TANGERANG SELATAN – Di tengah derasnya arus informasi digital, sebuah institusi pendidikan tidak lagi cukup hanya bekerja baik—ia juga dituntut mampu membangun kepercayaan publik melalui keterbukaan yang nyata, cepat, dan berdampak. Kesadaran itulah yang menjadi napas utama dalam Workshop Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Universitas Terbuka Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka, Senin (25/5). Mengusung tema “Penguatan Keterbukaan Informasi Publik yang Proaktif dan Berdampak dalam Mewujudkan Tata Kelola Universitas Terbuka yang Transparan dan Akuntabel”, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi UT untuk mempertegas arah transformasi tata kelola yang lebih terbuka, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Ali Muktiyanto, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis sekaligus PPID Utama UT Hendrian, para wakil rektor dan sekretaris universitas, jajaran pimpinan UT Pusat, direktur UT Daerah beserta jajaran secara daring, hingga para penanggung jawab PPID di lingkungan UT. Hadir pula Ketua Bidang Hubungan Tata Kelola dan Kelembagaan Komisi Informasi Pusat RI Handoko Agung Saputro dan Tenaga Ahli Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi Publik Siti Ajijah sebagai narasumber yang memberikan perspektif strategis mengenai penguatan layanan informasi publik di perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor UT menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik saat ini bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang profesional dan dipercaya masyarakat. Sebagai perguruan tinggi negeri berbasis pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT dinilai harus mampu menghadirkan layanan informasi yang cepat, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan publik yang terus berkembang.
Menurutnya, keterbukaan informasi juga harus dipahami sebagai budaya kerja bersama, bukan hanya orientasi pemenuhan penilaian semata. Karena itu, seluruh unit di lingkungan UT didorong untuk membangun pola layanan informasi yang lebih proaktif melalui pemanfaatan teknologi digital, penyediaan informasi yang sistematis, serta penguatan koordinasi antarunit agar kualitas pelayanan publik semakin selaras dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut tercermin dari capaian UT dalam implementasi keterbukaan informasi publik. Setelah meraih predikat “Menuju Informatif” pada 2024, UT berhasil memperoleh predikat “Informatif” dari Komisi Informasi Pusat RI pada 2025 dengan nilai 96,43. Pencapaian ini menjadi indikator bahwa penguatan tata kelola informasi di lingkungan UT terus bergerak ke arah yang semakin matang, terukur, dan berdampak terhadap peningkatan kepercayaan publik.
Di sisi lain, Komisi Informasi Pusat menekankan bahwa keterbukaan informasi merupakan hak publik yang memiliki peran strategis dalam mewujudkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Perguruan tinggi, menurut mereka, tidak hanya dituntut mampu menyediakan informasi, tetapi juga membangun mekanisme pelayanan yang adaptif terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat di era digital.
Salah satu gagasan yang paling mengena dalam workshop tersebut muncul melalui pernyataan bahwa “Perguruan Tinggi yang sehat bukanlah Perguruan Tinggi yang bebas atas kritik, melainkan Perguruan Tinggi yang mampu mengelola kritik secara terbuka dan bertanggung jawab.” Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa transparansi bukan tentang membangun citra tanpa cela, melainkan keberanian institusi untuk mendengar, berbenah, dan terus bertumbuh bersama masyarakat.


Melalui workshop ini, UT ingin memastikan bahwa keterbukaan informasi tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan atau sekadar pemenuhan administratif. Di tengah lanskap komunikasi publik yang bergerak semakin cepat, keterbukaan menjadi cara paling nyata bagi institusi pendidikan untuk menjaga kepercayaan, merawat reputasi, dan tetap relevan di mata masyarakat. Sebab pada akhirnya, kampus yang kuat bukan hanya kampus yang besar secara sistem, tetapi juga kampus yang bersedia terbuka, mau mendengar, dan terus bertumbuh bersama publiknya.


