TANGERANG SELATAN — Riset perlu mengambil peran lebih besar dalam penyelesaian persoalan dan perumusan kebijakan. Karena itu, pendekatan multidisipliner perlu menjadi bagian mendasar dalam pengembangan riset agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai keluaran akademik, tetapi mampu memberikan arah bagi penyelesaian masalah dan mendukung kebijakan berbasis sains.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam International Conference on Multidisciplinary Studies (ICOMUS) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis, (22/10/2026). Melalui forum ini, kolaborasi lintas bidang ilmu disoroti sebagai pendekatan untuk memperkuat relevansi riset terhadap berbagai tantangan pembangunan.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Ph.D. menegaskan bahwa pendekatan multidisipliner semestinya menjadi ruh dalam pengembangan riset akademik. Menurutnya, riset perlu bergerak melampaui perannya sebagai pusat biaya dan mengambil posisi strategis dalam mengarahkan penyelesaian persoalan.
Menurutnya, pendekatan multidisipliner dalam kajian akademik harus menjadi landasan utama pengembangan riset. Riset tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga perlu berperan sebagai pusat pemikiran strategis (think tank) yang membantu mengarahkan penyelesaian masalah dan menjadi dasar perumusan kebijakan berbasis sains. Karena itu, pengetahuan yang dihasilkan perlu ditransfer agar memberikan dampak nyata, termasuk dalam proses pembelajaran.
“Pengetahuan tidak hanya perlu dipresentasikan. Pengetahuan tidak hanya perlu ditulis. Pengetahuan perlu ditransfer agar berdampak pada proses pembelajaran,” ujarnya.



Pernyataan tersebut menempatkan kolaborasi multidisipliner sebagai lebih dari sekadar kerja sama antardisiplin. Pendekatan ini diperlukan agar berbagai sudut pandang dan keahlian dapat saling melengkapi dalam memahami persoalan, merumuskan alternatif penyelesaian, serta menyediakan landasan ilmiah bagi pengambilan keputusan.
Pesan tersebut sejalan dengan berbagai tantangan yang dibahas dalam ICOMUS 2026, mulai dari persoalan lingkungan dan perubahan iklim hingga perkembangan teknologi serta kebutuhan pendidikan masa depan. Kompleksitas isu tersebut menuntut kontribusi berbagai bidang ilmu, mulai dari sains, sosial, ekonomi, dan pendidikan hingga tata kelola. Melalui kolaborasi lintas disiplin dan pertukaran pengetahuan, riset diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan pembangunan. Upaya ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pengetahuan dan kapasitas akademik, serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kepala Pusat Penelitian Keilmuan pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UT Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd., dalam pemaparannya menyoroti pentingnya pertukaran pengetahuan dan kolaborasi untuk merespons persoalan yang melintasi batas disiplin. Forum akademik internasional seperti ICOMUS membuka ruang bagi peneliti dan akademisi untuk mempertemukan perspektif serta mengembangkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis Universitas Terbuka, Dr. Hendrian, S.E., M.Si., menegaskan bahwa berbagai tantangan global membutuhkan pendekatan multidisipliner.
“Kita bertemu pada saat dunia menghadapi tantangan yang tidak dapat diatasi oleh satu disiplin ilmu saja. Perubahan iklim, akses pendidikan yang tidak merata, dan kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan membutuhkan ide-ide baru, keahlian dari berbagai bidang, dan kolaborasi yang bijaksana,” ujar Dr. Hendrian.
Perkembangan kecerdasan buatan juga memperkuat kebutuhan akan riset yang mampu membaca perubahan dan menjawab persoalan nyata. Di tengah perubahan teknologi, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan adaptasi menjadi bagian penting dari keterampilan masa depan. Karena itu, kolaborasi lintas disiplin dapat membantu memperluas perspektif dalam merumuskan respons terhadap perubahan tersebut.
ICOMUS 2026 diselenggarakan dalam format hibrida dengan 65 peserta hadir secara langsung dan 36 peserta mengikuti kegiatan secara daring. Pembahasan dibagi ke dalam 10 ruang diskusi, terdiri atas enam ruang luring dan empat ruang virtual, dengan empat bidang utama, yakni sains terapan dan pelestarian lingkungan; pendidikan masa depan dan pembelajaran; ekonomi berkelanjutan dan bisnis; serta tata kelola dan transformasi sosial.
Pada akhirnya, pesan utama ICOMUS 2026 terletak pada pentingnya menempatkan riset sebagai bagian strategis dari penyelesaian persoalan. Ketika berbagai disiplin ilmu bekerja bersama dan hasil penelitian menjadi landasan pengambilan keputusan, riset memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi pada kebijakan yang berbasis sains dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat.



