KUPANG — Kemudahan teknologi membuat mahasiswa semakin leluasa mengakses materi, layanan akademik, dan berbagai sumber pembelajaran. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, ada satu hal yang tetap harus menjadi pegangan: etika akademik.
Pesan itu disampaikan Direktur Universitas Terbuka (UT) Kupang, Dr. Albert Gamot Malau, S.Si., M.Si., dalam Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) UT Kupang di Hotel Aston Kupang, Minggu (23/8/2026). Ia menekankan bahwa kemudahan akses pendidikan dan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan integritas akademik.
Menurut Albert, etika akademik menjadi bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Integritas dalam belajar bukan hanya berkaitan dengan nilai yang diperoleh, tetapi juga menyangkut kejujuran, tanggung jawab, serta sikap menghargai proses akademik.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT. Fleksibilitas belajar memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengatur waktu dan aktivitas akademiknya secara mandiri. Namun, fleksibilitas tersebut juga menuntut kedewasaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari setiap mahasiswa.
ketika proses belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas secara tatap muka, mahasiswa dituntut memiliki kesadaran untuk tetap memegang prinsip akademik. Kemandirian bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan kemampuan menjalankan kewajiban akademik dengan penuh tanggung jawab.
Albert sebelumnya juga dikenal aktif memberikan pemahaman kepada mahasiswa UT mengenai sistem pembelajaran, termasuk pemanfaatan layanan digital seperti myUT. Platform tersebut menjadi salah satu fasilitas yang membantu mahasiswa mengakses berbagai layanan akademik secara daring.
Di sisi lain,Penguatan etika akademik juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang menyelesaikan mata kuliah dan memperoleh ijazah, tetapi juga proses membentuk pribadi yang mampu berpikir kritis, bertanggung jawab, menjunjung kejujuran, dan membawa nilai-nilai tersebut ke dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.
Bagi UT Kupang, penguatan integritas akademik memiliki arti penting karena pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang menyelesaikan mata kuliah dan memperoleh ijazah. Ada proses panjang untuk membentuk pribadi yang mampu berpikir kritis, bertanggung jawab, sekaligus menghargai kejujuran.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan bermutu. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya membuka akses belajar seluas-luasnya, tetapi juga memastikan proses pendidikan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berintegritas dan memiliki kompetensi.
Sebagai perguruan tinggi dengan sistem pendidikan jarak jauh, UT memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi. Karena itu, penguatan nilai-nilai akademik menjadi penting agar perluasan akses dan fleksibilitas pembelajaran tetap berjalan beriringan dengan kualitas serta integritas.
Pada akhirnya, etika akademik bukan sekadar aturan yang tertulis dalam lingkungan kampus. Ia adalah kompas yang menjaga mahasiswa tetap berada di jalur yang benar ketika menjalani proses pendidikan.
Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin memperoleh informasi hanya membutuhkan beberapa ketukan di layar. Namun, menjadi pribadi yang berilmu sekaligus berintegritas membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya: bukan hanya mencetak orang pintar, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan ilmunya dengan benar.



