Bukan Sekadar Simbol, Begini Cara UT Memaknai dan Menerapkan Kesetaraan Gender

Universitas Terbuka (UT) terus menegaskan perannya sebagai ruang belajar yang ramah, inklusif, dan terbuka bagi siapa saja. Di tengah berbagai tantangan akses pendidikan tinggi di Indonesia, UT hadir sebagai jembatan harapan—terutama bagi kelompok yang selama ini berada di pinggiran, termasuk perempuan. Semangat tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif yang disiarkan pada Senin (05/01/2026), saat Direktur UT Majene, Devi Ayuni, S.E., M.Si., berbagi pandangannya tentang kepemimpinan perempuan di dunia akademik dan penerapan Pengarusutamaan Gender (PUG) di lingkungan Universitas Terbuka.

Dalam dialog yang dipandu Nita Wahyuni itu, Devi menegaskan bahwa kesetaraan gender di UT bukan sekadar wacana atau simbol representasi. Ia menekankan bahwa nilai inklusivitas telah menjadi bagian dari cara UT bekerja, mengambil keputusan, dan melayani mahasiswa di seluruh Indonesia. “Kepemimpinan perempuan di UT bukan sekadar simbol, melainkan wujud nyata dari sistem yang terbuka. Kami mengedepankan perspektif yang inklusif dalam setiap kebijakan pokok pendidikan, dengan tetap mengedepankan evaluasi berkala agar kinerja organisasi tetap optimal,” ujar Devi.

Gambaran nyata dari komitmen tersebut tercermin pada komposisi mahasiswa Universitas Terbuka. Saat ini, sebanyak 64 persen mahasiswa UT adalah perempuan, sementara laki-laki berada di angka 36 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret bagaimana UT menjadi sandaran bagi perempuan untuk mengakses pendidikan tinggi tanpa dibatasi jarak, waktu, maupun peran sosial. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel, UT memberi ruang bagi perempuan untuk tetap belajar, bertumbuh, dan berdaya. Upaya ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 5 mengenai kesetaraan gender.

Sebagai satu-satunya direktur perempuan UT di wilayah Indonesia Timur saat ini, Devi Ayuni memahami betul dinamika tersebut. Perjalanannya dimulai dari dunia akademik sebagai dosen yang berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, hingga akhirnya dipercaya mengemban tanggung jawab manajerial di UT Majene. Baginya, kepemimpinan di UT dibangun di atas prinsip keadilan dan profesionalisme. “Tidak ada perbedaan perlakuan antara pimpinan laki-laki maupun perempuan. Semua diberikan hak dan kewajiban yang setara. Di UT, siapa pun memiliki peluang yang sama untuk menjadi manajer, kepala bidang, dekan, hingga rektor, asalkan memiliki kemampuan dan kinerja yang mumpuni,” tuturnya.

Meski demikian, Devi tidak menutup mata terhadap tantangan yang datang dari luar institusi. Ia mengakui masih adanya stigma di masyarakat yang memandang perempuan lebih cocok berada di posisi administratif. Namun, menurutnya, stigma tersebut hanya bisa dipatahkan melalui integritas dan kinerja. Ia menyebut tiga prinsip yang harus dipegang perempuan

pemimpin, yakni kejujuran dan integritas, ketegasan dalam menegakkan disiplin, serta kemampuan membangun kebersamaan dan solidaritas tim.

Menutup dialog, Devi Ayuni menyampaikan pesan reflektif bagi perempuan yang ingin melangkah ke dunia kepemimpinan akademik. Ia menegaskan bahwa jabatan bukanlah tujuan utama, melainkan amanah yang menuntut kesiapan diri. “Perempuan harus memiliki senjata diri yang lengkap untuk menjadi pimpinan. Dia harus berpendidikan tinggi untuk memiliki wawasan luas, harus tegas dalam mengambil keputusan, sabar dalam menghadapi tantangan, dan berintegritas dalam bertindak. Namun, yang paling krusial dari semuanya adalah etika,” tegas Devi. Dengan karakter dan etika yang kuat, ia meyakini, keraguan terhadap kapasitas perempuan akan gugur dengan sendirinya melalui pembuktian kerja yang nyata.