UT dan Semangat Muda Membangun Desa: Kisah Sukses Asep

Pandeglang, 2 Oktober 2025 – Reforma Agraria bukan sekadar memberikan kepastian hukum atas kepemilikan tanah, tetapi juga menjadi pendorong utama peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat desa. Hal itu nyata terlihat di Desa Bandung, Kabupaten Pandeglang, yang kini berkembang pesat melalui pengelolaan Desa Wisata Bukit Sinyonya. Desa ini bahkan dinobatkan sebagai salah satu Kampung Reforma Agraria Terbaik pada Januari 2025.

Salah satu sosok kunci dalam perubahan ini adalah Asep Adam (25), mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Serang, yang menjadi pengelola utama desa wisata tersebut. Dengan semangat muda dan wawasan akademik, Asep berhasil memadukan potensi lokal dengan konsep pariwisata berkelanjutan.

“Kalau tidak dikemas dengan baik, potensi desa tidak akan berkelanjutan. Regenerasi pun akan terputus. Misalnya, penganyam dari dulu memang ada, tapi sekarang ibu-ibu sudah sepuh dan anak muda enggan meneruskan. Desa wisata ini menjadi jembatan agar anak muda kembali tertarik,” jelas Asep saat ditemui di Bukit Sinyonya, Senin (22/9/2025).

Sejak ditetapkan sebagai Kampung Reforma Agraria pada 2023, desa ini menjadi contoh nyata pelaksanaan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pemberdayaan ekonomi (SDG 8), pengurangan kemiskinan (SDG 1), dan pembangunan desa berkelanjutan (SDG 11).

Melalui pendampingan Asep, keterlibatan generasi muda desa meningkat tajam. Inovasi produk kerajinan lokal berkembang dari sekadar tas pandan menjadi sepatu, dompet, dan berbagai aksesori kekinian yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Awalnya ibu-ibu hanya buat tas biasa. Tapi setelah pelatihan bersama anak muda, kreativitas berkembang. Produk makin variatif, harga juga naik,” ungkap Asep yang aktif menggabungkan studi di UT dengan aktivitas pemberdayaan masyarakat.

Tidak hanya mengembangkan produk, Asep juga berperan penting dalam transformasi sosial warga desa. Para pengrajin kini beralih peran menjadi instruktur kerajinan yang berbagi keterampilan dengan wisatawan dan masyarakat luas, mendukung capaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas berbasis kearifan lokal.

“Sekarang pengrajin bukan cuma produksi, tapi juga berbagi ilmu. Mereka jadi pelatih, bukan sekadar pengrajin biasa,” tambahnya.

Dampaknya dirasakan langsung oleh warga seperti Ani (52), pengrajin anyaman yang kini merasakan peningkatan pendapatan dan kualitas hidup. “Dulu dari hutan ke rumah, kerja seadanya. Sekarang dari anyaman bisa bantu biaya kuliah anak, bahkan beli kebutuhan rumah,” kata Ani dengan bangga.

Berbekal ilmu dari perkuliahannya di Universitas Terbuka, Asep membuktikan bahwa mahasiswa dapat berperan besar sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Melalui pendekatan inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal, ia menghidupkan kembali ekonomi desa sekaligus membangun harapan baru bagi generasi muda.

Kini, Desa Wisata Bukit Sinyonya menjadi bukti bahwa Reforma Agraria bukan hanya soal redistribusi tanah, tapi juga sarana untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan—dengan menciptakan lapangan kerja, mendukung pendidikan vokasional, dan memperkuat identitas desa melalui pariwisata berbasis budaya.