Tangerang Selatan – Mungkin lima tahun lalu, kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau menguasai bahasa asing sudah cukup menjadi bekal memasuki dunia kerja. Kini, ceritanya mulai berubah. Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) perlahan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin, sementara perusahaan semakin mencari talenta yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan bekerja berdampingan dengan teknologi.
Perubahan itu terjadi lebih cepat daripada yang dibayangkan. Bagi perguruan tinggi vokasi, tantangannya bukan lagi sekadar meluluskan mahasiswa, melainkan memastikan mereka tetap relevan ketika memasuki dunia kerja yang terus bergerak.
Kesadaran inilah yang mendorong Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) memperkuat kolaborasi dengan dunia industri. Melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) bersama PT Satu Visi Indocreative (B-One Corporation), yang dirangkaikan dengan pelatihan Artificial Intelligence (AI) dan Psikoedukasi Penguatan Resiliensi dan Kesejahteraan Diri Mahasiswa, UT menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi juga harus membangun kompetensi yang benar-benar dibutuhkan masa depan.


Kegiatan yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Kamis (9/7), tersebut dihadiri jajaran pimpinan Universitas Terbuka, B-One Corporation, Intel Indonesia, serta sekitar 100 mahasiswa Sekolah Vokasi yang mengikuti pelatihan secara luring.
MoA yang ditandatangani Direktur Sekolah Vokasi Universitas Terbuka Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A., dan Direktur Utama PT Satu Visi Indocreative Idham Fitriyadi itu merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah dibangun sebelumnya di tingkat universitas. Namun, nilai terbesarnya bukan terletak pada dokumen yang ditandatangani, melainkan pada berbagai program yang akan dijalankan setelahnya.
Melalui kerja sama tersebut, kedua belah pihak akan mengembangkan pembelajaran berbasis industri, mulai dari penyusunan kurikulum, kuliah pakar, kolaborasi mengajar, praktikum, penelitian bersama, publikasi ilmiah, hingga pengabdian kepada masyarakat. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan dinamika dunia kerja.
Direktur Sekolah Vokasi Universitas Terbuka, Mohamad Yunus, mengatakan bahwa lulusan vokasi harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan yang mungkin belum sepenuhnya terlihat hari ini.
“Mahasiswa hidup di masa kini, tetapi juga sedang mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Mereka bukan hanya mempelajari ilmu, tetapi harus mampu merespons dinamika yang terus berubah,” ujarnya.
Karena itu, menurut Yunus, penguatan kompetensi tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Bersama B-One Corporation dan Intel Indonesia, Sekolah Vokasi UT akan menghadirkan pelatihan secara berkala setiap semester. Bahkan, mahasiswa bidang teknologi informasi direncanakan memperoleh pelatihan lebih intensif karena perkembangan teknologinya berlangsung jauh lebih cepat.
Tak hanya itu, Sekolah Vokasi UT juga terus memperluas jejaring industri sebagai ruang belajar mahasiswa. Saat ini, sekitar 50 mitra nasional dan internasional telah bekerja sama dengan UT. Melalui jejaring tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan mengikuti magang, memperoleh pengalaman kerja nyata, bahkan mengeksplorasi peluang belajar di luar negeri. Sejalan dengan itu, Sekolah Vokasi UT juga tengah menyiapkan pembukaan Program Sarjana Terapan (D-IV) Mobil Listrik pada 2027.
“Kurikulum kami sekitar 60 hingga 70 persen berbasis praktik. Harapannya, lulusan vokasi benar-benar memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja,” kata Yunus.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis Universitas Terbuka, Dr. Hendrian, S.E., M.Si. Menurutnya, AI, otomasi, dan transformasi digital telah mengubah cara manusia belajar maupun bekerja. Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik.
“Mahasiswa juga harus memiliki keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas, serta ketangguhan menghadapi perubahan,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama tersebut melahirkan berbagai program konkret, seperti pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pembelajaran berbasis industri, pengembangan keterampilan AI, kuliah pakar, hingga penelitian terapan. Di sisi lain, Hendrian mengingatkan pentingnya menggunakan AI secara bijaksana dengan tetap mengedepankan etika, tanggung jawab, dan keamanan data.
Direktur Utama PT Satu Visi Indocreative, Idham Fitriyadi, menilai bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi investasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, mahasiswa akan memperoleh nilai tambah ketika pengalaman akademik diperkaya dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Komitmen itu langsung diwujudkan melalui pelatihan bertajuk AI & The Future of Talent: Navigating the Future, Bridging Talent Competencies with AI & Emerging Skills. Bersama Intel Indonesia, mahasiswa diajak melihat bagaimana AI telah menjadi bagian dari hampir seluruh sektor pekerjaan, mulai dari pendidikan, kesehatan, manufaktur, hingga industri kreatif. Mereka juga diperkenalkan pada pentingnya membangun kompetensi digital, memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, serta mengembangkan kemampuan upskilling dan reskilling agar tetap relevan di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Namun, kesiapan menghadapi masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi. Karena itu, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan Psikoedukasi Penguatan Resiliensi dan Kesejahteraan Diri Mahasiswa. Melalui sesi ini, mahasiswa diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan mental, mengelola tekanan, dan membangun daya lenting agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan yang semakin dinamis.

Pada akhirnya, masa depan dunia kerja mungkin akan terus berubah. Teknologi baru akan terus bermunculan, dan jenis-jenis pekerjaan baru akan terus lahir. Namun satu hal yang tetap dibutuhkan adalah manusia yang mau terus belajar, berani beradaptasi, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Melalui kolaborasi dengan industri, penguatan kompetensi AI, dan pembentukan resiliensi, Sekolah Vokasi UT berupaya memastikan lulusannya tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari pencipta solusi di dunia kerja masa depan.



