Bisa Kuliah Sambil Kerja demi Masa Depan, Simak Cerita Mahasiswa UT Labuan Bajo yang Bebas Kuliah Anti-Ribet

Tangerang Selatan, 22 Juni 2026 – Bagaimana sebuah perguruan tinggi mampu menyelenggarakan ujian secara serentak di berbagai pelosok wilayah kepulauan? Jawabannya terletak pada kekuatan ekosistem digital dan jaringan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang tersebar luas, yang memungkinkan Universitas Terbuka (UT) meruntuhkan batasan geografis demi menyediakan akses pendidikan tinggi berkualitas bagi semua kalangan.

Melalui sistem yang adaptif tersebut, SALUT Labuan Bajo sukses mendampingi pelaksanaan Ujian Tatap Muka (UTM) dan Ujian Online masa registrasi 2026.1 yang diselenggarakan oleh UT Kupang. Kegiatan akademik penentu kelulusan semester genap ini digelar selama dua hari, Sabtu (20/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026), bertempat di SMA Negeri 1 Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebanyak kurang lebih 396 mahasiswa dari berbagai program studi memadati lokasi ujian. Para peserta datang dari sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai Barat dan daerah sekitarnya demi mengikuti ujian sebagai bagian dari proses akademik semester berjalan.

Langkah inklusif yang dihadirkan oleh UT ini secara natural berkelindan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDGs Nomor 4 terkait Pendidikan Berkualitas yang menjamin kesempatan belajar inklusif, merata, dan fleksibel bagi semua kalangan tanpa perlu terhambat sekat ruang dan waktu.

Kepala SALUT Labuan Bajo, Suryadin, S.Sos, menjelaskan bahwa tingginya jumlah peserta menjadi bukti nyata bahwa minat masyarakat di Manggarai Barat untuk melanjutkan pendidikan tinggi terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurutnya, UT hadir sebagai jembatan bagi mereka yang ingin berkembang tanpa harus mengorbankan mata pencaharian.

“Universitas Terbuka hadir sebagai solusi bagi masyarakat yang ingin kuliah sambil bekerja. Banyak mahasiswa kami berasal dari kalangan ASN, perangkat desa, guru, karyawan swasta, hingga pelaku usaha,” ujar Suryadin yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan Magister Administrasi Publik (S2).

Guna memastikan kenyamanan dan integritas akademik, proses ujian dikawal ketat oleh tenaga pengawas dari SMA Negeri 1 Komodo serta tim pengawas dari UT Kupang. Pelayanan berlapis ini memastikan standar kejujuran tetap dijunjung tinggi di tengah fleksibilitas sistem yang ditawarkan.

Apresiasi terhadap kemudahan sistem ini mengalir langsung dari para peserta. Mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan, Dinda Karlina, mengaku senang dengan pelayanan yang diberikan SALUT Labuan Bajo selama menjalani proses perkuliahan.

“Semua proses bisa diakses secara fleksibel dan pelayanan dari SALUT Labuan Bajo juga sangat baik. Suasana ujian sangat kondusif sehingga kami bisa fokus mengerjakan soal,” ungkap Dinda.

Senada dengan Dinda, mahasiswa senior UT, Feri Adu, menekankan bagaimana kehadiran UT berhasil mematahkan stereotip lama bahwa kuliah harus selalu merantau ke kota besar dengan biaya selangit.

“Sekarang dengan adanya Universitas Terbuka dan SALUT Labuan Bajo, masyarakat bisa tetap kuliah dari daerah sendiri dengan sistem yang lebih fleksibel. Pendidikan adalah jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup,” tegas Feri.

Melalui keberhasilan ujian di ujung barat Pulau Flores ini, UT kembali mempertegas posisinya sebagai pionir pendidikan jarak jauh yang adaptif. Ketika pendidikan bermutu tinggi dapat diakses dari mana saja, pencetakan sumber daya manusia unggul demi kemajuan daerah bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang berjalan.