ICE Institute Raih Penghargaan pada 2025 IIOE Higher Education Digitalisation Pioneer Case Award!

Singapura, 1 September 2025 – Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) kembali menorehkan prestasi internasional dengan meraih penghargaan pada ajang 2025 IIOE Higher Education Digitalisation Pioneer Case Award Ceremony, di bawah koordinasi UNESCO International Centre for Higher Education Innovation atau UNESCO ICHEI. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 1 September di Marina Bay Sands Expo and Convention Center Singapura sebagai bagian dari Global Green Development and Healthy Lifestyle Summit yang disponsori oleh Grup BGI.

ICE Institute berhasil meraih penghargaan pada kategori 1 yaitu “Developing Digital and AI Competencies through IIOE Micro-Certification”, dengan judul karya Integrating National Level Micro-Credentials and Certified Independent Study by the IIOE Indonesia National Centre. ICE Institute telah berhasil menjadi sebuah platform yang mengintegrasikan MOOC dengan strategi pendidikan nasional untuk memberikan mata kuliah daring yang terbuka secara masif dan memberikan pelatihan yang bersertifikasi micro-credential. Sampai dengan saat ini, terdapat sebanyak 420 pengajar yang telah menyelesaikan pelatihan, 191 peserta telah mendapatkan micro-certification, dan lebih dari 7.000 peserta telah terfasilitasi pembelajaran daring.

Penghargaan ini menjadi pengakuan penting atas komitmen ICE Institute dalam mendorong transformasi pendidikan digital serta pengembangan kompetensi kecerdasan buatan (AI) bagi mahasiswa dan tenaga profesional di Indonesia.

ICE Institute diwakili langsung di Singapura oleh Dr. Vivi Indra Amelia Nst, S.I.P., M.A., Certification and Partnership Manager of ICE Institute, serta Prof. Dr. Paulina Pannen, MLS., Senior Advisor of ICE Institute. Kehadiran Tim ICE Institute menegaskan pentingnya micro-credential sebagai jembatan menuju kompetensi masa depan dalam menghadapi era kerja berbasis digital dan AI.

Turut memberikan sambutan secara daring, Dra. Rahayu Dwi Riyanti, M.A., Direktur ICE Institute, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya:

Penghargaan ini adalah momen yang membanggakan, bukan hanya bagi ICE Institute tetapi juga bagi ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa upaya kolaboratif kita dalam mengintegrasikan micro-credential di tingkat nasional mendapat pengakuan global. Kami berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa, pendidik, dan institusi agar mampu memperoleh kompetensi digital dan AI berkelas dunia.”

Pioneer Case Award yang didukung oleh BGI Group tahun ini mengusung tema “IIOE Ecosystem-Driven Promising Practices: Empowering Workforce, Innovation, and Collaboration.”

Kasus-kasus terpilih ini merupakan representasi dari inisiatif terdepan di kawasan Global South yang berfokus pada pemberdayaan pengajar, inovasi kurikulum, dan penguatan infrastruktur digital. Praktik-praktik ini tidak hanya menjadi model aksi yang nyata bagi para pelaku pendidikan tinggi global, tetapi juga menjadi sumber referensi dan pengalaman yang dapat diadaptasi lebih luas demi menciptakan pendidikan tinggi yang lebih bermutu dan merata.

Pencapaian ICE Institute ini memperkuat peran Indonesia dalam memimpin inovasi pembelajaran digital, sekaligus mendukung inisiatif global UNESCO-ICHEI dalam mewujudkan pemberdayaan pengajar, inovasi kurikulum, dan penguatan infrastruktur digital. Praktik-praktik ini tidak hanya menjadi model aksi yang nyata bagi para pelaku pendidikan tinggi global, tetapi juga menjadi sumber referensi dan pengalaman yang dapat diadaptasi lebih luas demi menciptakan pendidikan tinggi yang lebih bermutu dan merata.

Penghargaan ini sejalan dengan komitmen Indonesia pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya: 1) SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) – Dengan menyediakan akses micro-credential berbasis digital dan AI, ICE Institute berkontribusi pada peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan sivitas akademika melalui pembelajaran fleksibel yang mendukung work-life balance; 2) SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) – ICE Institute memperluas akses pembelajaran digital yang inklusif dan setara bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga profesional, sehingga meningkatkan keterampilan abad ke-21; 3) SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (Industry, Innovation and Infrastructure) – Platform ICE Institute memperkuat ekosistem inovasi pendidikan digital nasional dan memajukan infrastruktur teknologi pendidikan berbasis AI, 4) SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions) – Inisiatif ini memperkuat tata kelola pendidikan tinggi yang transparan, akuntabel, dan adaptif, sekaligus mendukung keadilan akses bagi semua lapisan masyarakat, dan 5) SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) – ICE Institute merupakan hasil kolaborasi multipihak antara perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra global (UNESCO-ICHEI), sehingga memperlihatkan pentingnya kemitraan strategis untuk mempercepat pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan.

Pencapaian ICE Institute ini memperkuat peran Indonesia dalam memimpin inovasi pembelajaran digital, sekaligus mendukung inisiatif global UNESCO-ICHEI dalam mewujudkan pemberdayaan digital, inovasi, dan kolaborasi di bidang pendidikan tinggi. Tidak hanya itu, melainkan juga kemenangan Indonesia dalam membuktikan bahwa bangsa ini siap menjadi pemain utama dalam transformasi pendidikan digital di kancah global.