TANGERANG SELATAN – Bagi pekerja sosial, sertifikasi profesi bukan sekadar urusan administratif. Pengakuan kompetensi menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperluas peluang karier. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Universitas Terbuka (UT) menjalin kerja sama dengan Mindanao State University (MSU) dan Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI).
Penandatanganan dokumen kerja sama tersebut berlangsung di Universitas Terbuka, Jumat (26/6/2026). Dalam agenda ini, UT menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan MSU dan Memorandum of Agreement (MoA) dengan IPSPI. Keduanya menjadi bagian dari langkah UT memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus memperluas akses pembelajaran digital bagi pengembangan kompetensi profesi.
Kerja sama dengan MSU diarahkan untuk memperkuat kolaborasi akademik, mempromosikan pembelajaran terbuka dan digital, mengembangkan kursus serta pelatihan bersama, mendorong penelitian dan pertukaran pengetahuan, serta mendukung internasionalisasi dan pembelajaran sepanjang hayat. Sementara itu, kemitraan dengan IPSPI difokuskan pada pendidikan dan pelatihan profesional, pengembangan kursus berbasis kompetensi, program sertifikasi, serta peningkatan kapasitas pekerja sosial melalui pembelajaran digital.
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyebut kerja sama ini sebagai momentum bersejarah. Menurutnya, kolaborasi UT, MSU, dan IPSPI tidak hanya penting bagi institusi, tetapi juga bagi upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing secara global.

“Alhamdulillah pagi ini kita menandatangani kerja sama yang bersejarah antara Universitas Terbuka dan Mindanao State University System dan IPSPI, Independent Pekerja Sosial Indonesia. Ini sebuah kolaborasi tripartit yang sangat penting untuk kita semua, untuk Indonesia yang lebih baik, untuk dunia yang lebih maju,” ujar Prof. Ali.
Prof. Ali mengatakan, UT dan MSU System memiliki semangat yang sama dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas bagi masyarakat. Melalui kerja sama ini, kedua institusi diharapkan dapat membuka ruang pertukaran akademik antara Indonesia dan Filipina, memperkuat riset kolaboratif, serta menghadirkan pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Kami berharap kerja sama ini membawa kita sama-sama memberikan pencerahan kepada dunia melalui pendidikan tinggi yang berkualitas,” katanya.
President MSU System, Atty. Paisalin P.D. Tago, CPA, menyambut baik kemitraan tersebut. Ia menilai kerja sama dengan UT menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan kapasitas mahasiswa dan dosen, terutama dalam bidang penelitian, inovasi, serta penguatan keunggulan akademik.
“Kami menyambut baik telah ditandatanganinya Memorandum of Agreement antara kami dan Universitas Terbuka sebagai bentuk kolaborasi dan kemitraan antara kedua universitas,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi ini diharapkan dapat memberi manfaat luas bagi masyarakat, terutama melalui pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan peningkatan kualitas akademik bagi mahasiswa maupun dosen.
Di sisi lain, kerja sama dengan IPSPI membawa dimensi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Ketua Umum IPSPI, Dr. Puji Pujiono, MSW., RSW., menegaskan bahwa tantangan pekerja sosial hari ini bukan hanya bekerja di lapangan, tetapi juga memperoleh akses menuju kompetensi dan sertifikasi yang diakui negara.
“Pertanyaan besarnya, bagaimana meraih semua pojok Republik Indonesia? Pekerjaan sosial sudah menjadi profesi yang punya undang-undang tersendiri tetapi memerlukan uji kompetensi dan sertifikasi. Untuk memfasilitasi itu dan meraih semua calon pekerja sosial, maka kerja sama dengan Universitas Terbuka melalui ICE Institute menjadi strategis,” kata Puji.
Melalui ICE Institute, pelatihan bagi pekerja sosial akan dikembangkan dalam skema pembelajaran jarak jauh (distance learning). Dengan cara ini, akses belajar tidak lagi harus berhenti pada mereka yang dekat dengan pusat pelatihan. Pekerja sosial dari berbagai wilayah memiliki peluang yang lebih besar untuk mengikuti pembelajaran, meningkatkan kapasitas, dan menuju sertifikasi profesi.
“Ini adalah kursus online dan terbuka yang besar untuk pelatihan pekerja sosial,” ujar Puji.
Prof. Ali menambahkan, kerja sama kredensial melalui ICE Institute juga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi para pekerja, termasuk pekerja migran Indonesia. Dengan kompetensi yang lebih kuat, para pekerja diharapkan memiliki daya tawar yang lebih baik di tingkat nasional maupun global.
“Para pekerja kita semua khususnya PMI memiliki daya tawar yang lebih sehingga bukan lagi hanya sekadar sebagai pekerja blue collar tapi juga naik level menjadi white collar,” tutur Prof. Ali.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Bisnis UT, Dr. Hendrian, S.E., M.Si.; Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT, Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si.; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran dan Kerja Sama FEB UT, Olivia Idrus, S.E., M.Sc.; serta Kepala Unit Pengembangan Pembelajaran Dalam Jaringan Indonesia, Dra. Rahayu Dwi Riyanti, M.A. Delegasi MSU System dan IPSPI juga hadir dalam agenda tersebut.
Melalui kolaborasi ini, UT menegaskan kembali perannya dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, dan kemitraan global. Dari ruang penandatanganan di UT, pesan yang muncul menjadi jelas: kerja sama pendidikan seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen. Kerja sama pendidikan pada akhirnya tidak berhenti sebagai dokumen. Ia harus menghadirkan akses belajar yang lebih luas, meningkatkan kompetensi, dan membuka peluang baru bagi masyarakat untuk berkembang.



