Ketika Alam Menguji, UT Purwokerto Menguatkan: Institusi Pendidikan Ini Buktikan Komitmen Kemanusiaannya

Ketika alam menunjukkan kekuatannya, meninggalkan luka dan puing-puing di Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, pada 16 November 2025 silam, yang tersisa hanyalah harapan untuk bangkit. Di tengah masa-masa paling sulit itu, Universitas Terbuka (UT) Purwokerto hadir membawa selimut kepedulian. Aksi kemanusiaan ini bukan sekadar bantuan, melainkan sebuah gestur tulus yang menegaskan bahwa sebuah institusi pendidikan adalah bagian dari denyut nadi masyarakat yang harus saling menopang.

Suasana haru menyelimuti Pendopo Kecamatan Pandanarum, lokasi penyerahan bantuan. Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Di., M.Si., bersama Camat Pandanarum, Agung Dwiantoko, serta perwakilan dari SALUT Kalibening, bertemu langsung dengan wajah-wajah yang terdampak. Sebagai penopang utama, UT Purwokerto menyalurkan 625 kilogram beras, sebuah kebutuhan dasar yang sangat berarti untuk meringankan beban harian para korban musibah longsor.

Namun, kepedulian UT tidak berhenti pada masyarakat umum. Hati kampus ini juga tertuju pada anggota keluarganya sendiri. Musibah ini ternyata juga menimpa lima mahasiswa UT yang harus kehilangan banyak hal. UT Purwokerto menyadari, di tengah keterpurukan, mimpi untuk melanjutkan studi tidak boleh ikut terkubur.

Dr. Prasetyarti Utami menyampaikan pesan yang begitu menenangkan, sebuah harapan yang diucapkan dengan penuh empati. “Kami berharap para korban bisa menjalani ujian ini dengan tabah dan tetap semangat,” katanya. Kemudian, ia memberikan janji khusus kepada mahasiswanya, “Untuk mahasiswa UT, tetap lanjutkan kuliah. Kami akan mengupayakan bantuan SPP guna meringankan beban studi mereka.” Sebuah janji yang secara langsung menjamin Pendidikan Berkualitas (SDGs 4) tetap terakses, sekaligus meringankan beban finansial mereka.

Langkah cepat dan perhatian yang mendalam ini menyentuh hati pemerintah setempat. Camat Pandanarum, Agung Dwiantoko, mewakili warganya, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Semoga kerja sama yang baik ini terus terjalin di berbagai sektor,” ujarnya, mengakui bahwa sinergi dan solidaritas adalah kunci utama dalam pemulihan pasca-bencana.

Komitmen UT Purwokerto untuk hadir dan menjamin kelangsungan studi para mahasiswanya di tengah krisis diperkuat dengan kehadiran SALUT Kalibening. Kepala SALUT, Dr. Rehan, juga turut menyerahkan santunan langsung kepada mahasiswa terdampak, menegaskan bahwa seluruh keluarga besar UT siap menjadi bahu untuk bersandar.

Dengan uluran tangan yang lembut dan bantuan yang terarah ini, UT Purwokerto tidak hanya menjalankan fungsi akademis, tetapi juga mengukir jejak kemanusiaan yang mendalam. Kampus ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi adalah pilar sosial yang harus selalu hadir, menguatkan, dan memastikan bahwa setiap individu—termasuk mahasiswanya—dapat bangkit kembali dari keterpurukan, menjadikan pendidikan sebagai cahaya harapan di tengah kegelapan bencana.