Di Bulukumba, keputusan untuk kuliah sering kali harus berdamai dengan realitas sehari-hari: bekerja sejak pagi, membantu keluarga, dan tetap bertahan dengan penghasilan yang ada. Keinginan melanjutkan pendidikan tinggi bukan tidak ada, hanya saja sering tertunda oleh jarak dan keterbatasan akses. Kehadiran Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Panrita Lopi kini membuka ruang baru, menghadirkan peluang kuliah yang lebih dekat, lebih realistis, dan lebih mungkin dijalani.
Berlokasi strategis di Jalan Matahari, tepat di samping MAN Bulukumba, SALUT Panrita Lopi menjadi rumah baru bagi mereka yang ingin kuliah tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Kehadirannya membawa angin segar: kuliah bisa tetap jalan, pekerjaan tetap aman, dan keluarga tetap dekat.
SALUT Panrita Lopi berperan sebagai penghubung langsung antara Universitas Terbuka (UT) dan mahasiswa di Bulukumba serta wilayah sekitarnya. Di tempat inilah berbagai urusan akademik dipermudah—mulai dari pendaftaran mahasiswa baru, registrasi mata kuliah, layanan tutorial, hingga pelaksanaan ujian. Semua dirancang agar mahasiswa tidak lagi direpotkan oleh jarak dan birokrasi.
Salah satu bukti nyata peran SALUT Panrita Lopi terlihat pada pelaksanaan Ujian Online (UO) yang digelar pada Sabtu–Minggu, 27–28 Desember 2025. Dengan fasilitas yang memadai dan layanan yang tertata rapi, ujian berjalan lancar sesuai standar Universitas Terbuka. Mahasiswa pun bisa mengikuti ujian dengan lebih tenang dan nyaman, tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Makassar.
Bagi Drs. Jamil, M.Pd., Penanggung Jawab Tempat Ujian (PJTU), keberadaan SALUT Panrita Lopi membawa dampak yang sangat terasa. Menurutnya, mahasiswa kini dapat menghemat waktu, biaya, dan tenaga. “Mahasiswa tidak perlu lagi pergi jauh ke UT Makassar untuk mengikuti ujian. Ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga,” ujarnya.
Semangat yang sama juga disampaikan oleh Ketua SALUT Panrita Lopi Bulukumba, Dra. Mardiati. Ia menegaskan bahwa SALUT Panrita Lopi hadir sebagai perpanjangan tangan Universitas Terbuka di daerah. Dalam waktu satu tahun beroperasi, SALUT Panrita Lopi telah melayani sekitar 150 mahasiswa. Ke depan, targetnya tak main-main: 500 mahasiswa.
“Kami ingin memastikan masyarakat Bulukumba punya akses yang mudah, cepat, dan terjangkau terhadap pendidikan tinggi berkualitas. Kuliah itu tidak harus mahal dan tidak harus jauh,” tutur Dra. Mardiati.
Target tersebut sejalan dengan visi Universitas Terbuka yang mengusung sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh. Dengan model pembelajaran yang fleksibel, mahasiswa bisa tetap bekerja sambil kuliah—sebuah solusi nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif.
Untuk menjangkau lebih banyak calon mahasiswa, SALUT Panrita Lopi aktif melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah di Bulukumba. Tak hanya itu, strategi jemput bola juga dilakukan di ruang publik. Setiap hari Minggu, tim SALUT Panrita Lopi rutin hadir di kawasan wisata Pantai Merpati, membagikan brosur dan berdialog langsung dengan masyarakat.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa kuliah sekarang bisa fleksibel. Bisa kuliah sambil kerja, tetap tinggal di kampung halaman, dan tetap berkualitas,” tambah Dra. Mardiati.
Dengan langkah-langkah tersebut, SALUT Panrita Lopi Bulukumba optimistis dapat meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi sekaligus mendorong pemerataan akses pendidikan di wilayah selatan Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat yang tertarik bergabung, pendaftaran mahasiswa baru Universitas Terbuka dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi https://admisi-sia.ut.ac.id


