Shanghai, China – 2 Juli 2024
Dalam sebuah pergelaran warisan budaya Indonesia, Universitas Terbuka (UT) mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) internasional di Shanghai Open University (SOU) pada hari Selasa, 2 Juli 2024. Acara ini merupakan bagian dari program SOU Visiting Student/Scholar, yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia yang kaya. Dalam era digital sekarang ini, memahami dan menghargai keragaman budaya menjadi sangat penting untuk memperkuat hubungan internasional. Melalui kegiatan ini, delegasi UT berharap dapat memperluas wawasan dan pengetahuan para peserta mengenai keanekaragaman budaya Indonesia.
Delegasi UT yang dipimpin oleh Astri Dwi Jayanti S., M.Ed., Ph.D., seorang dosen dari program Magister Pendidikan Dasar di Sekolah Pascasarjana UT, Mahasiswa yang terlibat diantaranya Kevinanda Eka Putra (Mahasiswa program studi Perencanaan Wilayah Kota), Putri Anggraeni (Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris), Nurul Putri Ananda (Mahasiswa Program Studi Manajemen), Vanessa Eren – Fhisip (Mahasiswa Program Studi Komunikasi), Dea Ayuni Nadzira (Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum). Mereka semua memiliki latar belakang yang beragam dan membawa keunikan masing-masing dalam menyajikan kekayaan budaya Indonesia.
Bertemakan “Indonesian Culture Talent Show,” acara ini dimulai dengan pengenalan Indonesia, sebuah negara yang terkenal dengan ribuan pulau dan daerah yang dihuni oleh ratusan etnis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman inilah yang menjadi dasar kekayaan budaya Indonesia. Dalam presentasinya, delegasi UT menjelaskan tentang berbagai suku, bahasa, dan tradisi yang ada di Indonesia, menggambarkan betapa kayanya warisan budaya yang dimiliki oleh negara ini. Pengenalan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai Indonesia dan menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya.
Untuk menunjukkan persatuan yang melekat dalam budaya Indonesia, pertunjukan pertama dimulai dengan menyanyikan lagu “Tanah Air” oleh Dea Ayuni Nadzira dengan penuh perasaan di depan para mahasiswa dan dosen internasional yang hadir dalam acara tersebut. Lagu “Tanah Air” yang diciptakan oleh komponis legendaris Indonesia, menggambarkan rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air. Lagu ini tidak hanya sekadar mengajak pendengar untuk mengingat keindahan alam Indonesia, tetapi juga membangkitkan semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Dalam penampilan ini, Dea Ayuni Nadzira menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan, diiringi dengan alunan musik yang menambah nuansa khidmat dan menyentuh hati. Lagu ini dipilih karena liriknya yang penuh makna dan mampu menggugah perasaan cinta tanah air di hati para pendengar, menciptakan suasana yang emosional dan mengharukan.

Pertunjukan kedua menampilkan peragaan busana dari Sulawesi Selatan oleh Astri Dwi Jayanti S., M.Ed., Ph.D. Baju Bodo, pakaian tradisional dari daerah tersebut, ditampilkan bersama dengan penjelasan mengenai makanan khas, tarian tradisional, aktivitas budaya, dan rumah adat dari Sulawesi Selatan. Baju Bodo yang berwarna cerah dan elegan mencerminkan keanggunan dan kebanggaan budaya Sulawesi Selatan, sementara penjelasan yang menyertainya memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan tradisi masyarakat setempat. Dalam penjelasan tersebut, disampaikan pula bahwa Baju Bodo adalah salah satu busana tertua di dunia yang masih digunakan, mencerminkan nilai-nilai luhur dan kebanggaan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Selanjutnya, Nurul Putri Ananda mempraktikkan seni bela diri tradisional Indonesia yang bernama Pencak Silat. Dengan gerakan yang lincah dan penuh kekuatan, Nurul menunjukkan keindahan dan ketangkasan Pencak Silat, yang tidak hanya merupakan seni bela diri tetapi juga bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Demonstrasi ini tidak hanya menunjukkan teknik bela diri, tetapi juga mengandung filosofi hidup yang mendalam, yang diajarkan dari generasi ke generasi.

Kevinanda Eka Putra dan Putri Anggraeni Kevin kemudian memperagakan Randai, sebuah seni pertunjukan tradisional dari Sumatra Barat. Randai menggabungkan elemen cerita, musik, tarian, dan seni bela diri dalam satu pertunjukan yang harmonis. Pertunjukan Randai yang mereka tampilkan menceritakan kisah-kisah rakyat dengan cara yang interaktif dan dinamis, mencerminkan kekayaan dan keragaman budaya Sumatra Barat. Dengan menggunakan pakaian tradisional, mereka membawa audiens dalam perjalanan yang penuh warna melalui budaya Minangkabau. Kevin dan Putri juga menjelaskan teknik-teknik khusus dalam Randai, seperti gerakan silat yang diintegrasikan ke dalam tarian, dan peran penting musik dalam mengatur ritme dan emosi dalam cerita. Penonton diajak untuk terlibat dalam pertunjukan dengan cara yang menyenangkan dan mendidik, menyoroti betapa pentingnya kolaborasi dan keterlibatan dalam menjaga dan melestarikan budaya tradisional.

Setiap penyajian pertunjukan dipandu oleh Vanessa Eren sebagai moderator yang menjelaskan secara naratif serta didukung dengan tayangan slide PPT. Ia memberikan konteks dan penjelasan tambahan yang membantu audiens internasional memahami makna dan latar belakang setiap pertunjukan, memperkaya pengalaman budaya yang disajikan. Moderator ini juga memfasilitasi sesi tanya jawab yang interaktif, memungkinkan audiens untuk menggali lebih dalam tentang budaya Indonesia dan bertanya langsung kepada para penampil.
Acara di Shanghai Open University ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan dosen UT untuk berbagi warisan budaya mereka, tetapi juga mempererat pemahaman dan apresiasi budaya di antara audiens internasional. Acara ini menekankan pentingnya pertukaran budaya dalam membangun hubungan global dan meningkatkan pengalaman pendidikan.



