Menginspirasi! Alumni UT Ini Turun ke Pantai Situbondo, Tanam Mangrove Demi Masa Depan

Pagi itu, suasana di pesisir Dusun Karangsari, Situbondo, mendadak berubah jadi lebih ramai dari biasanya. Puluhan warga dan pekerja Graha Panarukan Residence (GPR) kompak turun ke lumpur, menggulung celana, dan siap menanam dua ribu bibit mangrove. Bukan konten challenge, tapi aksi nyata yang vibes-nya positif: menyelamatkan pantai mereka dari ancaman abrasi. Energinya seru, ringan, dan terasa seperti gerakan anak muda yang makin paham kalau bumi butuh bantuan—dan itu dimulai dari aksi kecil yang konsisten.

Rabu (19/11), dua ribu bibit mangrove ditanam di kawasan perumahan Graha Panarukan Residence, Kecamatan Panarukan, Situbondo. Kegiatan ini dipimpin oleh Fathorrahman Abdul Muni Ismail, GM GPR, sosok yang lahir dari masyarakat dan juga merupakan seorang alumni Universitas Terbuka (UT)—kampus yang memberinya ruang belajar tanpa batas, yang kini ia terjemahkan menjadi aksi nyata.

“Ya ini merupakan kegiatan rutin kami. Kadang dilakukan menjelang musim hujan dan kadang digelar di saat tutup tahun. Tujuannya agar lingkungan di sini tumbuh lestari, hijau dan asri,” kata Fathor. Suaranya tenang, tapi ada getaran kepedulian yang tidak bisa disembunyikan.

Bagi Fathor, mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Mangrove adalah penjaga. Penahan gelombang. Pelindung tanah. Wujud kecil dari harapan besar. Karena itu, penanaman mangrove ini juga menjadi cara mereka mendukung program pemerintah dalam menjaga lingkungan pesisir Situbondo. “Ini direalisasikan untuk mewujudkan program pemerintah yakni menjaga lingkungan yang bersih dan lestari… menjaga kontur tanah yang kuat di kawasan pesisir Desa Kilensari,” ujarnya.

Yang membuat aksi ini semakin menyentuh adalah kehadiran warga. Orang tua, pemuda, anak-anak, semua berdiri dalam satu barisan yang sama. Mereka menancapkan bibit mangrove seolah sedang menanam masa depan mereka sendiri. “Kami sangat optimis… ancaman abrasi bisa dicegah. Saya berharap mangrove ini bisa dijaga bersama-sama,” kata Fathor.

Di balik keteguhan itu, ada jejak pendidikan yang membentuk cara Fathor memandang dunia. Sebagai alumni Universitas Terbuka, ia tumbuh dalam sistem belajar yang tidak membatasi siapa pun—sebuah prinsip yang membuatnya memahami bahwa perubahan tidak lahir dari mereka yang sempurna, tapi dari mereka yang mau bergerak. Pendidikan yang fleksibel di UT membuatnya bisa terus bekerja, belajar, dan akhirnya memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

Bagi UT, hadirnya alumni seperti Fathor adalah bukti kuat bahwa kampus ini bukan hanya membuka akses belajar, tetapi juga mencetak lulusan yang menyatukan ilmu dan kemanusiaan. Aksi lingkungan seperti ini memperlihatkan bagaimana UT memberi dampak nyata kepada daerah. Semakin banyak alumni yang turun ke masyarakat, semakin kuat posisi UT sebagai kampus yang bukan hanya mendidik, tapi menghidupkan harapan.

Kini, dua ribu bibit mangrove berdiri di tepi pantai Kilensari—kecil, rapuh, tapi penuh janji. Suatu hari mereka akan tumbuh tinggi, menjaga daratan, dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dan seperti mangrove yang perlu waktu untuk kuat, perubahan besar pun dimulai dari langkah kecil.

Di Situbondo, langkah itu sudah ditanam. Dan dari sana, harapan untuk bumi yang lebih hijau mulai tumbuh—pelan, tapi pasti.