Tak Perlu Tinggalkan Desa, UT Bengkulu Buka Akses Kuliah Fleksibel bagi Perangkat Desa

Di balik meja pelayanan desa, di antara tumpukan administrasi dan tuntutan tanggung jawab harian, ada mimpi yang diam-diam disimpan: melanjutkan kuliah. Bukan karena tak mampu, tetapi karena waktu terasa tak pernah cukup dan kesempatan seolah selalu datang terlambat. Di Kabupaten Kaur, mimpi itu kini mulai menemukan jalannya. Universitas Terbuka (UT) Bengkulu hadir bukan sekadar membawa program, tetapi membuka pintu yang selama ini terasa setengah tertutup bagi banyak perangkat desa dan masyarakat.

Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan audiensi dan sosialisasi yang digelar pada Kamis (2/4/2026) di Aula Lantai II Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kaur. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Bupati Kaur Abdul Hamid, S.Pd.I, serta Direktur UT Bengkulu Anton Robiansyah, S.E., M.Ak., CertIPSAS, bersama sejumlah perangkat desa dan pemangku kepentingan lainnya yang menyambut agenda ini dengan antusias.

Kehadiran UT Bengkulu di ruang itu bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan akses pendidikan yang masih dirasakan di berbagai daerah, terutama di level desa, kebutuhan akan solusi yang adaptif semakin mendesak. Wakil Bupati Kaur Abdul Hamid pun melihat inisiatif ini sebagai angin segar yang dapat mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerahnya.

“Kami sangat mendukung program ini karena dapat membantu perangkat desa meningkatkan kemampuan dan meraih gelar S1 dengan lebih cepat,” ujarnya.

Dari dukungan tersebut, terlihat jelas bahwa pendidikan tidak lagi dipandang sebagai pilihan sekunder, melainkan sebagai kebutuhan yang harus difasilitasi. Terlebih, perangkat desa memiliki peran strategis dalam pelayanan publik yang menuntut kapasitas dan kompetensi yang terus berkembang.

Menjawab kebutuhan itu, UT Bengkulu menawarkan pendekatan yang berbeda. Sistem pembelajaran yang fleksibel dan biaya yang terjangkau menjadi kunci agar pendidikan tinggi bisa diakses tanpa harus mengorbankan pekerjaan utama. Dengan kata lain, kuliah tidak lagi menjadi beban tambahan, melainkan bagian yang bisa berjalan selaras dengan kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah UT Bengkulu mengambil peran lebih jauh. Direktur UT Bengkulu Anton Robiansyah menegaskan bahwa komitmen kampusnya bukan hanya menghadirkan pendidikan, tetapi juga memastikan bahwa akses tersebut benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat di daerah.

“Kami berkomitmen untuk meningkatkan akses pendidikan di daerah dan membantu masyarakat mencapai potensi mereka,” kata Anton.

Pernyataan tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Melalui sosialisasi ini, UT Bengkulu berupaya menanamkan kesadaran bahwa kesempatan untuk kuliah selalu terbuka, bahkan bagi mereka yang sebelumnya merasa tertinggal atau terhambat oleh kondisi.

Perlahan, narasi tentang pendidikan pun mulai bergeser. Dari yang semula dianggap sulit dijangkau, menjadi sesuatu yang realistis untuk diperjuangkan. Dari yang terasa jauh, kini semakin dekat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Lebih dari sekadar peningkatan angka partisipasi, langkah ini juga menyentuh aspek yang lebih luas, yakni pembangunan manusia yang berkelanjutan. Upaya memperluas akses pendidikan tinggi sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat tentang pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata.

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang sosialisasi atau penyampaian program. Ini adalah tentang membuka kemungkinan baru bagi banyak orang yang selama ini berjalan di tempat, menunggu waktu yang tepat untuk melangkah. Kini, waktu itu seolah datang lebih cepat.

Dari ruang sederhana di Kantor Setda Kabupaten Kaur, sebuah pesan kuat mengalir: bahwa pendidikan tidak harus menunggu hidup menjadi lapang. Justru di tengah kesibukan dan keterbatasan, kesempatan itu bisa diciptakan. Dan UT Bengkulu, perlahan tapi pasti, sedang memastikan bahwa pintu itu benar-benar terbuka untuk semua.