Pagi itu, Ballroom Pacific Palace Hotel di Batu Ampar, Batam, tak sekadar dipenuhi kursi dan layar presentasi. Ia dipenuhi harapan. Minggu (15/2/2026), ratusan mahasiswa baru datang dengan cerita masing-masing: ada yang bekerja di siang hari, ada yang sudah berkeluarga, ada pula yang baru lulus sekolah. Mereka berkumpul dalam Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Universitas Terbuka (UT) Batam, menandai langkah pertama menuju babak baru kehidupan.
Di sinilah semuanya dimulai.
OSMB bukan sekadar agenda formalitas. Di UT yang menerapkan sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, orientasi ini menjadi kompas awal. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada struktur akademik, tetapi juga pada satu kunci utama: belajar mandiri. Sebuah konsep yang terdengar sederhana, tetapi menjadi fondasi keberhasilan di perguruan tinggi berbasis fleksibilitas ini.
Manajer Perluasan Daya Jangkau, Registrasi dan Ujian UT Batam sekaligus Ketua Panitia OSMB, Amrin, S.E., menegaskan bahwa OSMB merupakan salah satu rangkaian wajib yang harus diikuti mahasiswa baru. Ia menyampaikan tujuan OSMB adalah agar mahasiswa baru dapat mengenal dan memahami proses pembelajaran di Universitas Terbuka Batam. Dengan memahami sistem sejak awal, mahasiswa diharapkan tidak gamang menghadapi ritme kuliah jarak jauh yang menuntut disiplin dan tanggung jawab pribadi.
Suasana semakin terasa hangat ketika Direktur UT Batam, Angga Sucitra Hendrayana, S.E., M.Si., menyampaikan sambutan. Ia berbicara lugas namun membumi. Ia menyampaikan kepada mahasiswa agar mampu belajar secara mandiri dan mematuhi norma-norma yang berlaku di UT, khususnya terkait dengan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa UT. Pesan itu bukan sekadar pengingat administratif, melainkan penegasan bahwa integritas adalah fondasi perjalanan akademik.
Lebih jauh, Angga juga mengajak mahasiswa untuk bangga menjadi bagian dari Universitas Terbuka dan berharap para mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan instan, pilihan untuk kuliah, terlebih dengan sistem jarak jauh, adalah bentuk keberanian sekaligus komitmen jangka panjang.
Nada tegas namun penuh harap juga disampaikan Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT, Dr. Meita Istianda, S.IP., M.Si., yang turut hadir. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa dalam proses menyelesaikan studi beberapa tahun mendatang, para mahasiswa diharapkan dapat menjunjung integritas akademik dengan tidak menggunakan joki serta harus merasa puas dan bangga dengan hasil belajar masing-masing. Pesan ini relevan di era digital, ketika akses informasi begitu mudah, namun godaan untuk mengambil jalan pintas juga semakin besar.
Kehadiran Sapto Setyo Nugroho, S.IP., M.A. sebagai perwakilan dosen FHISIP UT mempertegas bahwa di balik sistem pembelajaran jarak jauh, ada dukungan akademik yang nyata. Mahasiswa tidak berjalan sendiri.
Sepanjang kegiatan, peserta dibekali materi strategis, mulai dari pengenalan sistem pendidikan tinggi dan terbuka jarak jauh di Indonesia, peran pendidikan tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan jarak jauh di UT. Materi ini menjadi bekal praktis sekaligus reflektif—bahwa kuliah bukan hanya tentang IPK, tetapi juga tentang kontribusi pada masyarakat.
Langkah UT Batam ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Melalui sistem terbuka dan fleksibel, UT membuka akses pendidikan tinggi bagi siapa pun, tanpa batasan usia, profesi, maupun jarak geografis.
OSMB hari itu mungkin berlangsung beberapa jam. Namun bagi para mahasiswa baru, ia adalah titik tolak. Dari Ballroom di Batam itu, perjalanan panjang dimulai—dengan tekad belajar mandiri, menjaga integritas, dan menuntaskan studi dengan kepala tegak.
Karena di Universitas Terbuka, perubahan besar memang sering dimulai dari keputusan sederhana: berani mendaftar dan bertahan.



