tidak hanya membawa bibit, tetapi juga pengetahuan agar masyarakat mampu mengelolanya hingga menjadi sumber daya produktif.

Sekitar 50 anggota KTH Giri Mantep mengikuti kegiatan tersebut. Sebanyak 522 bibit Kelapa Genjah Entok dan 30 karung pupuk kandang diserahkan sebagai dukungan awal untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan dan lahan yang tersedia.

Jumlah itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi program pemberdayaan masyarakat, yang jauh lebih penting bukan berapa banyak bibit yang dibagikan, melainkan apa yang terjadi setelah bibit tersebut sampai ke tangan warga.

Karena itu, program yang diketuai Dwi Riyanti, S.Pd., M.Pd., tersebut dirancang agar tidak berhenti pada penanaman. Masyarakat juga dibekali edukasi mengenai budidaya, pemeliharaan, hingga potensi ekonomi Kelapa Genjah Entok.

“Kami ingin bibit yang diberikan tidak berhenti sebagai tanaman, tetapi dapat menjadi aset produktif yang dikelola masyarakat. Karena itu, pengetahuan tentang budidaya, pemeliharaan hingga pemanfaatan hasil menjadi bagian penting dari program,” ujar Dwi Riyanti (19/8/26).

Bagi Dwi, bibit hanyalah awal. Tantangan sebenarnya justru dimulai setelah tanaman tumbuh. Masyarakat perlu memastikan tanaman tetap produktif, memahami cara mengelolanya, kemudian melihat peluang agar hasilnya bisa memberikan nilai tambah.

“Pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses. Setelah bibit ditanam, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu merawat dan mengelolanya sehingga ke depan dapat memberikan hasil dan manfaat ekonomi,” kata Dwi.

Penanaman seluruh bibit akan dilakukan saat memasuki musim hujan agar kondisi tanah dan ketersediaan air lebih mendukung pertumbuhan. Dengan begitu, proses yang dimulai dari pemberian bibit dapat berlanjut menjadi pengelolaan tanaman secara berkelompok.

Di titik inilah kolaborasi menjadi penting. Pendampingan tersebut turut melibatkan UT Yogyakarta, pemerintah setempat, penyuluh kehutanan, dan kelompok tani. Direktur UT Yogyakarta Prof. Dr. Agus Santoso, M.Si., hadir bersama Kasie Pembangunan/Ulu-ulu Eni Harwati, PPL Kehutanan Provinsi DIY Beja, serta perwakilan KTH Giri Mantep, Kriyanto. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan memastikan pendampingan tidak berakhir ketika bibit berpindah tangan.

Dalam jangka panjang, KTH Giri Mantep diharapkan mampu mengembangkan Kelapa Genjah Entok sebagai tanaman produktif sekaligus membuka peluang usaha berbasis hasil pertanian dan pekarangan. Ketika tanaman mulai menghasilkan, manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada konsumsi rumah tangga, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah dan sumber pendapatan berkala.

Gagasan tersebut juga selaras dengan semangat SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Sebab, pemberdayaan yang sesungguhnya bukan tentang seberapa banyak bantuan yang diberikan pada satu hari, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu berdiri di atas potensinya sendiri setelah kegiatan berakhir. Di Sidomulyo, 522 bibit Kelapa Genjah Entok kini menjadi titik awal. Sisanya adalah cerita yang akan ditulis warga sendiri—tentang lahan yang mulai hidup, tanaman yang bertumbuh, dan peluang ekonomi yang perlahan ikut berakar.