Dari ChatGPT hingga Nearpod, UT Latih Guru Fisika Tangsel Ciptakan Pembelajaran yang Lebih Interaktif

Fisika sering kali menjadi pelajaran yang membuat siswa menahan napas lebih dulu sebelum mencoba memahami. Bukan semata karena rumusnya, tetapi karena konsep-konsepnya kerap terasa jauh dari pengalaman sehari-hari. Di ruang kelas, tantangan guru fisika pun tidak lagi hanya menjelaskan materi dengan benar, tetapi juga membuat siswa merasa bahwa fisika bisa dipahami, disentuh, dan relevan dengan kehidupan mereka.

Di tengah tantangan itu, Artificial Intelligence (AI) mulai membuka kemungkinan baru. Teknologi ini tidak hadir untuk menggantikan guru, melainkan memperkuat peran guru dalam merancang pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan dekat dengan karakter siswa masa kini. Semangat inilah yang dibawa Universitas Terbuka (UT) melalui Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan Integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam Desain Media Pembelajaran Interaktif untuk Peningkatan Kompetensi Guru Fisika se-Kota Tangerang Selatan, Kamis (21/5).

Pelatihan yang dipimpin oleh Khoirotun Nadiyyah selaku ketua pelaksana ini menjadi kelanjutan dari kegiatan tahap pertama yang sebelumnya digelar secara daring. Jika pada tahap awal peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan AI dalam pembelajaran, maka pada tahap lanjutan ini para guru diajak masuk lebih jauh ke proses praktik: mengubah teknologi menjadi bahan ajar, aktivitas kelas, dan media pembelajaran yang dapat langsung digunakan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi, Layanan Jarak Jauh dan Alumni UT Paken Pandiangan, Ketua Prodi Pendidikan Fisika FKIP UT Widiasih, serta Ketua MGMP Fisika Kota Tangerang Selatan Eko Supariyono. Kehadiran unsur perguruan tinggi dan komunitas guru dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa transformasi pembelajaran tidak cukup hanya dibicarakan sebagai wacana, tetapi perlu diturunkan menjadi keterampilan nyata yang dapat diterapkan di sekolah.

Dalam pelatihan tersebut, para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. AI diposisikan sebagai peluang untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif, terutama dalam mata pelajaran fisika yang membutuhkan pendekatan visual, eksploratif, dan kontekstual agar lebih mudah dipahami siswa.

Rika Aprianti, dosen Prodi Pendidikan Fisika FKIP UT, menjadi narasumber yang memandu peserta dalam sesi materi sekaligus praktik simulasi pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran interaktif berbasis AI. Dalam sesi ini, guru tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung mencoba bagaimana teknologi dapat membantu mereka menyusun pembelajaran dari tahap perencanaan hingga evaluasi.

“Pelatihan disusun secara bertahap agar mudah diikuti peserta, dimulai dari teknik penyusunan prompt menggunakan ChatGPT untuk membantu menghasilkan ide pembelajaran, menyusun tujuan pembelajaran, membuat aktivitas belajar, hingga menyusun soal evaluasi sesuai materi fisika yang dipilih,” jelasnya.

Dari tahap penyusunan prompt, peserta kemudian diarahkan memanfaatkan NotebookLM untuk mengolah berbagai sumber referensi materi fisika dalam format PDF menjadi bahan ajar yang lebih sistematis dan terstruktur. Melalui proses ini, guru diajak melihat bahwa AI dapat menjadi alat bantu untuk merapikan alur materi, memperkaya sumber belajar, sekaligus mempercepat proses penyusunan perangkat pembelajaran tanpa menghilangkan peran pedagogis guru.

Setelah bahan ajar dikembangkan, peserta mempraktikkan integrasi materi ke dalam platform pembelajaran interaktif, yaitu Nearpod dan Lumio. Di tahap ini, materi fisika tidak lagi berhenti sebagai paparan satu arah, tetapi mulai diolah menjadi presentasi interaktif, kuis, aktivitas kolaboratif, hingga simulasi yang memungkinkan siswa terlibat lebih aktif dalam proses belajar.

“Pada sesi ini, guru belajar membuat presentasi interaktif, kuis, aktivitas kolaboratif, hingga simulasi pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar fisika di kelas,” tuturnya.

Antusiasme peserta tampak dari suasana praktik yang aktif dan hidup. Para guru saling berdiskusi, mencoba berbagai fitur, serta berbagi ide pengembangan media pembelajaran sesuai karakteristik materi yang mereka ajarkan di sekolah masing-masing. Dari proses tersebut, pelatihan ini tidak hanya memperkenalkan perangkat digital, tetapi juga membangun cara pandang baru bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk membuat pembelajaran fisika lebih dekat, partisipatif, dan bermakna bagi siswa.

Sebagai tindak lanjut, panitia memberikan penugasan kepada peserta untuk mengembangkan produk bahan ajar dan media pembelajaran interaktif. Khoirotun Nadiyyah menyampaikan, hasil karya para guru tersebut nantinya tidak berhenti sebagai tugas pelatihan, tetapi akan disimulasikan dalam kegiatan gelar karya pada akhir Juli 2026 di salah satu sekolah di Kota Tangerang Selatan.

“Produk bahan ajar dan media pembelajaran interaktif yang dikembangkan oleh peserta nantinya akan disimulasikan dalam kegiatan gelar karya pada akhir Juli 2026 di salah satu sekolah di Kota Tangsel,” terangnya.

Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Fisika FKIP UT berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru dapat terus terjalin untuk mendukung pembelajaran fisika yang lebih inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Lebih dari sekadar pelatihan penggunaan AI, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan dengan menempatkan guru sebagai aktor utama perubahan di ruang kelas.

Pada akhirnya, teknologi hanya akan benar-benar berdampak ketika berada di tangan pendidik yang memahami kebutuhan siswanya. Dari pelatihan ini, AI tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh dan rumit, tetapi sebagai alat yang dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran fisika yang lebih manusiawi, relevan, dan membuka ruang bagi siswa untuk belajar dengan cara yang lebih bermakna. Semangat ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.