Dari pesisir Kotabaru hingga kawasan Tabalong, dari Banjarbaru sampai Martapura, ribuan calon mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin datang dengan semangat yang sama: melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Mereka berasal dari beragam latar belakang—pekerja aktif, lulusan sekolah menengah, hingga ibu rumah tangga—yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Untuk membekali langkah awal itu, sebanyak 1.732 mahasiswa baru mengikuti Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) yang digelar selama dua hari, 14–15 Februari 2026, di sejumlah lokasi, termasuk Hotel Galaxy Banjarmasin serta beberapa titik di kabupaten lainnya.
Kegiatan terpusat di Hotel Galaxy Banjarmasin serta beberapa lokasi lain, yakni Hotel Ebony Kabupaten Tanah Bumbu, Hotel Darul Istiqamah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hotel Jelita Kabupaten Tabalong. Dari total peserta, 407 mahasiswa baru hadir di Hotel Galaxy, 218 mahasiswa di Hotel Ebony, 156 mahasiswa di Hotel Darul Istiqamah, serta 95 mahasiswa di Hotel Jelita.
Direktur UT Banjarmasin, Ir. Mochamad Priono, M.Si., mengatakan program ini dirancang untuk memastikan mahasiswa baru benar-benar siap mengikuti proses belajar dan mampu menyelesaikan studi dengan baik serta tepat waktu.
“Untuk jumlah pendaftar tahun ini, total mahasiswa baru yang sudah melakukan registrasi sekitar 1.732 orang,” ujar Priono di Banjarmasin.
Menurut dia, mahasiswa tersebut tersebar di berbagai wilayah di Kalimantan Selatan, seperti Martapura, Tanah Laut, Tabalong, kawasan Pasar, dan sejumlah daerah lainnya. “Sebaran ini menunjukkan minat yang cukup tinggi terhadap sistem pembelajaran yang kita selenggarakan,” jelasnya.
Priono menegaskan, sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh memiliki perbedaan mendasar dibandingkan sistem konvensional. Proses belajar tidak hanya mengandalkan tatap muka di kelas, tetapi memanfaatkan media dan teknologi pembelajaran yang inovatif. Materi tersedia dalam bentuk digital maupun cetak, didukung platform daring, tutorial, serta berbagai sumber belajar mandiri.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki strategi belajar yang tepat. “Mereka harus mampu mengatur jadwal belajar secara mandiri, menetapkan target pembelajaran, menjaga motivasi secara konsisten, membangun disiplin pribadi, memiliki rasa tanggung jawab terhadap progres studinya,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembekalan di awal masa studi menjadi kunci agar mahasiswa memahami pola belajar, cara memanfaatkan teknologi pembelajaran, serta menyusun rencana studi sesuai minat dan kemampuan. Dengan persiapan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya lulus tepat waktu, tetapi juga berpeluang menyelesaikan studi lebih cepat.
Sementara itu, Manajer Perluasan Daya Jangkau, Registrasi, dan Ujian periode 2025–2030, Jumriadi, S.Sos., M.AP., menjelaskan bahwa LPKBJJ terdiri atas dua kegiatan utama, yakni Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) pada hari pertama dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) pada hari kedua. OSMB berisi pengenalan sistem perkuliahan dan layanan akademik UT, sedangkan PKBJJ memberikan pelatihan keterampilan belajar mandiri, manajemen waktu, dan strategi sukses mengikuti kuliah jarak jauh.
Antusiasme mahasiswa pun terlihat dari berbagai daerah. Selfi, warga Kotabaru, mengaku memilih UT Banjarmasin karena fleksibilitasnya. Ia berharap bisa tetap bekerja sekaligus menyelesaikan kuliah tepat waktu. Sri, warga Banjarbaru yang juga sedang bekerja, mengatakan sistem UT memudahkannya mengatur manajemen waktu.
Melalui LPKBJJ, UT Banjarmasin kembali menegaskan komitmennya menghadirkan akses pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas usia, pekerjaan, maupun lokasi. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan membuka kesempatan belajar yang fleksibel bagi masyarakat luas.
Sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh, UT terus memperluas jangkauan layanan pendidikan hingga pelosok daerah. Dengan dukungan teknologi dan pembelajaran mandiri, ribuan mahasiswa kini memiliki peluang yang sama untuk meraih gelar sarjana dan meningkatkan kualitas hidup mereka.



