Banyak pelaku usaha mikro memiliki produk yang layak bersaing, tetapi tidak semuanya memiliki bekal untuk membawa produknya naik kelas. Ada yang masih bingung menentukan harga jual, ada pula yang kesulitan membuat kemasan yang menarik perhatian konsumen. Persoalan-persoalan itulah yang sering kali menjadi penghambat perkembangan UMKM. Berangkat dari realitas tersebut, Universitas Terbuka (UT) memilih menghadirkan riset yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat nyata melalui pendampingan langsung kepada pelaku usaha di Desa Situ Udik, Kabupaten Bogor.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui program hilirisasi riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional UT yang berlangsung selama tiga tahun, sejak 2023 hingga 2025, dan dijalankan oleh tim yang diketuai Yudhi Prasetiyo, S.E., M.Ak., bersama Novta Winkey Pradana, S.Ak., M.Acc., Sila Ninin Wisnantiasri, S.E., M.A., Dio Bimo Saputro, S.Ak., M.E., serta Muhammad Adam Sudaryanto, S.E., M.B.A. Adapun program tersebut menjadi bagian dari upaya UT mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dengan memperkuat kapasitas pelaku UMKM agar lebih adaptif menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Ketua Tim PkM Nasional UT, Yudhi Prasetiyo, menegaskan bahwa hilirisasi riset tidak hanya berfokus pada pengembangan teori akademik, tetapi juga diarahkan untuk memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pelaku UMKM di lapangan.
Pendampingan yang dilakukan tim UT berawal dari kebutuhan riil para pelaku usaha. Hasil evaluasi menunjukkan masih banyak UMKM yang belum mampu menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara tepat. Akibatnya, harga jual produk sering kali ditetapkan tanpa memperhitungkan seluruh biaya produksi, sehingga keuntungan menjadi tidak optimal dan daya saing produk ikut terdampak.
Ketika persoalan tersebut mulai dipetakan, tim pendamping menemukan tantangan lain yang tak kalah penting. Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, kualitas produk saja belum cukup. Kemasan dan label yang kurang menarik membuat banyak produk lokal sulit mencuri perhatian konsumen, bahkan ketika kualitas isinya tidak kalah dengan produk lain yang sudah lebih dikenal.
Melihat kondisi tersebut, UT menghadirkan pendampingan melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan bidang akuntansi dan manajemen. Para pelaku usaha dibimbing menyusun struktur biaya produksi, menghitung HPP secara akurat, hingga memperbaiki identitas produk melalui strategi pelabelan ulang (re-labeling) dan inovasi kemasan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pendampingan tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Sejumlah UMKM binaan kini mampu menghitung biaya produksi secara lebih presisi, menetapkan harga jual yang lebih kompetitif, sekaligus meningkatkan nilai tambah produknya melalui kemasan dan identitas merek yang lebih profesional. Perubahan itu bukan hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri pelaku usaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Hasil pendampingan tersebut kemudian dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Gedung BKUK UT. Pada kesempatan itu, perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bogor mengungkapkan besarnya potensi sektor UMKM di daerah tersebut. Berdasarkan Sistem Data Tunggal (SDT) UMKM terbaru, Kabupaten Bogor memiliki 442.412 unit usaha mikro, menjadikannya daerah dengan basis data UMKM terbesar dan paling mutakhir di Provinsi Jawa Barat.
Besarnya jumlah pelaku usaha itu memperlihatkan bahwa penguatan UMKM tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Data yang tervalidasi menjadi fondasi penting dalam menyusun program pembinaan yang lebih tepat sasaran, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar proses pemberdayaan berjalan lebih efektif.
Karena itu, UT memandang kemitraan dengan pemerintah daerah sebagai langkah strategis untuk memastikan hasil riset tidak berhenti pada laporan akademik. Integrasi hasil pendampingan ke dalam sistem pembinaan UMKM diharapkan mampu memperluas akses produk lokal terhadap jejaring kemitraan, pasar, dan peluang pengembangan usaha yang lebih besar.
Program hilirisasi riset yang dijalankan UT membuktikan bahwa ilmu pengetahuan memiliki arti ketika mampu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat. Dari ruang kelas hingga desa, dari perhitungan HPP hingga inovasi kemasan, setiap proses pendampingan menjadi bagian dari ikhtiar membangun UMKM yang lebih tangguh. Semangat tersebut selaras dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menempatkan kolaborasi sebagai kunci menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.



