Pagi di Kota Serang, suasana Aula Salimah Center di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, tampak lebih hidup dari biasanya pada Minggu (17/5/2026). Di ruangan itu, puluhan peserta dari berbagai komunitas, sekolah, hingga perkantoran berkumpul dalam satu tujuan yang sama: belajar mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Kegiatan bertajuk “Pengelolaan Bank Sampah Berbasis Ekonomi Kreatif dan Ramah Lingkungan di Kota Serang” ini menjadi ruang pertemuan ide, praktik, dan harapan baru, yang digelar melalui kolaborasi Universitas Terbuka (UT) bersama Yayasan Karisma Creativa (YKC).
Sejak awal kegiatan dimulai, suasana terasa akrab dan penuh antusias. Para peserta tidak hanya datang sebagai pendengar, tetapi juga sebagai bagian dari perubahan yang sedang dibangun. Ketua Yayasan Karisma Creativa, Fitri Normasari, membuka gambaran besar kegiatan ini: bagaimana sampah rumah tangga yang sering dianggap masalah, ternyata bisa menjadi sumber ekonomi baru jika dikelola dengan benar. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang melibatkan Universitas Terbuka. “Hari ini kami mengumpulkan teman-teman dari berbagai komunitas dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat kerja sama Universitas Terbuka melalui program Pemberdayaan Kepada Masyarakat (PKM) bersama Yayasan Karisma Creativa,” ujarnya.
Dari sini, alur kegiatan mulai mengalir ke hal yang lebih dekat dengan keseharian warga. Peserta diajak membayangkan dapur rumah mereka sendiri: sisa sayur, plastik kemasan, hingga barang bekas yang selama ini langsung dibuang. Ternyata, semua itu bisa dipilah, diolah, bahkan dijual kembali dalam bentuk baru yang lebih bermanfaat. Tidak berhenti di situ, mereka juga dikenalkan pada konsep pemasaran berbasis media online agar produk dari bank sampah bisa menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan sekitar.
Fitri kemudian menjelaskan perubahan cara pandang yang ingin dibangun melalui kegiatan ini. “Dari memilah sampah rumah tangga, menjadi produk yang lebih sustainable dan zero waste. Produk lanjutan bisa dibuat menjadi barang yang menambah penghasilan. Seperti sampah dapur yang diolah menjadi kompos, galon sekali pakai yg dihias menjadi pot tanaman,” jelasnya. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada pembuatan kompos untuk tanaman sehat tanpa pestisida serta budidaya microgreen sebagai langkah sederhana menuju ketahanan pangan keluarga.
Di tengah sesi, diskusi menjadi lebih serius ketika persoalan sampah dibawa ke konteks yang lebih luas. Ketua TP PKK Kabupaten Serang sekaligus istri Wakil Bupati Serang, Tifa Hensifa Najib, mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan lagi hal kecil yang bisa diabaikan. Ia melihat langsung bagaimana peningkatan jumlah penduduk ikut menaikkan volume sampah setiap harinya. “Terkadang kita menganggap sampah itu masalah sepele, padahal jika tidak dikelola dengan baik dampaknya sangat besar,” ungkapnya.
Dari situ, Tifa mengajak masyarakat kembali pada kebiasaan sederhana yang berdampak besar, seperti reduce, reuse, recycle (3R). Membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumbler, hingga mengurangi plastik sekali pakai, menurutnya adalah langkah kecil yang jika dilakukan bersama akan memberi dampak besar bagi lingkungan. Pesan ini sekaligus sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam menciptakan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Cerita kemudian berlanjut pada komitmen jangka panjang Universitas Terbuka dalam mendampingi masyarakat. Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen UT sekaligus Pendamping UKM bersertifikasi BNSP, Dr Julia Safitri, menjelaskan bahwa kerja sama dengan YKC sudah berjalan empat tahun. Tahun ini, fokusnya semakin konkret: bukan hanya memberi pelatihan, tetapi juga pendampingan langsung hingga penyediaan alat pengelolaan sampah. “Tahun ini kami fokus membantu masyarakat di bidang pengelolaan sampah melalui edukasi, pendampingan, pelatihan, hingga pemberian alat penunjang bank sampah,” jelasnya.
Julia juga menekankan bahwa manfaat pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada uang tambahan dari hasil daur ulang, tetapi juga pada kesehatan lingkungan. Rumah yang bersih dan sistem pengelolaan sampah yang baik akan menurunkan risiko penyakit yang berasal dari penumpukan sampah. “Kita tahu sampah adalah risiko yang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa diminimalisir. Jika lingkungan rumah bersih dan sampah terkelola dengan baik, maka risiko penyakit juga bisa ditekan,” katanya.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada edukasi. Peserta juga menerima “Grow and Green Kit” berisi bibit tanaman, pupuk, dan perlengkapan pendukung untuk mulai mempraktikkan langsung di rumah masing-masing. Salah satu peserta, Wijilastuti dari PD Salimah Kota Serang, mengaku kegiatan ini sangat dekat dengan aktivitas yang sudah ia jalankan. Ia menyebut di lingkungannya telah berjalan Bank Sampah Bumi Pijar Madani dengan prinsip “Sampahmu Berkahmu”, termasuk pengolahan organik dan budidaya maggot.
“Di tempat kami ada Bank Sampah Bumi Pijar Madani. Prinsip kami adalah ‘Sampahmu Berkahmu’. Pengelolaan sampah organik dan anorganik sudah berjalan, bahkan sudah ada budidaya maggot,” paparnya.
Di akhir kegiatan, satu pesan terasa menguat: perubahan besar bisa dimulai dari rumah, dari satu keputusan kecil untuk tidak lagi melihat sampah sebagai akhir, tetapi sebagai awal. Melalui kolaborasi Universitas Terbuka dan berbagai mitra masyarakat, gerakan ini perlahan membentuk ekosistem baru yang tidak hanya peduli lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memperkuat ketahanan komunitas. Di titik inilah, bank sampah bukan sekadar program, tetapi gerakan bersama menuju kehidupan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.



