Bagi sebagian orang, pulang kerja mungkin berarti waktunya beristirahat dan melupakan sejenak rutinitas harian. Namun bagi lima pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, malam justru menjadi awal dari “shift” kedua mereka. Setelah menjalani tugas sebagai petugas pemasyarakatan, mereka kembali membuka laptop, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, hingga menuntaskan mimpi yang selama ini diam-diam terus diperjuangkan: menjadi sarjana.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Lima pegawai Lapas Geser resmi diwisuda dalam program Sarjana Universitas Terbuka tahun akademik 2025/2026 pada prosesi yang berlangsung di Aula Islamic Center Ambon, Sabtu (23/5/2026). Momen tersebut terasa semakin spesial setelah dua di antaranya berhasil mencatatkan prestasi membanggakan sebagai lulusan terbaik di lingkungan UT Ambon. Alfianti Jessica dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik I, sementara Ali Safa’at meraih predikat Lulusan Terbaik II.
Pencapaian itu bukan sekadar soal nilai akademik atau seremoni mengenakan toga di atas panggung wisuda. Di balik senyum bahagia mereka, ada perjalanan panjang yang harus dilalui dari wilayah kepulauan dengan akses dan tantangan yang tidak selalu mudah. Kelima pegawai tersebut menyelesaikan studi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka melalui Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) di Bula, yang berada di bawah koordinasi UT Daerah Ambon. Di tengah kesibukan pekerjaan dan keterbatasan jarak, mereka tetap memilih bertahan dan menyelesaikan pendidikan hingga akhir.
Cerita mereka terasa dekat dengan banyak orang yang pernah berada di posisi harus membagi waktu antara pekerjaan, tanggung jawab hidup, dan pendidikan. Ada rasa lelah yang harus disimpan sendiri, ada tugas kuliah yang dikerjakan setelah jam kerja, hingga perjuangan menjaga semangat ketika kondisi tidak selalu berjalan ideal. Namun justru dari situ, kisah lima pegawai Lapas Geser ini terasa memiliki daya hidup tersendiri. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan wilayah dan padatnya pekerjaan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.
Pada momen wisuda, Alfianti Jessica menyampaikan rasa syukur sekaligus pesan yang cukup menyentuh kepada para wisudawan lainnya. Ia mengajak seluruh lulusan Universitas Terbuka untuk menjadi pribadi yang kompeten, tangguh, melek teknologi, dan mampu memberikan dampak positif bagi negara. Menurutnya, keberhasilan hari itu bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang keberanian mempertahankan mimpi di tengah berbagai tantangan.
“Hari ini kita telah memenangkan salah satu dari mimpi besar dalam hidup kita, karena itu jangan pernah takut untuk bermimpi dan jangan pernah menyerah ketika menghadapi kegagalan, sebab kegagalan bukan akhir dari perjalanan melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan, selamat dan sukses kepada wisudawan dan wisudawati Universitas Terbuka Ambon, mari terus belajar dan terus mengabdi bagi masyarakat dan negara, banggalah menjadi lulusan Universitas Terbuka,” tutur Alfianti.
Rasa bangga juga disampaikan Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, yang mengikuti prosesi wisuda melalui kanal YouTube UT Ambon TV. Meski menyaksikan dari kejauhan, ia mengaku turut merasakan kebahagiaan atas capaian para pegawainya, terutama Alfianti Jessica dan Ali Safa’at yang berhasil mengharumkan nama Lapas Geser melalui predikat lulusan terbaik. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa aparatur sipil negara tetap mampu meningkatkan kompetensi diri di tengah keterbatasan yang ada.
“Prestasi gemilang ini membuktikan bahwa keterbatasan jarak tidak menghalangi aparatur sipil negara untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Ilmu Hukum yang telah diraih ini diharapkan dapat diterapkan langsung dalam meningkatkan kualitas pembinaan dan pelayanan publik di Lapas Geser. Semoga keberhasilan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh jajaran pegawai lainnya untuk terus belajar dan berprestasi,” ujar Nober.
Di tengah derasnya cerita tentang sulitnya akses pendidikan di daerah, kisah lima pegawai Lapas Geser ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa mimpi tidak selalu lahir dari tempat-tempat besar. Kadang, semangat itu tumbuh diam-diam dari ruang kerja sederhana di wilayah kepulauan, dari tugas yang melelahkan, hingga dari malam-malam panjang yang diisi dengan belajar setelah bekerja. Cerita mereka sekaligus menjadi potret kecil pentingnya pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pada akhirnya, wisuda ini bukan hanya tentang lima orang yang berhasil menyelesaikan kuliah. Lebih dari itu, ada pesan kuat tentang ketekunan, keberanian menjaga mimpi, dan keyakinan bahwa pendidikan tetap bisa diperjuangkan, bahkan dari tempat yang jauh dari sorotan.


