Prosesi Wisuda Universitas Terbuka yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, pada Minggu (1/2/2026), menjadi penanda sebuah perjalanan akademik yang penuh ketekunan. Di sinilah, ribuan mimpi berkumpul mencari muaranya. Di tengah riuhnya prosesi wisuda, sosok perempuan muda bernama Munifah berdiri dengan binar mata yang bercerita tentang lebih dari sekadar selembar ijazah.
Bagi Munifah yang berusia 22 tahun, perjalanan akademiknya hingga meraih predikat wisudawan terbaik dijalani melalui proses yang tidak selalu mudah. . Enam bulan setelah lulus SMA, Munifah sempat menunda rencana studi lanjutnya selama masa gap year.. Dalam upayanya melanjutkan pendidikan tinggi, Munifah sempat mengikuti sejumlah jalur seleksi perguruan tinggi nasional. Beberapa rencana studi lanjut, termasuk melalui program beasiswa, belum dapat terwujud pada tahap tersebut. Dari situ, Munifah mulai memikirkan jalur pendidikan yang paling tepat sekaligus memberi ruang untuk berkembang. Ia kemudian memilih Universitas Terbuka sebagai opsi yang paling relevan dengan kebutuhannya—dengan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh yang fleksibel, Munifah dapat mengatur ritme belajar sendiri sambil menyiapkan langkah hidup berikutnya.
. Bagi Munifah, UT merupakan pilihan strategis yang memberikan ruang belajar mandiri dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. “Kuliah jarak jauh benar-benar sangat cocok buat saya,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan. Di sela-sela kesibukannya bekerja paruh waktu sebagai admin dari rumah, UT memberinya ruang untuk tetap bertumbuh tanpa harus meninggalkan tanggung jawab ekonominya. Fleksibilitas ini adalah bukti nyata dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana pendidikan tinggi kini merangkul siapa pun tanpa terhalang sekat waktu dan ruang.
Munifah berhasil menyelesaikan program studi Sistem Informasi dalam waktu tujuh semester dengan IPK yang hampir sempurna, 3,93. Melalui skema non-SIPAS, ia mengelola proses belajarnya secara mandiri dengan penuh kedisiplinan. Baginya, kuliah jarak jauh adalah tentang memegang kendali atas diri sendiri. “Apa-apa harus mandiri,” akunya jujur, menggambarkan betapa kedewasaan karakter adalah kunci di balik kesuksesan akademik di UT.
Ketangguhan Munifah dalam mengelola teknologi dan manajemen waktu mencerminkan kompetensi yang relevan dengan semangat SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). UT telah menempanya menjadi pribadi yang adaptif, siap untuk bersaing di dunia profesional yang serba digital. Kini, setelah meraih predikat wisudawan terbaik, Munifah mulai merencanakan langkah akademik berikutnya. Jepang menjadi salah satu tujuan studi yang ingin ia tuju untuk mendalami bidang Data Science dan kecerdasan buatan.
“Semoga bisa tetap konsisten seperti sekarang dan secepatnya lanjut pendidikan lagi, agar motivasinya masih tinggi,” pungkas Munifah penuh harap. Perjalanan Munifah membuktikan bagaimana pendidikan berkualitas di Universitas Terbuka dapat diakses oleh berbagai kalangan, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka yang memiliki mimpi untuk berkembang dan melangkah hingga ke tingkat Internasional.


